*Digitalisasi Pembayaran Terus Menguat

PURWOKERTO, EDUKATOR–Transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Banyumas Raya terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Hingga Juni 2026, volume transaksi QRIS secara kumulatif mencapai 112,57 juta transaksi dengan nilai Rp8,57 triliun.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Aswin Gantina, menyampaikan perkembangan tersebut dalam Media Briefing Bank Indonesia se-Jawa Tengah yang digelar secara hybrid melalui Zoom, Kamis (13/8/2026).
“Pada Juni 2026 saja, transaksi QRIS tercatat mencapai 26,43 juta transaksi dengan nominal Rp1,74 triliun,” katanya.
Angka tersebut masing-masing tumbuh 278,06 persen secara tahunan (year on year/yoy) untuk volume transaksi dan 181,72 persen (yoy) untuk nominal transaksi.
Istilah year on year (yoy) berarti perbandingan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, pertumbuhan volume 278,06 persen menunjukkan perbandingan transaksi Juni 2026 dengan Juni 2025. Hal yang sama berlaku untuk pertumbuhan nominal sebesar 181,72 persen.
“Penggunaan QRIS semakin luas dan menjadi bagian penting dalam aktivitas transaksi masyarakat,” ujar Aswin.
627 Ribu Merchant Telah Menggunakan QRIS
Pertumbuhan transaksi tersebut sejalan dengan semakin luasnya penggunaan QRIS oleh pelaku usaha. Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS di Banyumas Raya mencapai 627.115 merchant.
Bank Indonesia Purwokerto, lanjutnya, terus memperluas penggunaan QRIS melalui edukasi dan aktivasi secara langsung kepada berbagai kelompok masyarakat. Sasaran kegiatan mencakup lansia, komunitas perempuan perbankan, santri pesantren, Pramuka, peserta pasar murah, hingga masyarakat melalui Program QRIS Ramadan.
Perluasan penggunaan QRIS juga dilakukan dalam kegiatan berskala besar. Salah satunya melibatkan lebih dari 6.000 pelari dalam sebuah kegiatan yang mencatat Rekor MURI.
Rangkaian edukasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus membiasakan penggunaan pembayaran digital dalam transaksi sehari-hari. QRIS didorong menjadi kanal pembayaran yang mudah, aman, dan inklusif.
Pertumbuhan Ekonomi Banyumas Raya Menguat
Selanjutnya Aswin Gantina menjelaskan, perekonomian Banyumas Raya juga menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring kenaikan upah minimum provinsi (UMP), pencairan tunjangan hari raya (THR), stimulus pemerintah, serta meningkatnya aktivitas ekonomi selama periode Ramadan dan Idulfitri.
Pertumbuhan turut ditopang berlanjutnya pembangunan proyek strategis pemerintah dan swasta, aktivitas konstruksi, investasi, serta masuknya periode panen raya.
Sektor ekonomi utama di Banyumas Raya meliputi industri pengolahan, pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan besar dan eceran, serta konstruksi.
El Niño Jadi Perhatian Pengendalian Inflasi
Meski perekonomian dan transaksi digital berkembang positif, Bank Indonesia Purwokerto tetap mewaspadai risiko tekanan inflasi akibat kondisi iklim.
Fenomena El Niño diperkirakan terus menguat pada paruh kedua 2026. Puncak musim kemarau diprakirakan berlangsung pada Juli hingga September, sementara curah hujan pada triwulan III 2026 diperkirakan didominasi kategori rendah.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan mengganggu produksi pangan, terutama padi. Di Banyumas, sekitar 4.131,5 hektare lahan sawah diproyeksikan memasuki fase generatif pertama dan 5.537,6 hektare berada pada fase generatif kedua saat puncak El Niño.
“Kedua fase tersebut memiliki sensitivitas sangat tinggi terhadap kekeringan,” katanya.
Keterbatasan pasokan air juga berpotensi menyebabkan pergeseran masa tanam pada sekitar 4.057,7 hektare, atau 13,2 persen dari total luas baku sawah.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Bank Indonesia mendorong optimalisasi jaringan irigasi, pompanisasi, pengelolaan sumber air, penggunaan varietas tanaman yang lebih adaptif terhadap musim kemarau, serta penguatan kelompok tani dan petani muda.
Pengendalian inflasi, sambung Aswin Gantina, juga dilakukan melalui penguatan distribusi pangan, operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah, pengawasan harga komoditas strategis, serta peningkatan kerja sama antardaerah.
Purwokerto Mengalami Deflasi Pada Juli
Di tengah kewaspadaan terhadap risiko pangan, perkembangan harga pada Juli 2026 menunjukkan kondisi yang relatif terkendali. Purwokerto mengalami deflasi yang terutama didorong penurunan harga komoditas hortikultura seiring meningkatnya pasokan pada masa panen di sejumlah daerah sentra produksi.
Penurunan harga emas perhiasan serta berlanjutnya tren penurunan harga telur ayam ras karena pasokan yang masih memadai turut menahan tekanan inflasi.
Perkembangan transaksi digital, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas harga tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga momentum pemulihan serta memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah Banyumas Raya. (Budi Yuswinanto/Prs)