FPIK Unsoed Perkuat Hilirisasi Lewat Riset Lele Hibrida

Bagikan :

Foto bersama dengan narasumber, usai kuliah umum.

PURWOKERTO, EDUKATOR–Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mendorong hilirisasi riset perikanan melalui kuliah umum bertajuk “Lele Hibrida dan Potensi Pengembangannya di Indonesia” dalam rangkaian program BRIN Goes to Campus di FPIK Unsoed, Rabu (1/7/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Akuakultur itu sekaligus membuka peluang kolaborasi riset antara akademisi dan peneliti untuk mempercepat pengembangan inovasi lele hibrida di Indonesia.

Kuliah umum menghadirkan Huria Marnis, PhD, peneliti dari Kelompok Riset Catfish Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sebagai narasumber utama.

Ketua Jurusan Perikanan FPIK Unsoed, Dr. Taufik Budhi Pramono, S.Pi., M.Si. saat membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga riset untuk menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kolaborasi riset menjadi kunci lahirnya inovasi yang berdampak, salah satunya melalui pengembangan lele hibrida,” ujarnya.

Ketua Jurusan Perikanan FPIK Unsoed, Dr. Taufik Budhi Pramono, S.Pi., M.Si. (kanan) memberikan cenderamata kepada Huria Marnis, PhD.

Lele Hibrida Jadi Komoditas Strategis
Dalam pemaparannya, Huria Marnis menjelaskan bahwa lele hibrida merupakan salah satu terobosan penting dalam akuakultur nasional yang berpotensi mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas budidaya ikan.

Ia mengungkapkan, salah satu tantangan utama budidaya lele di Indonesia adalah kualitas benih yang belum optimal. Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan benih, tetapi juga mutu genetiknya.

Menurutnya, pembudidaya membutuhkan benih yang memiliki pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan tinggi, kualitas daging yang baik, serta ketahanan terhadap penyakit.

“Riset lele hibrida saat ini telah memasuki tahap uji multilokasi dan karakterisasi sebagai bagian dari persyaratan menuju proses rilis,” jelas Huria.

Selain memaparkan perkembangan penelitian, Huria juga mengajak sivitas akademika Program Studi Akuakultur FPIK Unsoed untuk terlibat dalam kolaborasi riset pengembangan lele hibrida.

Mahasiswa Langsung Bergabung dalam Riset
Ajakan tersebut mendapat respons positif. Seusai kuliah umum, dosen dan mahasiswa Program Studi Akuakultur langsung menyepakati kerja sama penelitian mengenai lele hibrida.

Sebanyak lima mahasiswa bahkan langsung mendaftarkan diri sebagai asisten peneliti sekaligus menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari penyusunan tugas akhir mereka.

Kegiatan ini menjadi implementasi semangat BRIN Goes to Campus, yakni mendorong perguruan tinggi menjadi pusat inovasi sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan menciptakan nilai tambah ekonomi.

Dalam kesempatan itu, BRIN juga memperkenalkan berbagai skema dukungan kolaborasi penelitian, seperti pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) . Juga  program Degree by Research (DBR) yang ditujukan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Melalui sinergi antara peneliti BRIN dan akademisi perguruan tinggi, pengembangan lele hibrida diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak kebangkitan ekonomi berbasis riset,  sekaligus memperkuat daya saing sektor perikanan budidaya Indonesia. (Prasetiyo)

BERITA TERKINI

fpik22
FPIK Unsoed Perkuat Hilirisasi Lewat Riset Lele Hibrida
FULAD6
Petani Itu Tentara, Bukan Pengemis: Memuliakan Garda Terdepan Kedaulatan Pangan Indonesia
ChatGPT Image Jul 1, 2026, 12_16_33 PM
Cegah Anak Tidak Sekolah, Banyumas Perkuat Wajib Belajar 13 Tahun
lumi1
Hotel Luminor Purwokerto Hadirkan "Holiday Season Kids Activity"
FULAD6
Republik yang Lahir dari Sawah, Jangan Mati karena Beton !