*Prof. (HC) Dimas Indianto S: Jangan Apa-apa Dianggap Syirik

Foto bersama peserta dna nara sumber dalam Talkshow “Cah Enom Seneng Budaya” yang digelar dalam rangka Banjarnegara Innovation and Culture Fest di Amphitheater Balai Budaya Banjarnegara, Sabtu (21/6/2026).
BANJARNEGARA, EDUKATOR–Kesalahpahaman dalam memaknai budaya dinilai menjadi salah satu penyebab generasi muda semakin menjauh dari warisan budaya bangsa. Berbagai unsur budaya kerap dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau dipandang sebagai praktik yang tidak relevan dengan kehidupan modern. Akibatnya, banyak anak muda enggan mengenal, memahami, dan mencintai budaya yang sesungguhnya menyimpan nilai luhur bagi kehidupan masyarakat.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Talkshow “Cah Enom Seneng Budaya” yang digelar dalam rangka Banjarnegara Innovation and Culture Fest di Amphitheater Balai Budaya Banjarnegara, Sabtu (21/6/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Prof. (HC) Dimas Indianto Sastronagoro, dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN Saizu), dan Heni Purwono, S.Pd, M.Pd guru sejarah SMAN 1 Sigaluh, sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara.
Budaya Kerap Disalahpahami
Dalam paparannya, Prof. (HC) Dimas Indianto Sastronagoro menilai sejumlah tradisi budaya sering mendapat stigma negatif karena dianggap identik dengan kesyirikan.
Prof. (HC) Dimas Indianto Sastronagoro di hadapan peserta Talkshow “Cah Enom Seneng Budaya”.
Menurutnya, pandangan tersebut muncul akibat kurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna filosofis yang terkandung dalam berbagai tradisi budaya.
Sesaji Simbol Rasa Syukur kepada Allah
Ia mencontohkan, sesaji yang selama ini kerap dipandang negatif. Padahal, sesaji dapat dimaknai sebagai simbol rasa syukur kepada Allah yang diwujudkan melalui kebersamaan, doa, dan berbagai bentuk tradisi masyarakat.
“Jangan apa-apa dianggap syirik. Yang terpenting adalah niat dan pemaknaannya,” ujar Dimas.
Menurut Dimas, benda budaya seperti keris juga sering disalahpahami. Padahal, keris merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan pengetahuan yang dapat dipelajari secara rasional.
Ia menambahkan, masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki tradisi berpikir yang dekat dengan pendekatan ilmiah. Karena itu, berbagai praktik budaya perlu dipahami secara utuh agar tidak mudah menimbulkan kesalahpahaman.
Generasi Muda Perlu Ruang Berkreasi
Senada dengan Dimas, Heni Purwono menegaskan bahwa budaya bersifat dinamis dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Karena itu, generasi muda tidak perlu dipaksa mengekspresikan kecintaannya terhadap budaya dengan cara yang sama seperti generasi terdahulu.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak harus identik dengan penggunaan pakaian tradisional atau meniru seluruh kebiasaan masa lalu secara utuh. Yang lebih penting adalah tumbuhnya pemahaman, rasa memiliki, dan kebanggaan terhadap budaya.
“Biarkan Gen Z menerjemahkan kecintaannya terhadap budaya dengan cara mereka sendiri. Yang penting nilai dan pemahamannya tetap hidup,” kata Heni.
Heni menjelaskan, Gen Z merupakan generasi yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012 dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital. Karena itu, mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam mengapresiasi budaya. Perpaduan unsur tradisional dan modern, seperti mengenakan batik dengan celana jeans atau sepatu sneaker, menurutnya merupakan bentuk adaptasi budaya yang wajar.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak ditentukan oleh penampilan semata, melainkan oleh pemahaman dan kecintaan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Cagar Budaya Jadi Aset Masa Depan
Selain menyoroti peran generasi muda, Heni juga mengingatkan pentingnya menjaga kekayaan cagar budaya yang dimiliki Banjarnegara. Menurutnya, daerah ini memiliki warisan budaya yang lengkap dan beragam, mulai dari peninggalan era Hindu-Buddha, Islam, kolonial hingga masa kontemporer.
Kawasan Dieng, kata dia, menyimpan puluhan hingga ratusan struktur dan benda cagar budaya yang bernilai tinggi. Sementara itu, Klampok memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kawasan cagar budaya yang dapat mendukung sektor pariwisata.
“Kalau dijaga dan dilestarikan dengan baik, cagar budaya akan menjadi energi terbarukan bagi pariwisata masa depan dan memberi manfaat bagi generasi muda,” ujarnya.
Ada 300 Kelompok Kuda Kepang
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, H. Tursiman, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya memajukan sektor kebudayaan meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan aplikasi Dikdaya untuk mendata berbagai potensi budaya yang ada di Banjarnegara. Ia menyebutkan, kesenian kuda kepang saja memiliki lebih dari 300 kelompok yang saat ini mendapat pembinaan.
“Ini merupakan potensi budaya yang luar biasa dan harus terus dikembangkan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudpar Banjarnegara, Kuat Herry Istanto, mengatakan pihaknya bersama para pelaku budaya akan menggelar pertemuan rutin setiap Sabtu Kliwon guna memperkuat jejaring dan aktivitas kebudayaan di daerah.
Selain itu, Balai Budaya yang kini berada di bawah pengelolaan Dinbudpar akan dioptimalkan sebagai pusat kegiatan seni dan budaya.
“Balai Budaya akan kami hidupkan agar kegiatan kebudayaan semakin marak dan menjadi ruang kreatif bagi masyarakat,” ujar Kuat. (Heni Purwono/Prs)