
Lima dalang perempuan perwakilan kabupaten/kota Daerah Istimewa Yogyakarta.
YOGYAKARTA, EDUKATOR – Festival Suar Dalang Perempuan 2026 menjadi langkah nyata mengakhiri kondisi yang selama ini menghambat perkembangan dalang perempuan, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi regenerasi seni wayang. Digelar di Pendopo SMKI Yogyakarta, Sabtu (18/7/2026), festival berbasis riset ini mempertemukan lima dalang perempuan dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Hal itu sebagai bukti bahwa perempuan terus tumbuh, belajar, dan siap menghidupkan tradisi pedalangan, meski kesempatan tampil dan pengakuan publik masih terbatas.
Festival yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana itu tidak hanya menghadirkan pertunjukan wayang kulit, tetapi juga diskusi publik, pemutaran film dokumenter, peluncuran buku profil dalang perempuan, serta pameran produk UMKM.
Foto bersama ketua pelaksana, Endang Purwsari dan wakil bupati bantul, (barisan depan baju batik) lurah Desa Ngestiharjo, Perwakilan Dinas Kebudayaan Bantul, Staf Warisan Budaya Tak Benda, dan pejabat setempat.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk memperkuat dokumentasi sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap kiprah dalang perempuan.
Ketua Proyek Festival Suar Dalang Perempuan, Endang Purwasari, mengatakan penyelenggaraan festival berangkat dari hasil preliminary research yang menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi dalang perempuan hampir tidak berubah dari tahun ke tahun.
Mereka terus belajar dan menguasai berbagai teknik pedalangan, tetapi kesempatan tampil serta pengakuan masyarakat masih sangat terbatas.
“Menunda festival ini berarti melanggengkan pengabaian tersebut,” ujar Endang.
Memecah Hambatan yang Selama Ini Terjadi
Endang menjelaskan, perempuan telah menguasai berbagai unsur penting seni pedalangan, mulai dari sabetan, pocapan, dodogan, suluk, hingga pendalaman karakter tokoh. Namun, kemampuan tersebut belum diimbangi dengan kesempatan yang sama untuk tampil di panggung-panggung pertunjukan utama.
Selain minim akses tampil, dalang perempuan juga masih menghadapi rendahnya visibilitas di ruang publik, kurangnya dokumentasi, serta belum optimalnya pengakuan terhadap kompetensi artistik mereka.
Menurut Endang, persoalan regenerasi wayang di Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari isu representasi dan kesetaraan gender. Di sisi lain, perubahan pola konsumsi budaya di era digital menuntut strategi baru agar seni pedalangan tetap diminati generasi muda.
“Butuh strategi baru untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, sekaligus mendiseminasikan seni pedalangan kepada masyarakat yang lebih luas,” katanya.
Karena itu, Festival Suar Dalang Perempuan dihadirkan sebagai ruang ekspresi, afirmasi, dokumentasi, dan diseminasi pengetahuan berbasis riset.
Lima Dalang dengan Kisah Inspiratif
Festival ini mempertemukan lima dalang perempuan dari berbagai kabupaten dan kota di DIY, yakni Ganis Naluri, Anisyah Padma, Kinaryusi Meida, Siti Rokhayati, dan Fitri Bima Asih. Kelimanya tampil membawakan lakon yang berbeda sekaligus menunjukkan kemampuan artistik yang lahir dari proses belajar dan perjuangan panjang.
Penampilan dalang perempuan dari Kabupatn Bantul, Nyi Ganis Naluri.
Ganis membuka festival melalui lakon “Srikandi Senopati Putri”. Ia dikenal kuat membawakan wayang bergaya klasik dengan dodogan dan keprakan yang bertenaga. Penghayatan terhadap lakon dan tokoh dalam sanggitnya menjadi ciri khas penampilannya.
Anisyah tampil melalui lakon “Kasetyan Sembadra” dengan kekuatan pada antawacana, suluk, artikulasi yang jelas, serta pendalaman karakter yang matang.
Kinaryusi Meida membawakan “Kidung Talibrata” dengan penguasaan tokoh dan sanggit yang dramatik. Sementara itu, Siti Rokhayati tampil energik dan kreatif melalui lakon “Wiji Tanem Tuwuh”. Festival kemudian ditutup Fitri Bima Asih lewat lakon “Sang Drupadi”, yang menonjolkan kekuatan suluk, angleh, serta penghayatan terhadap lakon.
Di balik kemampuan artistik tersebut, kelima dalang memiliki kisah perjuangan yang berbeda.
Anisyah memiliki trah dalang perempuan dari nenek buyutnya. Namun, tradisi itu tidak lagi berlanjut sehingga ia harus “babat alas” untuk menemukan dan membangun jalannya sendiri sebagai dalang.
Fitri menghadapi penolakan dari keluarganya ketika memilih menjadi dalang, meski ayahnya juga seorang dalang. Ia harus membuktikan kemampuan dan kesungguhannya agar pilihannya diterima.
Ganis telah berkiprah sebagai dalang cilik sejak usia belia. Meski tidak berasal dari keluarga dalang, ia mengasah kemampuannya melalui berbagai festival dan perlombaan.
Siti pun menghadapi tantangan serupa. Ayahnya sempat tidak mengizinkannya menjadi dalang. Selama menempuh pendidikan, ia harus mencari penghasilan sendiri melalui berbagai kegiatan demi membiayai sekolahnya.
Berbeda dengan keempat rekannya, Kinaryusi Meida merupakan dalang termuda dalam festival. Kehadirannya menjadi bukti bahwa seni pedalangan masih memiliki daya tarik bagi generasi muda, termasuk Generasi Alfa.
Kelima perjalanan tersebut menunjukkan bahwa regenerasi dalang perempuan sebenarnya telah berlangsung di tengah masyarakat. Mereka terus belajar, berkarya, dan mengembangkan kemampuan. Persoalannya, ruang untuk memperlihatkan keberadaan serta kemampuan mereka masih belum terbuka secara luas.
Membangun Ekosistem Pedalangan yang Inklusif
Endang mengatakan Festival Suar Dalang Perempuan tidak hanya bertujuan menghadirkan pertunjukan, tetapi juga mendorong perubahan yang lebih mendasar, yakni menjadikan sosok dalang perempuan sebagai hal yang wajar dalam kehidupan masyarakat.
“Sehingga tidak ada lagi penerimaan yang sumbang di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, festival ini menjadi ruang refleksi bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk berkiprah di dunia seni pedalangan. Kemampuan mereka menguasai teknik sabetan, pocapan, dodogan, suluk, maupun unsur artistik lainnya tidak semestinya lagi dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa atau pengecualian.
Ia berharap kiprah dalang perempuan menjadi pemandangan yang lazim ditemui di balik kelir, sejajar dengan dalang laki-laki.
Tak Berhenti pada Satu Pertunjukan
Festival Suar Dalang Perempuan dirancang sebagai gerakan berkelanjutan. Selain pertunjukan wayang, penyelenggara melakukan dokumentasi berbasis riset melalui film dokumenter dan penerbitan buku profil dalang perempuan.
Upaya tersebut diharapkan mampu mengisi kekosongan arsip kebudayaan sekaligus menjadi referensi penting dalam penyusunan kebijakan kebudayaan yang lebih inklusif dan ramah terhadap perempuan.
Festival ini juga diharapkan menjadi jangkar bagi diskusi kebudayaan dan pengembangan kajian akademis. Dengan demikian, pengalaman dan pengetahuan yang lahir dari praktik seni pedalangan perempuan tidak berhenti ketika pertunjukan usai, tetapi terus dipelajari, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam aspek regenerasi, kolaborasi antara institusi pendidikan dan generasi muda diharapkan mampu menumbuhkan keberanian serta kepercayaan diri bagi calon-calon dalang perempuan agar tidak ragu menapaki karier dalam ekosistem seni pedalangan.
Lebih dari sekadar menghadirkan lima perempuan di atas panggung wayang, Festival Suar Dalang Perempuan merupakan upaya membuka kembali ruang yang selama bertahun-tahun terasa sempit sekaligus membuktikan bahwa tradisi tidak pernah berhenti tumbuh.
Di tengah perubahan pola konsumsi budaya dan tantangan regenerasi seni wayang, keberadaan Ganis, Anisyah, Kinaryusi, Siti, dan Fitri menjadi pengingat bahwa masa depan pedalangan tidak hanya bergantung pada sosok yang selama ini mendominasi panggung.
Ada generasi perempuan yang terus belajar, berkarya, dan berproses. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk tampil, kesempatan memperoleh pengakuan, serta dokumentasi agar jejak perjuangannya tidak kembali hilang. Ketika keberadaan dalang perempuan menjadi sesuatu yang lumrah di tengah masyarakat, saat itulah panggung pedalangan benar-benar menjadi ruang kebudayaan yang terbuka bagi semua. (Harta Nining Wijaya/Prs)