Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
Pembukaan
Di medan perang abad ke-21, peluru paling mematikan bukan lagi timah, melainkan data dan kecepatan olah informasi. AI adalah senjata strategis itu.
Saya tidak takut pada AI. Saya justru takut pada jenderal yang masih memimpin dengan logika perang masa lalu di tengah gempuran kecerdasan buatan. Sebab, AI tidak butuh tidur, tidak butuh makan, dan terus belajar 24 jam. Pertanyaannya, apakah kita sebagai pemimpin juga terus belajar?
Perang Berubah, Akal Kita Harus Lebih Cepat
Sejarah perang mengajarkan satu hal: siapa yang lamban beradaptasi akan tumbang. Mesiu menggulung ksatria. Tank mengubur taktik infanteri massa. Jet tempur menghancurkan doktrin pertahanan statis. Kini, AI mengubah cara otak kita mengambil keputusan.
Keunggulan perang modern tidak lagi diukur dari banyaknya tank atau besarnya pasukan. Keunggulan ditentukan oleh decision cycle: seberapa cepat kita melihat, mengolah, lalu mengambil keputusan dan bertindak. Di sinilah AI menjadi force multiplier. AI mampu membaca pola, menghitung probabilitas, dan menyajikan berbagai opsi dalam hitungan detik.
Namun, AI hanyalah pisau bedah. Tangan yang memegangnya tetaplah manusia.
Selama di PBB, Saya Saksikan Kesenjangan Mematikan
Pengalaman saya sebagai Penasihat Militer RI untuk PBB pada 2017–2019 membuka mata bahwa negara-negara maju tidak hanya unggul dalam alutsista, tetapi juga dalam kecepatan mengadopsi dan mempelajari teknologi. Mereka memperlakukan AI layaknya rantai komando keempat.
Ironisnya, di negeri kita masih ada yang memandang AI sekadar “gawai anak IT” atau hanya sebagai alat intelijen. Itu adalah kesalahan yang fatal sekaligus naif.
Modernisasi Fisik Tanpa Revolusi Mental Adalah Omong Kosong
Pemerintah telah menggelontorkan anggaran besar untuk membeli pesawat, kapal, dan rudal. Namun saya bertanya, siapa yang akan mengoperasikannya?
Apakah prajurit kita cukup melek digital untuk membaca big data? Apakah para komandan mampu memverifikasi rekomendasi algoritma dengan kearifan taktis berdasarkan kondisi nyata di lapangan?
Jika tidak, maka alutsista modern hanyalah besi tua berkilap yang menjadi sasaran empuk musuh. Modernisasi pertahanan akan menjadi pemborosan anggaran jika tidak dibarengi dengan lompatan kualitas pendidikan di Sesko TNI, Seskoad, Akmil, dan seluruh satuan. Kita harus melahirkan pemimpin yang menguasai teknologi sekaligus tetap berpegang teguh pada jiwa Sapta Marga.
Ada Harga Mati yang Tak Bisa Di-Code
Saya tegaskan, mesin mampu menghitung risiko, tetapi tidak pernah memikul beban nyawa maupun harga diri bangsa.
Pertama, AI dapat menemukan celah musuh, tetapi tidak memiliki keberanian untuk memerintahkan, “Maju!”, ketika peluru beterbangan.
Kedua, AI dapat menyusun rencana operasi, tetapi tidak memiliki hati untuk menjaga moral pasukan.
Ketiga, AI mampu menganalisis medan, tetapi tidak memahami martabat, kehormatan, dan kedaulatan bangsa.
Kepemimpinan adalah tanggung jawab moral. Nilai itu tidak dapat diunduh, tidak dapat diprogram, dan tidak dapat diserahkan kepada algoritma.
Penutup
Indonesia tidak memiliki banyak waktu. AI sudah hadir. Teknologi ini akan memasuki ruang komando, sistem logistik, intelijen, hingga ruang-ruang pendidikan dan latihan.
Saya tidak terlalu mempersoalkan secanggih apa AI nantinya. Yang saya pedulikan adalah, apakah para jenderal masih mau membuka buku, masih mau belajar dari anak buah yang lebih muda, dan masih berani mengakui bahwa ilmu lama harus dipadukan dengan cara berpikir baru.
Pilihannya sederhana sekaligus keras: belajar dan beradaptasi, atau tersingkir oleh zaman.
Sebab, AI tidak pernah tidur. AI terus memperbarui dirinya setiap detik.
Saya ulangi dengan tegas:
AI tidak akan menggantikan jenderal. Namun, AI pasti akan menyingkirkan jenderal yang berhenti belajar dan mati dalam zona nyamannya.
Itulah peringatan dari seorang prajurit yang pernah duduk di ruang-ruang rapat PBB dan menyaksikan sendiri bagaimana teknologi menggeser peta kekuatan global. Jangan biarkan TNI menjadi penonton di negeri sendiri.(*)
Gombong, Juli 2026