
Arak-arakan gunungan
PURBALINGGA, EDUKATOR–Nilai syukur, kebersamaan, dan kepedulian terhadap kelestarian alam menjadi pesan utama yang diangkat dalam Festival Gunung Slamet (FGS) #9 di kompleks wisata D’Las Serang, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Sabtu (4/7/2026).
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif bersama Wakil Bupati Dimas Prasetyahani beserta istri menghadiri hari kedua festival yang dikemas melalui rangkaian prosesi budaya khas masyarakat lereng Gunung Slamet.
Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga menghadiri hari ke 2 FGS#9.
Prosesi Budaya Sarat Makna
Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual pengambilan air dari mata air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip, Desa Serang. Tokoh adat mengambil air yang kemudian dimasukkan ke dalam 99 lodong bambu dan satu Kendi Pratolo, lalu diarak oleh para pemuda dan pemudi Desa Serang yang mengenakan busana adat.

Prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap mata air sebagai sumber kehidupan sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan kehidupan dan pertanian masyarakat di lereng Gunung Slamet.
Arak-arakan semakin semarak dengan kehadiran 16 gunungan hasil bumi berupa buah dan sayuran dari delapan RW di Desa Serang. Gunungan itu melambangkan rasa syukur atas hasil panen, semangat gotong royong, serta harapan akan keberkahan dan kesejahteraan masyarakat.
Kirab juga dimeriahkan rombongan perempuan berkostum karnaval yang mengiringi perjalanan menuju lokasi utama festival.
Setibanya di halaman parkir D’Las Serang, rombongan disambut Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga beserta istri, Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara III Kementerian Pariwisata RI Indera Dewantho, Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah Tanti Apriani, perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, serta tamu undangan lainnya.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyatuan air dari 99 lodong dan Kendi Pratolo ke dalam satu wadah besar. Bupati Fahmi menuangkan air dari Kendi Pratolo, disusul Wakil Bupati, para pejabat, dan pembawa lodong.
Ritual ini dimaknai sebagai bersatunya doa, harapan, dan ikhtiar masyarakat untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Air yang telah dipersatukan bersama 16 gunungan hasil bumi selanjutnya didoakan oleh sesepuh adat Desa Serang. Setelah pemotongan tumpeng, Bupati dan Wakil Bupati menabuh gong sebagai tanda masyarakat dipersilakan mengambil air Tuk Sikopyah maupun hasil bumi yang diyakini membawa berkah.
Usai prosesi budaya, seluruh peserta menikmati makan bersama Nasi 3G, kuliner khas Desa Serang yang terdiri atas nasi jagung, gandul (pepaya tumis), gundil (tempe goreng), dan gereh (ikan asin).
Dorong Wisata dan Ekonomi Warga
Bupati Fahmi Muhammad Hanif mengatakan Festival Gunung Slamet #9 berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, dengan beragam agenda budaya dan hiburan yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan.
“Festival ini mencerminkan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur masyarakat. Air menjadi simbol kehidupan agar kehidupan masyarakat ke depan semakin baik,” ujar Fahmi.
Ia juga mengajak masyarakat menghadiri puncak Festival Gunung Slamet berupa pertunjukan Parade Hujan di Akustik Kabut Lembut pada Sabtu malam.
Menurut Fahmi, festival tersebut telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Tahun lalu, Festival Gunung Slamet dikunjungi sekitar 50 ribu wisatawan dengan perputaran ekonomi mencapai Rp3,5 miliar.
“Tahun ini kami berharap jumlah pengunjung semakin meningkat sehingga dampak ekonominya juga semakin besar, terutama bagi para petani sayur yang menjadi mata pencaharian utama warga Desa Serang,” katanya.
Wariskan Tradisi kepada Generasi Muda
Pranata Acara Festival Gunung Slamet #9, Tuwuh Permanajati, mengatakan keterlibatan pemuda dan pemudi dalam prosesi pengambilan air merupakan bagian dari upaya mengenalkan tradisi kepada generasi muda agar nilai-nilai budaya tetap lestari.
Ia menjelaskan, mata air Tuk Sikopyah kini muncul di lokasi yang sedikit bergeser akibat banjir bandang beberapa waktu lalu. Meski demikian, sumber air tetap berada pada jalur mata air yang sama, tepatnya di bawah Watu Langgar, sehingga kini lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Penyatuan air dari seluruh lodong mengandung makna bahwa sekecil apa pun doa masyarakat, jika dipersatukan akan menjadi kekuatan besar untuk kemajuan bersama,” jelas Tuwuh. (Prasetiyo)