Oleh: Akhmad Fauzi, S.S., S.Pd.
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari
Kabupaten Purbalingga
SAYA masih ingat pengalaman yang mengguncang kepercayaan diri. Bertahun-tahun lalu, saya mengikuti tes TOEFL di sebuah lembaga kursus. Saat itu saya datang dengan penuh keyakinan. Nilai bahasa Inggris saya selalu baik. Saya juga merasa menguasai tata bahasa.
Karena terlalu percaya diri, saya tidak berlatih khusus. Saat soal dibagikan, saya langsung terkejut. Bentuk tes sangat berbeda dari ujian sekolah. Soal tidak sekadar menguji hafalan. Peserta harus memahami konteks, menarik kesimpulan, dan berpikir cepat.
Pengalaman itu menyadarkan saya. Menguasai materi belum tentu berarti menguasai kompetensi asesmen.
Kini pengalaman serupa dialami banyak guru, siswa, dan sekolah. Mereka menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA). Banyak siswa meraih nilai bagus di sekolah. Namun hasil TKA belum tentu memuaskan. Penyebabnya bukan karena mereka kurang pintar. Bentuk soal dan tuntutan berpikir memang berbeda.
Dalam tulisannya di Suara Merdeka, Prof. Dr. Nunuk Suryani mengingatkan bahwa TKA bukan tes hafalan. TKA mengukur kompetensi. Peserta harus menggunakan pengetahuan dalam berbagai situasi nyata.
Selama ini pembelajaran masih didominasi soal hafalan. Pertanyaannya umumnya berupa definisi, sebutkan, atau jelaskan.
Sebaliknya, TKA menuntut kemampuan bernalar. Siswa diminta menyimpulkan data. Mereka juga harus menjelaskan penyebab. Bahkan mereka memilih solusi terbaik berdasarkan informasi yang tersedia.
Perbedaan inilah yang membuat banyak siswa merasa asing.
Dari Hafalan Menuju Penalaran
Situasi tersebut mengingatkan saya pada pengalaman TOEFL. Saya memahami bahasa Inggris. Namun saya belum terbiasa dengan bahasa asesmen.
Hal serupa kini dialami banyak siswa. Mereka menguasai materi pelajaran. Namun mereka belum terbiasa berpikir sesuai tuntutan TKA.
Sering kali kita menyimpulkan siswa bernilai rendah kurang mampu. Padahal anggapan itu belum tentu benar.
Bayangkan seorang siswa hafal semua rumus matematika. Ia mampu mengerjakan soal rutin. Namun ia kesulitan membaca grafik. Ia juga bingung menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Menentukan solusi terbaik pun menjadi tantangan.
Masalahnya bukan kemampuan berhitung. Masalahnya adalah kemampuan bernalar. Siswa belum terbiasa menggunakan pengetahuan secara kontekstual.
Di sinilah perubahan besar yang dibawa TKA.
Prof. Nunuk juga mengingatkan kondisi setiap sekolah berbeda. Kemampuan awal peserta didik tidak sama. Namun semua menghadapi standar asesmen yang sama.
Kondisi ini menjadi tantangan besar. Terutama bagi sekolah dengan literasi siswa yang masih rendah.
Namun TKA bukan ancaman. TKA adalah cermin pembelajaran. Melalui TKA, sekolah dapat mengevaluasi kemampuan berpikir kritis. Sekolah juga dapat menilai literasi membaca dan pemecahan masalah.
Jika hasilnya belum memuaskan, pembelajaran perlu diperbaiki. Bukan hanya siswanya.
Langkah Sederhana Memulai Perubahan
Perubahan tidak harus rumit. Guru dapat memulai dari langkah sederhana.
Pertama, kenalkan bentuk soal TKA sejak dini. Biasakan siswa membaca stimulus berupa teks, grafik, tabel, atau gambar. Sisipkan soal TKA dalam ulangan harian. Tujuannya membangun kebiasaan berpikir.
Kedua, ubah cara bertanya di kelas. Jangan hanya bertanya, “Apa jawabannya?” Tambahkan pertanyaan, “Mengapa memilih jawaban itu?” atau “Adakah cara lain?” Cara ini melatih kemampuan bernalar.
Ketiga, jadikan literasi sebagai budaya sekolah. Kemampuan membaca menjadi fondasi utama TKA. Biasakan siswa membaca artikel, berita, dan bacaan ilmiah populer. Kebiasaan ini memperluas wawasan sekaligus meningkatkan pemahaman informasi.
Belajar untuk Kehidupan Nyata
Keempat, berikan umpan balik yang mendorong berpikir. Jangan hanya mengatakan benar atau salah. Ajak siswa mendiskusikan alasan jawabannya. Bahas petunjuk yang digunakan. Tanyakan informasi yang mungkin terlewat. Cara ini melatih kemampuan metakognitif.
Kelima, bangun kolaborasi antarguru. Kehidupan nyata tidak mengenal batas mata pelajaran. Demikian pula soal TKA. Guru Bahasa Indonesia dapat bekerja sama dengan guru IPA, IPS, atau Matematika. Mereka dapat menyusun soal berbasis kasus. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Siswa pun lebih siap menghadapi tantangan abad ke-21.
Pengalaman gagal mencapai target TOEFL mengajarkan pelajaran penting. Belajar lebih banyak belum tentu cukup. Yang lebih penting adalah belajar dengan cara yang tepat.
Pelajaran yang sama berlaku pada TKA. Tujuan akhirnya bukan sekadar nilai tinggi. Bukan pula hanya lolos sekolah favorit.
Tujuan utamanya adalah membentuk generasi yang berpikir kritis. Mereka mampu memahami informasi secara mendalam. Mereka mampu mengambil keputusan berdasarkan data. Mereka juga mampu memecahkan persoalan kehidupan nyata.
Pada akhirnya, makna “pintar” telah berubah. Pintar bukan lagi sekadar banyak menghafal. Pintar berarti mampu memahami, menalar, dan menerapkan pengetahuan. Perubahan itu dimulai dari ruang kelas hari ini.(*)