Saat “Terima Kasih” Menjadi Barang Langka di Sekolah

Bagikan :

Oleh: Ākhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga

PENERIMAAN rapor selalu menjadi hari yang istimewa. Bagi murid, hari itu identik dengan rasa penasaran terhadap nilai. Bagi orang tua, menjadi momen melihat hasil belajar anak selama satu semester. Sementara bagi guru, rapor bukan sekadar angka, melainkan buah dari perjalanan panjang mendampingi murid bertumbuh.

Di tengah kesibukan setelah pembagian rapor, ponsel saya berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp dari seorang murid masuk.

“Terima kasih, Pak. Nilaiku makin bagus. Semoga Bapak sehat selalu. Aamiin.”

Pesan itu sederhana. Tidak panjang. Tidak pula menggunakan kata-kata indah. Namun, saya membacanya berulang kali. Bukan karena nilai murid itu meningkat. Membantu murid berkembang memang sudah menjadi tugas seorang guru. Yang membuat hati saya hangat justru dua kata sederhana: terima kasih.

Di era ketika komunikasi lebih banyak diwakili emoji dan stiker, ucapan sederhana itu terasa begitu tulus. Namun, setelah rasa haru itu berlalu, muncul pertanyaan yang membuat saya merenung. Dari ratusan murid yang saya ajar, hanya segelintir yang mengirimkan ucapan terima kasih. Apakah mereka lupa? Ataukah mereka memang merasa tidak perlu lagi mengucapkannya?

Saya tidak ingin buru-buru menyalahkan anak-anak. Bisa jadi mereka memang belum terbiasa. Sebab, kebiasaan berterima kasih bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya. Ia tumbuh dari lingkungan yang setiap hari memberi teladan.

Di situlah saya menyadari bahwa pendidikan karakter sesungguhnya tidak berada di dalam buku pelajaran. Ia hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam sikap sederhana yang sering kita anggap sepele.

Ada tiga kata yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi fondasi hubungan antarmanusia, yaitu tolong, maaf, dan terima kasih. Ketiga kata ini bukan sekadar ungkapan sopan santun, melainkan cerminan karakter yang perlu ditanamkan sejak dini.

Kata “Tolong” Mengajarkan Bahwa Kita Tidak Bisa Hidup Sendiri
Anak-anak sekarang tumbuh di era yang serba cepat. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Banyak hal dapat dilakukan sendiri melalui gawai. Namun, secanggih apa pun teknologi, manusia tetap membutuhkan manusia lain.

Mengucapkan “tolong” bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, kata itu menunjukkan kerendahan hati sekaligus penghargaan kepada orang lain. Karena itu, guru tidak cukup hanya meminta murid mengucapkannya. Guru perlu lebih dahulu memberi teladan.

Alih-alih berkata, “Ambilkan spidol!”, bukankah jauh lebih hangat jika kita mengatakan, “Bisa tolong ambilkan spidol, Nak? Terima kasih.” Tanpa disadari, anak sedang belajar bahwa meminta bantuan dapat dilakukan dengan penuh hormat.

Kata “Maaf” Adalah Keberanian, Bukan Kekalahan
Tidak sedikit anak yang takut mengucapkan maaf. Bukan karena mereka tidak tahu telah berbuat salah, melainkan karena khawatir akan dimarahi, dipermalukan, atau diberi label sebagai anak nakal.

Padahal, meminta maaf adalah bentuk keberanian. Anak yang mampu mengakui kesalahan sedang belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

Karena itu, ketika murid melakukan kesalahan, mungkin pertanyaan pertama yang lebih tepat bukan, “Kenapa kamu melakukan ini?” melainkan, “Apa yang terjadi? Menurutmu, apa yang bisa diperbaiki?” Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar memperbaiki diri, bukan sekadar merasa bersalah.

Yang tidak kalah penting, guru pun perlu berani meminta maaf. Saat guru mengakui kesalahan di depan kelas, murid belajar bahwa tidak ada manusia yang selalu benar.

Kata “Terima Kasih” Menumbuhkan Rasa Syukur
Inilah bagian yang paling mengusik pikiran saya. Mengapa mengucapkan terima kasih terasa semakin langka?

Mungkin karena banyak hal kini dianggap sebagai sesuatu yang memang sudah semestinya diterima. Nilai yang baik, perhatian guru, kasih sayang orang tua, hingga fasilitas belajar perlahan dipandang sebagai hak, bukan lagi sebagai kebaikan yang layak dihargai.

Padahal, satu ucapan “terima kasih” mampu menghangatkan hati orang lain sekaligus menumbuhkan rasa syukur dalam diri anak.

Kita tidak perlu memaksa mereka mengucapkannya. Yang lebih penting adalah menghadirkan budaya saling menghargai setiap hari. Guru dapat memulainya dengan memberi apresiasi atas bantuan sekecil apa pun.

Orang tua pun bisa membiasakan anak mengucapkan terima kasih kepada siapa saja yang membantu mereka. Ketika anak melihat orang dewasa saling menghargai, mereka akan menirunya tanpa perlu banyak nasihat.

Peristiwa sederhana setelah pembagian rapor itu akhirnya menjadi pengingat bagi saya sendiri. Barangkali, mendidik karakter memang seperti menanam bambu. Pada awalnya pertumbuhannya hampir tidak terlihat. Namun, ketika akarnya sudah kuat, ia akan tumbuh tinggi dan kokoh.

Begitu pula adab. Ia tidak lahir dari ceramah panjang. Ia tumbuh dari kebiasaan yang terus-menerus dilihat, didengar, dan dirasakan anak setiap hari.

Maka, mungkin yang perlu kita lakukan bukan lagi menuntut anak menjadi lebih sopan, melainkan bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita cukup sering mengucapkan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” kepada mereka?

Sebab, anak-anak mungkin akan lupa banyak pelajaran yang kita ajarkan. Namun, mereka hampir tidak pernah lupa bagaimana guru membuat mereka merasa dihargai. Dan sering kali, rasa dihargai itu lahir hanya dari tiga kata yang sangat sederhana: tolong, maaf, dan terima kasih.(*)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-06-28 at 20.21
Kontingan Purbalingga Raih Tiga Juara pada JAWARA Jateng 2006
sofia1
Sofia Raih Emas Taekwondo di Jateng Cup 2026
fauzijuni26
Saat "Terima Kasih" Menjadi Barang Langka di Sekolah
smp17
SMPN 17 Semarang Raih Dua Penghargaan dari Universitas Ngudi Waluyo
Gemini_Generated_Image_ayeiwcayeiwcayei (1)
Mengapa Harga Kopi Kita Makin Mahal? Menilik Krisis Pasokan dan Strategi Ketahanan Agribisnis Nasional