*Iuran Anggota Ibaratnya Darah Organisasi

Wakil Ketua PGRI Jateng Dr Hj Sri Suciati menyerahkan penghargaamn penyerahan penghargaan kepada tiga cabang PGRI di Kebumen yang terbaik dalam pengelolaan keuangan dan ketertiban administrasi keanggotaan.
KEBUMEN, EDUKATOR–Wakil Ketua PGRI Jawa Tengah Dr. Hj. Sri Suciati, M.Hum. menekankan pentingnya iuran anggota bagi keberlangsungan organisasi. Iuuran itu ibaratnya “darah” organisasi PGRI, karena menjadi sumber utama pembiayaan berbagai program.
Seluruh iuran dikelola secara benar, transparan, dan dipertanggungjawabkan melalui forum organisasi. Bahkan, sebelum Konferensi Kerja dilaksanakan, laporan keuangan terlebih dahulu diperiksa oleh tim pemeriksa keuangan.
Saat ini, setiap anggota PGRI Jateng membayar iuran sebesar Rp 8.000 per bulan, yang dialokasikan 10 persen untuk Pengurus BesarPGRI, 20 persen untuk PGRI Provinsi, 30 persen untuk PGRI Kabupaten/Kota, serta 40 persen untuk PGRI Cabang dan Cabang Khusus.
Peserta Konkerkab II PGRI Kebumen Masa Bakti XXIII di Gedung PGRI Kabupaten Kebumen, Sabtu (11/7/2026).
“Iuran anggota ibarat darahnya organisasi. Dan kami mengapresiasi PGRI Kabupaten Kebumen yang telah lunas membayar iuran anggota ke PGRI Provinsi Jateng,” ujar Sri Suciati saat mewakili Ketua PGRI Jawa Tengah Dr. H. Muhdi, S.H., M.Hum. pada pembukaan Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) II PGRI Kabupaten Kebumen Masa Bakti XXIII di Gedung PGRI Kabupaten Kebumen, Sabtu (11/7/2026).
Hadir juga dlam kesempatan itu, Ketua Biro Pengabdian Masyarakat PGRI Jawa Tengah Prof. Dr. Listyaning Sumardiyani, M.Hum.
Sri Suciati menjelaskan, iuran anggota di PGRI Jawa Tengah saat ini baru mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan organisasi. Kekurangannya dipenuhi melalui hasil usaha organisasi dan dukungan dari anak lembaga PGRI Jawa Tengah.
Aset Organisasi Harus Tertata Baik
Selain menyoroti pentingnya iuran anggota, Sri Suciati juga mengingatkan perlunya pengelolaan aset organisasi secara tertib, terutama aset sekolah-sekolah PGRI yang memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan.
Mantan Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) itu mencontohkan pengalaman pengelolaan aset di kampus yang pernah dipimpinnya. Menurutnya, aset UPGRIS dahulu masih tercatat atas nama perorangan. Namun, karena persyaratan akreditasi mengharuskan kepemilikan berada di bawah yayasan, seluruh aset kemudian dialihkan menjadi milik yayasan.
“UPGRIS dulu juga asetnya atas nama perorangan. Karena untuk akreditasi harus atas nama yayasan, sekarang seluruh aset sudah menjadi milik yayasan,” jelasnya.
Program Kerja Harus Sesuai Kebutuhan Anggota
Sri Suciati mengingatkan agar program kerja yang dihasilkan dalam Konkerkab benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan anggota sehingga organisasi semakin dirasakan manfaatnya oleh para guru.
Ia juga mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kabupaten Kebumen yang memberikan kesempatan kepada guru tidak tetap (GTT) memperoleh surat keputusan (SK) sehingga dapat mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG).
Selain itu, kebijakan penempatan guru yang lebih mendekatkan lokasi kerja dengan tempat tinggal dinilai sebagai langkah nyata yang berpihak kepada guru.
Guru Tidak Akan Tergantikan AI
Dalam kesempatan tersebut, Sri Suciati juga mengingatkan para guru agar siap menghadapi perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial IntelligenceAI) dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, guru memang dituntut menguasai teknologi, tetapi perannya sebagai pendidik tidak akan tergantikan oleh AI.
“Guru memiliki high tech sekaligus high touch, yaitu hati nurani, kreativitas, dan empati. AI tidak memiliki itu,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak para guru menjadi guru pembahagia, yakni guru yang mampu membangkitkan imajinasi murid, menumbuhkan kecintaan belajar, serta menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.
Sri Suciati juga memberikan apresiasi kepada Ketua PGRI Kabupaten Kebumen Dr. Agus Sunaryo, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kebumen. Menurutnya, kepemimpinan Agus mampu memperkuat soliditas anggota sekaligus menjadi pendorong kemajuan organisasi. (Purwanto/Prs)