Republik yang Lahir dari Sawah, Jangan Mati karena Beton !

Bagikan :

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos. M.Si
Mahasiswa S3 Ilmu Pertanian Unsoed
Pemerhati Pertanian, Aktivis Pertanian, dan Anggota Kelompok Tani
di Geopark Ciletuh, Sukabumi, Provinsi Jawa-Barat

Pendahuluan
INDONESIA bukan lahir dari menara baja. Indonesia lahir dari lumpur. Republik ini tumbuh dari desa. Dari tangan petani yang kapalan. Dari sawah yang memberi makan tentara, mengisi lumbung, dan menjaga napas kemerdekaan tetap hidup.

Ingat: tidak ada revolusi yang menang tanpa beras. Tidak ada prajurit yang bertempur dengan perut kosong. Tidak ada republik yang berdiri tanpa lumbung.

Tapi apa yang kita lakukan hari ini? Kita sedang mengkhianati ibu kita sendiri.

Atas nama “kemajuan”, kita mengeruk sawah. Kita menutupnya dengan beton. Mal naik. Perumahan menjamur. Jalan tol membelah tanah. Namun, kita berpura-pura buta. Berapa ribu hektare lahan pangan yang kita kubur hidup-hidup?

Ini Bukan Pembangunan, tapi Bunuh Diri Pelan-pelan
Negara boleh memiliki gedung setinggi langit. Boleh memiliki jalan tol sepanjang pulau. Tetapi kalau rakyatnya makan dari tangan orang lain, maka semua kemegahan itu bohong. Itu ibarat istana yang berdiri di atas pasir.

Sawah adalah benteng. Ketika sawah mati, yang mati bukan hanya padi. Yang mati adalah kedaulatan.

Abad ke-21 sudah membuktikan bahwa perang tidak lagi hanya mengandalkan tank. Cukup kunci keran pangan. Cukup naikkan harga beras. Cukup tutup ekspor. Seketika, negara sebesar apa pun bisa bertekuk lutut.

Pandemi COVID-19 sudah mengajarkan. Perang Ukraina sudah mengajarkan. Perubahan iklim yang semakin ekstrem juga sudah mengajarkan. Negara yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri adalah negara yang gagal.

Dan kita? Kita masih asyik mengimpor. Kita masih asyik mengubur sawah. Sampai kapan?

Sawah: Garis Merah yang Kita Injak-Injak
Indonesia adalah bangsa tani.

Sebelum ada IKN, sebelum ada bursa saham, nenek moyang kita sudah menaklukkan air, membuat terasering, dan membangun peradaban dari sawah. Dari sawah lahir desa. Dari desa lahir gotong royong. Dari gotong royong lahir Indonesia.

Sawah itu bukan sekadar lahan. Sawah itu identitas.

Tapi lihat sekarang. Sawah dikorbankan demi “pertumbuhan”. Demi nilai tanah yang terus naik. Demi investor yang bertepuk tangan.

Dalam jangka pendek, daerah tampak kaya. Namun dalam jangka panjang, bangsa justru menjadi budak impor.

Inilah paradoks yang paling menyakitkan. Kita berteriak tentang “ketahanan pangan”, tetapi pada saat yang sama kita sendiri yang menggali kubur bagi sawah kita.

Ingat sejarah. Bangsa yang tidak mampu mengisi perutnya sendiri akan kehilangan suaranya di meja dunia.

Impor itu candu. Hari ini mungkin murah. Besok? Tergantung kebijakan negara lain. Tergantung cuaca di negara lain. Tergantung perang di negara lain.

Itu Bukan Kemerdekaan. Itu Sandera
Kita tidak bisa mengatur hujan di Vietnam. Kita tidak bisa mengatur kebijakan India. Namun, kita bisa mengatur tanah kita sendiri. Karena itu, lindungilah sawah. Harga mati.

Jangan salah paham. Beton tetap kita butuhkan. Jalan, rumah sakit, dan sekolah adalah kebutuhan. Namun, beton harus tunduk pada tanah, bukan sebaliknya.

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sudah ada. Tetapi untuk apa undang-undang dibuat jika hanya menjadi pajangan? Tegakkan aturan itu. Siapa pun yang melanggar harus diberi efek jera.

Yang tidak kalah penting adalah memuliakan petani. Berikan kepastian hak atas tanah, akses modal yang terjangkau, irigasi yang memadai, benih unggul, dan teknologi modern. Jangan jadikan petani hanya sebagai penonton di tanahnya sendiri.

Petani adalah Tentara Garis Depan Kedaulatan Pangan.
Ajak anak muda kembali ke sawah. Bukan untuk menjadi kuno, melainkan untuk menjadi tuan di tanah sendiri. Sebab, masa depan bukan hanya ada di beton. Masa depan juga tumbuh dari lumpur yang subur.

Sejarah tidak akan bertanya, “Berapa mal yang kau bangun?” Sejarah akan bertanya, “Apakah kau mampu menghidupi anak cucumu?”

Penutup
Republik ini lahir dari sawah. Jangan biarkan ia mati karena beton.

Beton dan sawah tidak harus saling berperang. Beton membangun masa depan, sedangkan sawah menjamin masa depan itu tetap hidup.

Kalau akar dipotong, setinggi apa pun pohonnya, pada akhirnya akan tumbang.

Menjaga sawah bukanlah nostalgia. Itu adalah strategi. Itu adalah perjuangan. Itu adalah wujud pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sebab, bangsa besar bukanlah bangsa yang memiliki paling banyak pencakar langit. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu memberi makan anak-anaknya dengan keringatnya sendiri. Tanpa meminta. Tanpa malu.

Sawah lestari, Indonesia berdaulat! Selama masih ada cangkul yang menembus tanah, republik ini tidak akan mati. (*)

Jakarta, Juni 2026

BERITA TERKINI

FULAD6
Republik yang Lahir dari Sawah, Jangan Mati karena Beton !
WhatsApp Image 2026-06-29 at 12.07
Perkuat Ketahanan Pangan, Purbalingga Terima Bantuan Alsintan
WhatsApp Image 2026-06-29 at 07.34
Yuk..Berburu Durian "Slandren" di Sigaluh
6199325378548011541 (1)
Ghaly dan Yasmin, Kakang dan Mbekayu Purbalingga 2026
WhatsApp Image 2026-06-28 at 20.21
Kontingan Purbalingga Raih Tiga Juara pada JAWARA Jateng 2006