Fapet Unsoed Berdayakan Santri Lewat Inovasi Koyogi

Bagikan :

*Kornet-Yogurt Enak Bergizi

Mahasiswi Fakultas Peternakan Unsoed menunjukkaninovasi Koyogi, yakni Kornet-Yogurt Enak Bergizi.

PURWOKERTO, EDUKATOR – Dosen dan mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memberdayakan santri Pondok Pesantren Pekaja dan Budi Luhur Boarding School, Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, melalui inovasi Koyogi (Kornet-Yogurt Enak Bergizi).

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut membekali santri dengan pengetahuan dan keterampilan mengolah pangan asal ternak sekaligus mendorong pengembangan produk bergizi yang berpotensi bernilai ekonomi.

Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Santri di Pondok Pesantren Pekaja melalui Edukasi dan Praktik Pengolahan Koyogi (Kornet-Yogurt Enak Bergizi) untuk Mendukung Pencapaian SDGs” itu dilaksanakan dalam beberapa tahap, mulai Rabu, 15 Juli 2026, dilanjutkan Selasa, 4 Agustus 2026, hingga Sabtu, 8 Agustus 2026.

Dosen Fakultas Peternakan Unsoed, Irfan Fadhlurrohman mengemukakan, kegiatan diawali dengan survei pendahuluan dan koordinasi bersama mitra. Tahap tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi, kebutuhan, potensi, serta persoalan yang dihadapi mitra, khususnya berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan santri dalam mengolah pangan asal ternak.

Hasil survei kemudian menjadi dasar penyusunan materi edukasi dan praktik agar sesuai dengan kebutuhan di lingkungan pondok pesantren. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan secara umum, tetapi diarahkan pada keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung.

Para santri mendapatkan materi mengenai pengolahan kornet dan yogurt. Edukasi mencakup prinsip dasar pengolahan, bahan dan peralatan, tahapan produksi, sanitasi dan higiene, serta pentingnya menghasilkan pangan yang aman, bergizi, dan memiliki nilai tambah.

Santri Praktik Mengolah Produk Koyogi
Setelah memperoleh pembekalan teori, para santri terlibat langsung dalam praktik pembuatan Koyogi. Mereka diperkenalkan pada tahapan pengolahan pangan sehingga dapat memahami proses produksi secara lebih konkret.

“Praktik secara langsung diharapkan meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri santri,” kata Irfan.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan produk pangan secara mandiri. Kegiatan praktik juga membuka ruang bagi santri untuk mengenal proses pengolahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas produktif.

Inovasi Koyogi tidak hanya diarahkan sebagai produk pangan bergizi. Produk tersebut juga diharapkan menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi santri. Teknologi pengolahan yang relatif sederhana memungkinkan pengembangan produk dilakukan di lingkungan pondok pesantren sesuai potensi dan sumber daya yang tersedia.

Koyogi Didorong Dukung Pencapaian SDGs
Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusinya mencakup peningkatan pengetahuan dan keterampilan, penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas konsumsi pangan bergizi, serta pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi pangan asal ternak.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim pengabdian menyerahkan bantuan alat teknologi tepat guna kepada mitra. Peralatan tersebut diharapkan dapat digunakan Pondok Pesantren Pekaja dan Budi Luhur Boarding School untuk melanjutkan praktik pengolahan pangan serta mengembangkan kegiatan produktif santri setelah program berakhir.

Kegiatan ini didanai melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat BLU Unsoed melalui Skema Penerapan Ipteks. Program tersebut merupakan salah satu skema pengabdian yang disediakan Unsoed melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) untuk mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat.

Libatkan Dosen dan Mahasiswa
Tim pelaksana terdiri atas Irfan Fadhlurrohman sebagai ketua, bersama Deni Setiadi, S.Pt., M.Pt., Indra Sugiharto, S.Pt., M.Sc., dan Hasan Muhammad Yusuf, S.Pt. Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa untuk memperkuat pengalaman mereka dalam pengabdian kepada masyarakat sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Lima mahasiswa yang terlibat adalah Dhika Adji Afinesta, Hafiz Nugraha, Dimas Abian Pamungkas, Amanda Ainan Salsabila, dan Nazmi Siti Safrina Whidarta.

Tim pengabdian berharap program tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Para santri diharapkan mampu mengembangkan keterampilan pengolahan pangan asal ternak menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi.

Keberlanjutan pemanfaatan teknologi tepat guna dan pengembangan Koyogi diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian serta kreativitas santri di Pondok Pesantren Pekaja dan Budi Luhur Boarding School Pekaja.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, inovasi Koyogi menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan yang tidak hanya berorientasi pada pangan bergizi, tetapi juga pemberdayaan dan kemandirian masyarakat.

Program tersebut sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian SDGs melalui pengembangan pangan yang bergizi dan berkelanjutan. (Alief Einstein/Prs)

 

BERITA TERKINI

ChatGPT Image Aug 16, 2026, 03_51_02 PM
Presiden Prabowo Targetkan Sekolah Negeri Gratis
FULAD6
Presiden dan Ujian Keberanian: Ketika Kata-Kata Harus Menjadi Tindakan
6a7eacc1d2f44
Presiden Prabowo Wacanakan Bahasa Asing Sejak Kelas Satu SD
ChatGPT Image Aug 16, 2026, 04_57_03 AM
Festival Kenthongan 2026 Hadir di Purwokerto dan Purbalingga
WhatsApp Image 2026-08-16 at 09.48
1.100 Mahasiswa Baru FT Unsoed Dibekali Ancaman Bahaya Narkoba