
BANJARNEGARA, EDUKATOR–Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) menggelar webinar internasional bertajuk 100 Year D&B Locomotive of PG Sumberharjo pada Minggu (21/6/2026). Kegiatan ini membahas sejarah lokomotif kuno berusia sekitar satu abad yang pernah beroperasi di Pabrik Gula (PG) Klampok, Banjarnegara, sebelum akhirnya dibawa ke Belanda untuk direstorasi dan dilestarikan.
Webinar menghadirkan narasumber dari Belanda, Gerrard de Graaf, pakar, kolektor, dan peneliti sejarah perkeretaapian yang menaruh perhatian besar pada jalur kereta api tambang era Hindia Belanda.
Ia juga merupakan perwakilan The Nederlands Smalspoor Museum yang pernah bekerja sama dengan PT KAI (Persero) serta penulis buku De Indische Mijnspoorwegen, yang mengulas sejarah kereta api tambang di Hindia Belanda.
Dalam paparannya, Gerrard menjelaskan bahwa lokomotif yang kini bernama resmi Soemberhardjo Nomor 09 memiliki keterkaitan erat dengan Banjarnegara. Sebelum beroperasi di PG Sumberharjo, Pemalang, lokomotif tersebut lebih dahulu digunakan di PG Klampok.
Jejak Lokomotif Berawal dari Klampok
Berdasarkan catatan sejarah yang ditelusuri komunitas pelestari lokomotif di Belanda, Lokomotif Du Croo & Brauns Nomor 09 diproduksi pada tahun 1925, dan pertama kali dikirim ke Pabrik Gula Klampok, Banjarnegara. Setelah bertahun-tahun beroperasi di sana, lokomotif tersebut kemudian dipindahkan ke PG Sumberharjo di Pemalang.
Data dari komunitas Stoomtrein Katwijk Leiden menyebutkan lokomotif dengan nomor pabrik 81 itu dikirim ke Suikerfabriek Klampok pada 1925. Hingga kini belum ditemukan arsip resmi yang menjelaskan kapan tepatnya lokomotif tersebut dipindahkan ke PG Sumberharjo.
Temuan tersebut memperkuat posisi Klampok sebagai salah satu bagian penting dalam sejarah perkeretaapian industri gula di Indonesia.
Pabrik Gula Klampok, Saksi Kejayaan Industri Gula
Pabrik Gula Klampok atau Suikerfabriek Poerwaredja Klampok merupakan salah satu pabrik gula penting pada masa kolonial Belanda. Pabrik yang berdiri pada 1889 itu berada di Desa Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Pada masa kolonial, kawasan tersebut masih masuk wilayah Kabupaten Banyumas, sebelum kemudian menjadi bagian dari Banjarnegara setelah penataan wilayah pascakemerdekaan.
Pabrik ini dikenal sebagai salah satu pabrik gula modern pada zamannya, karena telah menggunakan tenaga listrik untuk operasional mesin-mesin produksi. Selain itu, kompleks pabrik terhubung dengan jalur rel lori dan kereta uap Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) yang digunakan untuk mengangkut tebu maupun gula hasil produksi.
Jejak kejayaan industri gula itu masih dapat ditemukan hingga sekarang. Berdasarkan penelusuran sejarah, lokasi pabrik berada di kawasan yang saat ini dikenal sebagai area gudang semen di sebelah utara Lapangan Klampok. Sebagian bangunan dan lahannya kini berada di bawah pengelolaan Balai Latihan Kerja (BLK) Klampok, sementara sebagian lainnya dikuasai perseorangan dan perusahaan.
Restorasi Terkendala Birokrasi dan Biaya, Ditebus 5000 Dollar
Dalam webinar tersebut, Gerrard mengungkapkan pihaknya terus berupaya menyelamatkan lokomotif-lokomotif sepur sempit peninggalan sejarah yang masih tersisa di Indonesia dengan membawanya ke Belanda untuk direstorasi.
Namun proses tersebut tidak mudah. Selain harus melalui prosedur administrasi yang panjang, biaya yang diperlukan juga cukup besar.
“Dua lokomotif yang kami bawa pulang kampung harus melewati birokrasi yang berbelit dan kami juga harus menebusnya sebesar lima ribu dolar kepada Kementerian BUMN,” kata Gerrard.
Menurutnya, biaya pengangkatan dan pengiriman lokomotif ke Belanda juga sangat mahal. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi upaya penyelamatan benda bersejarah melalui kerja sama yang saling menguntungkan, termasuk pertukaran artefak budaya Indonesia yang saat ini berada di Belanda.
Prihatin Aset Sejarah Terbengkalai
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Banjarnegara, Heni Purwono, yang turut mengikuti webinar tersebut mengapresiasi komunitas Du Croo and Brauns Locomotive di Belanda yang aktif melakukan restorasi lokomotif peninggalan Indonesia.
Menurut Heni, masih banyak aset sejarah bernilai tinggi yang belum mendapatkan perhatian memadai.
“Kami prihatin karena banyak aset sejarah yang luar biasa justru terbengkalai. Bahkan beberapa lokomotif uap dan kereta kuno sebelumnya dirucat menjadi besi kiloan. Ini sangat disayangkan,” ujarnya.
Ia menilai pelestarian warisan sejarah harus menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tetap dapat mempelajari jejak perkembangan transportasi dan industri di Indonesia.
Dukung Klampok Jadi Kawasan Cagar Budaya
Pada kesempatan yang sama, Gerrard juga menyatakan kesediaannya membantu membuka akses informasi sejarah yang berkaitan dengan perkeretaapian maupun Pabrik Gula Klampok.
Dukungan tersebut dinilai penting karena kawasan Klampok menyimpan banyak peninggalan bersejarah. Selain bekas pabrik gula, masih terdapat rumah dinas pegawai, bangunan kantor, kompleks eks perumahan, serta sejumlah bangunan kolonial yang memiliki keterkaitan dengan sejarah industri gula di wilayah tersebut.
Saat ini Tim Ahli Cagar Budaya Banjarnegara terus mendorong agar Klampok ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya. Penetapan tersebut dinilai penting untuk menjaga berbagai peninggalan sejarah yang tersebar dalam satu kawasan dan memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan industri gula serta perkeretaapian di Banyumas dan Banjarnegara.
Melalui kolaborasi antara pegiat sejarah Indonesia dan Belanda, pelestarian warisan perkeretaapian serta jejak kejayaan industri gula di Klampok diharapkan semakin kuat.
Lokomotif Soemberhardjo Nomor 09 yang diproduksi pada 1925 dan mengawali pengabdiannya di PG Klampok menjadi saksi penting perjalanan sejarah industri gula dan perkeretaapian di Banjarnegara.
Kini, meski lokomotifnya telah direstorasi di Belanda, bekas pabrik tempat lokomotif itu pernah beroperasi masih berdiri di Klampok dan tengah diperjuangkan menjadi bagian dari kawasan cagar budaya. (Heni Purwono/Prs)