Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
BELAKANGAN ini media sosial ramai dengan berbagai konten tentang guru dan pendidikan. Ada video yang mengingatkan orang tua agar tidak terlalu mudah menuntut guru menjadi sosok sempurna. Ada pula unggahan yang mengenang guru zaman dahulu yang dikenal tegas, bahkan keras, namun dianggap berhasil membentuk karakter murid.
Di sisi lain, tidak sedikit pula unggahan yang menegaskan bahwa mendidik akhlak adalah tugas utama orang tua, sedangkan sekolah bertugas melanjutkan dan menguatkannya. Berbagai narasi tersebut sebenarnya bertemu pada satu titik yang sama: pendidikan karakter tidak mungkin berhasil jika seluruh beban diletakkan di pundak guru.
Fenomena ini menarik untuk direnungkan, terutama di tengah semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan pembentukan karakter sebagai salah satu tujuan utama pendidikan. Pertanyaannya, apakah sekolah dapat membentuk karakter anak secara optimal jika fondasi yang dibangun di rumah kurang kuat?
Rumah, Tempat Karakter Pertama Kali Dibentuk
Masih ada sebagian masyarakat yang memandang sekolah layaknya “pabrik pendidikan”. Anak masuk dalam kondisi apa pun, lalu diharapkan keluar menjadi pribadi yang santun, disiplin, rajin, dan berprestasi. Harapan tersebut tentu tidak salah. Namun, akan menjadi persoalan ketika sekolah dianggap sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan karakter seorang anak.
Faktanya, seorang anak menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dibandingkan bersama guru. Dalam sehari, guru mungkin berinteraksi dengan siswa sekitar enam hingga delapan jam. Selebihnya, anak berada di lingkungan rumah dan masyarakat. Karena itu, kebiasaan yang ditanamkan di rumah memiliki pengaruh yang sangat besar.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua terbiasa berbicara dengan sopan, anak akan meniru kesopanan tersebut. Jika orang tua menghargai orang lain, anak akan belajar menghargai. Sebaliknya, jika di rumah anak terbiasa melihat pertengkaran, kemarahan, atau sikap tidak disiplin, sekolah membutuhkan usaha yang jauh lebih besar untuk membangun karakter yang baik.
Dalam dunia pendidikan dikenal istilah modeling atau keteladanan. Anak adalah peniru ulung. Mereka lebih cepat mencontoh perilaku dibandingkan mendengarkan ceramah panjang. Karena itulah rumah sering disebut sebagai sekolah pertama dan orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya.
Sekolah Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Kurikulum Merdeka membawa semangat yang baik. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada nilai akademik, tetapi juga pada penguatan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila. Guru didorong menjadi fasilitator yang mampu membimbing siswa agar memiliki sikap beriman, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong, dan berkebinekaan global.
Namun, sebaik apa pun kurikulumnya, keberhasilannya tetap membutuhkan dukungan dari keluarga. Ibarat seorang petani, guru dapat mengolah tanah, memberi pupuk, dan merawat tanaman. Akan tetapi, jika benih yang ditanam tidak pernah disiram di rumah atau terus-menerus terkena gangguan dari lingkungan sekitar, hasilnya tentu tidak akan maksimal.
Di lapangan, banyak guru menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mereka tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga harus membantu siswa mengelola emosi, membangun disiplin, menyelesaikan konflik antarteman, hingga menanamkan kebiasaan baik yang seharusnya sudah mulai dibentuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Ketika semua tugas tersebut dibebankan sepenuhnya kepada sekolah, guru sering kali berada dalam posisi yang sulit. Mereka dituntut menghasilkan perubahan besar dalam waktu singkat, padahal pendidikan karakter adalah proses panjang yang memerlukan konsistensi dari berbagai pihak.
Unggahan tentang kerasnya guru dulu hampir selalu mendapat banyak respons. Banyak orang mengenang pernah dipukul penggaris, dicubit, atau dihukum berdiri di depan kelas. Menariknya, sebagian dari mereka justru mengaku tetap menghormati gurunya hingga sekarang.
Tentu kita tidak sedang merindukan kekerasan di sekolah. Dunia pendidikan saat ini telah berkembang. Hak anak harus dihormati dan segala bentuk kekerasan tidak dapat dibenarkan.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan ketika membandingkan masa lalu dan masa kini, yaitu adanya kesamaan sikap antara rumah dan sekolah. Dahulu, banyak orang tua dan guru berada pada frekuensi yang sama dalam mendidik anak. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua cenderung mendukung proses pembinaan yang dilakukan sekolah.
Hari ini situasinya lebih kompleks. Guru dituntut mengedepankan pendekatan yang humanis dan dialogis, sesuatu yang memang penting dalam pendidikan modern. Akan tetapi, pada saat yang sama, sebagian anak datang ke sekolah tanpa kebiasaan disiplin yang cukup kuat dari rumah.
Akibatnya, sekolah sering menghadapi pekerjaan ganda, yakni mengajarkan pelajaran sekaligus membangun kebiasaan dasar yang semestinya sudah mulai terbentuk dalam keluarga. Karena itu, membandingkan hasil pendidikan dulu dan sekarang tanpa melihat perubahan konteks sosial sering kali tidak adil.
Pendidikan Karakter adalah Gerakan Bersama
Di tengah berbagai tuntutan yang harus dihadapi, ada satu hal sederhana yang ternyata sangat berarti bagi seorang guru. Bukan hadiah mahal dan bukan pula pujian berlebihan, melainkan kalimat sederhana, “Terima kasih, Bapak dan Ibu Guru, sudah sabar mendidik anak kami.”
Kalimat ini mungkin terdengar biasa. Namun, bagi banyak guru, penghargaan seperti itu memiliki makna yang mendalam. Guru juga manusia. Mereka memiliki keluarga, persoalan pribadi, dan kelelahan yang kadang tidak terlihat. Ketika usaha mereka dihargai, semangat untuk terus mendampingi siswa akan tumbuh kembali.
Hubungan antara orang tua dan guru seharusnya tidak dibangun dalam suasana saling menuntut, melainkan saling menguatkan. Ketika anak mengalami masalah, yang dibutuhkan bukan mencari siapa yang salah, tetapi mencari solusi bersama.
Pendidikan yang berhasil tidak lahir dari sekolah yang hebat saja. Pendidikan yang berhasil lahir dari kerja sama yang sehat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Rumah menanamkan nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, dan kasih sayang. Sekolah mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta memperkuat karakter yang telah ditanamkan keluarga. Masyarakat menyediakan lingkungan yang mendukung agar nilai-nilai tersebut dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika ketiga unsur ini berjalan seiring, peluang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang baik akan jauh lebih besar. Sebaliknya, jika salah satu unsur berjalan sendiri-sendiri, hasilnya tidak akan optimal.
Di era Kurikulum Merdeka, pendidikan karakter bukanlah proyek sekolah semata. Ia adalah pekerjaan bersama yang membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan komunikasi yang baik antara rumah dan sekolah. Karena itu, sebelum menuntut guru menjadi sosok yang sempurna, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu: sudahkah rumah menjadi sekolah pertama yang baik bagi anak-anak kita?
Guru tidak dapat menggantikan peran orang tua. Namun, guru dapat menjadi mitra terbaik dalam melanjutkan pendidikan yang telah dimulai di rumah. Jika rumah menanamkan akar yang kuat, sekolah akan lebih mudah membantu anak bertumbuh menjadi pohon yang kokoh.
Ketika orang tua dan guru berjalan beriringan, pendidikan tidak lagi menjadi arena saling menyalahkan, melainkan gerakan bersama untuk menyiapkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.(*)