Hilirisasi Riset Pangan Lokal, Unsoed Kenalkan Empat Inovasi Baru

Bagikan :

*Empat Produk Berbasis Singkong dan Durian Siap Menuju Komersialisasi

PURWOKERTO, EDUKATOR – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) terus mempercepat hilirisasi hasil riset, yakni proses mengubah hasil penelitian menjadi produk yang siap dimanfaatkan masyarakat dan memiliki nilai ekonomi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui uji empat produk pangan fungsional berbasis singkong dan durian sebagai komoditas unggulan daerah yang dipersiapkan untuk diproduksi secara massal dan dikomersialkan bersama mitra industri.

Kegiatan bertajuk Uji Produk Pangan Fungsional Berbasis Komoditas Lokal Unggulan itu diselenggarakan Pusat Koordinasi Inovasi, Hilirisasi, dan Percepatan Swasembada Pangan (Puskor IHSP) LPPM Unsoed di Oemah Daun, Purwokerto Selatan, Selasa (21/7/2026).

Sebanyak 125 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM, PKK, Dharma Wanita, BUMDes, mahasiswa Unsoed, serta perwakilan LPPM AMIKOM Purwokerto mengikuti kegiatan tersebut.

Koordinator Puskor IHSP LPPM Unsoed, Dr. Santi Dwi Astuti, S.TP., M.Si., mengatakan inovasi yang dikembangkan berangkat dari kebutuhan masyarakat dan potensi komoditas lokal yang melimpah di wilayah sekitar kampus.

“Kami terus mengembangkan inovasi yang tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi,” ujarnya.

Empat Inovasi Pangan Bernilai Tambah
Pada kegiatan tersebut diperkenalkan empat produk inovasi berbasis komoditas lokal, yaitu beras analog mocaf, sereal mocaf, selai durian, dan strudel durian.

Santi Dwi Astuti menjelaskan, riset berbasis singkong telah dikembangkan sejak 2015 melalui teknologi Modified Cassava Flour (mocaf) atau tepung singkong termodifikasi. Bahan baku tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk pangan sebagai alternatif pengganti tepung terigu.

Produk terbaru berupa beras analog dan sereal dibuat menggunakan teknologi ekstrusi. Beras analog mocaf memiliki bentuk menyerupai bulir beras, dapat dimasak dalam waktu sekitar 10 menit, dan menghasilkan nasi singkong dengan tampilan serta tekstur menyerupai nasi pada umumnya.

Sementara itu, sereal mocaf dihasilkan melalui proses ekstrusi dengan pengaturan suhu, tekanan, dan kecepatan berbeda sehingga menghasilkan puffed cereal sebagai alternatif sumber karbohidrat.

“Kami menambahkan susu skim dan konsentrat protein kedelai sehingga kandungan gizinya meningkat. Produk ini tinggi serat pangan, rendah gula, dan tetap kaya protein,” jelas Santi Dwi Astuti.

Selain produk berbasis singkong, tim Puskor IHSP juga mengembangkan diversifikasi olahan durian lokal berupa selai dan strudel. Selai durian tersedia dalam tiga varian formulasi dengan tambahan labu siam, kolang-kaling, dan gula stevia sehingga kaya serat pangan, vitamin C, antioksidan, serta rendah gula.

Dari Laboratorium Menuju Dunia Industri
Sekretaris LPPM Unsoed, Dr. Sri Wahyu Handayani, S.H., M.Hum., mewakili Ketua LPPM, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi komitmen LPPM dalam memperkuat hilirisasi hasil penelitian. Melalui proses tersebut, hasil riset tidak berhenti sebagai temuan ilmiah di laboratorium, tetapi dikembangkan menjadi produk yang dapat diproduksi, dipasarkan, dan dimanfaatkan masyarakat maupun dunia usaha.

“Inovasi pangan berbasis komoditas lokal menjadi bagian dari komitmen LPPM untuk memperkuat hilirisasi hasil riset sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia industri,” katanya.

Menurutnya, inovasi pangan berbasis komoditas lokal juga sejalan dengan visi Unsoed sebagai perguruan tinggi yang unggul dalam pengembangan sumber daya perdesaan dan kearifan lokal. Program tersebut mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) melalui penguatan kolaborasi dengan mitra, keterlibatan mahasiswa dalam penelitian, serta peningkatan hilirisasi dan komersialisasi hasil riset.

Lebih jauh, inovasi tersebut turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek ketahanan pangan, kesehatan, inovasi, dan kemitraan, sekaligus menjadi kontribusi nyata Unsoed dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Seluruh produk dikembangkan melalui pendanaan riset BLU Unsoed dan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Produk-produk tersebut selanjutnya akan diproduksi dan dipasarkan bersama sejumlah mitra industri, yakni PT HDN Jakarta, PT Wijaya Food Banyumas, UD Usaha Mandiri Banjarnegara, dan UD Cahaya Bulan Banyumas. Proses penelitian juga melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi sebagai bagian dari penyusunan tugas akhir.

Respons Positif dari Masyarakat
Dalam kegiatan tersebut, peserta melakukan uji organoleptik untuk menilai cita rasa, aroma, tekstur, dan tingkat kesukaan terhadap keempat produk inovasi.

Hasil pengujian menunjukkan produk-produk tersebut memperoleh respons positif. Peserta menilai seluruh produk memiliki tingkat kebaruan yang tinggi, belum banyak ditemukan di pasaran, serta berpotensi dikembangkan menjadi produk komersial.

Salah seorang peserta, Suryati, pelaku UMKM dari Kecamatan Cilongok, Banyumas, mengaku pendampingan tim peneliti Unsoed telah membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Kehadiran tim Unsoed di desa kami membuka peluang usaha baru. Masyarakat ikut terlibat dalam proses produksi hingga pengemasan sehingga memberikan tambahan penghasilan,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, Unsoed berharap inovasi berbasis potensi lokal mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, memperkuat pemberdayaan masyarakat dan UMKM, mempercepat hilirisasi hasil penelitian, serta mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional. (Prasetiyo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-07-22 at 12.33
Banjarnegara Kekurangan 2.177 Guru
WhatsApp Image 2026-07-22 at 12.35
Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi Tegaskan Besarnya Perjuangan PGRI Untuk Guru
FULAD6
Masa Depan Indonesia, Indonesia Masa Depan: Akankah Menjadi Negara Maju atau Negara Gagal?
fauzijuni1
Saat Judi Online Mengincar Murid, Mampukah Guru Menjadi Benteng Terakhir?
muhdi1
Ketua PGRI Jateng Dr Muhdi: PGRI Terus Perjuangkan Kesejahteraan Guru