Minim Pemahaman, Cagar Budaya Banjarnegara yang Melimpah Rawan Punah

Bagikan :

Diskusi yang dilakukan Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) membahas kondisi cagar budaya di Banjarnegara dna upaya penyelamatannya. 

BANJARNEGARA, EDUKATOR–Potensi cagar budaya di Kabupaten Banjarnegara yang melimpah dan membentang dari era klasik hingga kontemporer menghadapi ancaman serius. Minimnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pelestarian, ditambah belum optimalnya keberpihakan pemangku kebijakan, membuat sejumlah situs dan benda bersejarah rentan rusak, berubah bentuk, kehilangan keasliannya, bahkan punah.

Kondisi tersebut terungkap dalam kajian lapangan terhadap sejumlah situs penyebaran agama Islam di Banjarnegara yang dilakukan Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI), Sabtu (8/8/2026). Kajian itu menjadi bagian dari Program Pembahasan Pengkajian Dokumentasi dan Sosialisasi (Mbah Kaji Doso) yang didukung Dana Indonesia Raya, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI.

Ketua YSMI Heni Purwono mengatakan, Banjarnegara memiliki potensi cagar budaya yang sangat besar. Bahkan, dalam satu hari, timnya dapat menemukan sejumlah situs bersejarah hanya di kawasan perkotaan.

“Potensinya luar biasa. Sehari saja di kawasan kota, kami bisa mendatangi tiga situs dengan beberapa cagar budaya,” jelas Heni.

Tiga Situs Jadi Sasaran Kajian
Dalam kegiatan tersebut, tim YSMI mengunjungi tiga situs, yakni Makam Ki Ageng Selamanik, Makam Sunan Giri Wasiat, dan Makam Sunan Gripit.

Di Makam Ki Ageng Selamanik, terdapat satu makam besar dan empat makam kecil. Fasad cungkup makam juga menunjukkan karakter bangunan yang diperkirakan telah berusia lebih dari 50 tahun sehingga memiliki potensi untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Cungkupnya saja saya lihat masuk kategori cagar budaya. Mungkin dibangun masa kolonial atau awal kemerdekaan,” ujar Heni.

Sementara itu, di Makam Sunan Giri Wasiat, struktur makam masih relatif asli. Untuk mencapai makam yang berada di puncak bukit, pengunjung harus menaiki 156 anak tangga.

Di bawah bukit terdapat sebuah masjid besar yang di dalamnya tersimpan sejumlah benda yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Giri Wasiat.

Namun, keaslian bangunan masjid tersebut telah hilang. Menurut Heni, masjid yang sebelumnya merupakan bangunan kuno dengan konstruksi kayu dibongkar total dan diganti dengan bangunan beton pada 2009.

“Dulu masjid ini sampai 2009 juga masjid kuno, masih pakai kayu. Namun minimnya pemahaman masyarakat terhadap cagar budaya menjadikannya dibongkar total diganti bangunan beton,” ungkap Heni.

Peninggalan Mulai Lapuk
Selain struktur bangunan, sejumlah benda yang diyakini berkaitan dengan Sunan Giri Wasiat juga masih tersimpan. Di antaranya jubah yang kondisinya sudah sangat lapuk, sandal bakyak berbahan kayu, dan gelang kayu.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap perawatan benda-benda bersejarah agar tidak semakin rusak dan hilang.

“Saya pikir sangat diperlukan juga dukungan pemangku kebijakan agar cagar budaya dapat dipelihara dengan baik. Dianggarkan perawatannya, sehingga kehadiran negara dalam menjaga cagar budaya terasa,” tambah Heni.

Menurutnya, pelestarian tidak cukup hanya dengan mengenali dan menetapkan sebuah situs sebagai cagar budaya. Perawatan secara berkelanjutan juga diperlukan agar nilai sejarah dan keaslian peninggalan tetap terjaga.

Pamong Budaya Ahli Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah Harun Al Rasyid menegaskan, penetapan sebuah situs sebagai cagar budaya saja tidak cukup. Pemahaman masyarakat dan pengelola harus terus diperkuat melalui sosialisasi.

“Pemerintah Kabupaten harus proaktif terus-menerus melakukan sosialisasi, khususnya kepada para pengelola atau pemilik cagar budaya. Partisipasi masyarakat menjadi sangat penting bagi pelestarian cagar budaya. Apalagi dengan potensi yang sangat melimpah seperti di Banjarnegara ini,” tandas Harun.

Keaslian Harus Dijaga Bersama
Pentingnya menjaga keaslian peninggalan juga terlihat di Makam Sunan Gripit. Juru kunci makam, Masruri, mengaku pernah melarang seseorang memasang kijing di makam Sunan Gripit karena bentuk tersebut tidak sesuai dengan kondisi asli makam.

“Ya saya larang, karena itu bukan asli. Di sini dari dulu ya hanya nisan itu. Kami hanya menambah cungkup yang dulu dari bambu dan selasar menuju makam saja,” kenang Masruri.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran pengelola dan masyarakat di sekitar situs.

Melimpahnya potensi cagar budaya Banjarnegara semestinya menjadi kekuatan untuk memperkuat identitas sejarah dan kebudayaan daerah. Namun, tanpa pemahaman yang memadai, kekayaan tersebut justru dapat kehilangan keaslian dan nilai sejarahnya.

Karena itu, sinergi pemerintah, pengelola situs, masyarakat, dan pemerhati budaya menjadi kunci agar peninggalan sejarah Banjarnegara tidak sekadar tersisa dalam catatan, tetapi tetap terjaga secara fisik untuk diwariskan kepada generasi berikutnya. (Heni Purwono/Prs)

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-08-10 at 12.03
Smanda Cup Basket 5x5 Sukses, Ini Daftar Juaranya
FAUZI PAKAIAN JAWA
Ketika Guru “Belum Yakin”, Itulah Awal Pembelajaran Mendalam
WhatsApp Image 2026-08-09 at 12.25
813 Anak Tidak Sekolah di Banyumas Kembali Sekolah Lewat PKBM
FULAD6
Panglima yang Tidak Berdaya: Punya Bintang, Kehilangan Taring
WhatsApp Image 2026-08-09 at 12.26
Nyore Sandĕkala, Ikhtiar Dusun Tjiboen Merawat Tradisi