Pameran Seniman Difabel “Rantara”, Dorong Ekosistem Seni Lebih Inklusif

Bagikan :

Seorang peserta pameran, Anugrah Fadli Kreato Seniman (autism), melukis on the spot, di antara agenda pameran “Rantara”,(Foto:Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).

YOGYAKARTA, EDUKATOR — Karya seni semestinya dinilai dari gagasan, ekspresi, teknik, dan kekuatan artistiknya, bukan dari siapa yang menciptakan atau kondisi tubuh senimannya. Semangat itulah yang diusung Rantara: Difabel Berdaya dan Berkarya melalui pameran yang digelar di Jogja Gallery, Yogyakarta, 14–20 Agustus 2026.

Rantara: Difabel Berdaya dan Berkarya merupakan inisiatif seni inklusif yang mendorong seniman difabel untuk berdaya, berkarya, dan memperoleh ruang yang setara dalam ekosistem seni. Rantara bukan singkatan dari suatu nama lembaga atau organisasi, melainkan nama inisiatif yang membawa gagasan tentang ruang “antara”—antara pendidikan dan profesi, antara tubuh dan karya, serta antara ruang galeri dan ruang publik.

Para peserta pameran “Rantara” berfoto bersama usai acara pembukaan pameran, Jogja Galeri, Jumat (14/8/2026).(Foto:Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).

Rantara tidak sekadar menghadirkan karya seniman difabel ke ruang pamer. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya mengubah cara pandang terhadap tubuh, perbedaan, dan keberagaman pengalaman manusia dalam ekosistem seni.

Dalam konsepnya, Rantara menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek yang aktif dan merdeka dalam berkarya, bukan sekadar objek yang diberi kesempatan tampil. Karena itu, inklusi seni tidak cukup hanya dengan menyediakan ruang pamer, tetapi juga membutuhkan infrastruktur yang ramah difabel, pendampingan kreatif, jejaring, serta ekosistem yang menghargai keberagaman.

Dalam konteks tersebut, inklusi dapat dipahami sebagai proses atau upaya untuk melibatkan semua orang secara setara, termasuk penyandang disabilitas. Sementara itu, inklusif menggambarkan sifat atau kondisi yang terbuka, ramah, dan memberikan kesempatan kepada semua orang tanpa diskriminasi.

Dengan demikian, Rantara tidak hanya mendorong inklusi dalam seni, tetapi juga berupaya membangun ekosistem seni yang inklusif.

Suasana pameran “Rantara” yang digelar di Jogja Galeri, 14 – 20 Agustus 2026. (Foto:Harta Nining Wijaya/EDUKATOR).

Bukan Sekadar Memberi Ruang
Salah satu seniman yang menunjukkan bahwa difabel mampu menembus ruang seni adalah Anugrah Fadli Kreato, perupa autistik yang menjadi peserta Rantara. Ia memiliki latar pendidikan seni, dengan menyelesaikan pendidikan S1 di ISI dan S2 di UNY.

Pengalamannya dalam dunia seni telah membawanya mengikuti berbagai pameran di Yogyakarta, Jakarta, Solo, Magelang, hingga pameran internasional.

Pengalaman Anugrah di dunia seni bukanlah sesuatu yang baru. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan seni rupa. Pamannya merupakan pematung yang berkarya dalam lingkup internasional. Studio sang paman di Tangerang Selatan juga menjadi tempat berkumpul para seniman.

Interaksi dengan seniman dan kurator sejak kecil turut membentuk ketertarikannya terhadap seni. Pendidikan formal kemudian semakin mengembangkan kemampuannya. Setelah menyelesaikan S1 di ISI dan S2 di UNY, ia merasakan perubahan dalam proses berkarya.

Konsep, proporsi, tekstur, bentuk, gradasi warna, dan berbagai unsur visual tidak lagi hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga berkembang melalui proses keilmuan.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya mengikuti berbagai pameran di sejumlah kota, termasuk Yogyakarta, Jakarta, Solo, dan Magelang, serta terlibat dalam pameran internasional bersama seniman dari berbagai negara.

Karyanya bahkan pernah masuk lelang internal Balai Lelang Christie’s Hong Kong setelah sebelumnya memperoleh hibah sebagai juara pertama dalam kompetisi yang digelar lembaga tersebut di Jakarta pada 2024.

Karya Anugrah juga pernah terjual melalui lelang daring. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seniman difabel mampu memasuki ruang seni yang sama dengan seniman lainnya ketika memperoleh kesempatan, jejaring, dan apresiasi yang setara.

Meski demikian, kemampuan artistik belum selalu menjamin seniman difabel dapat hidup dari karya mereka. Menurut Anugrah, proses berkarya terkadang membutuhkan persiapan lebih intensif, biaya lebih besar, serta waktu pengerjaan lebih panjang.

“Selama ini, kebutuhan seperti cat, kanvas hingga biaya pameran masih banyak ditanggung keluarga,” ujar Anugrah dalam wawancara dengan EDUKATOR, Senin (17/8/2026).

Ia mengatakan belum pernah memperoleh dukungan pemerintah untuk proses berkaryanya. Sebaliknya, dukungan dari sektor swasta justru diterimanya, antara lain melalui PT Lyra Akrelux yang memberikan dukungan berupa produk seni Daler-Rowney, yang telah dikenalnya sejak kecil.

Daler-Rowney merupakan merek perlengkapan seni rupa yang menyediakan berbagai kebutuhan berkarya, seperti cat, kuas, media gambar, permukaan lukis, dan perlengkapan seni lainnya.

Dukungan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan sektor swasta dapat menjadi bagian penting dalam membantu keberlangsungan proses kreatif seniman difabel. Namun, tantangan mereka tidak berhenti pada persoalan mendapatkan panggung. Persoalan berikutnya adalah bagaimana memastikan seniman difabel dapat membangun karier secara berkelanjutan dan memperoleh penghidupan dari karya yang dihasilkan.

Kualitas Karya Menjadi Pertimbangan
Rantara berupaya menjawab persoalan tersebut melalui proses kurasi yang menempatkan kualitas karya sebagai pertimbangan utama. Lebih dari 75 karya didaftarkan dan 43 di antaranya dinyatakan lolos kurasi.

Peserta berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari murid sekolah dasar hingga pelukis profesional. Karya seniman profesional juga ditampilkan sebagai bagian dari jejaring dan kolaborasi yang dibangun Rantara.

Kurator Rantara, Yulianto, menegaskan bahwa karya tidak dipilih berdasarkan rasa iba. Penilaian dilakukan berdasarkan kejujuran ekspresi, penguasaan material dan teknik, serta kemampuan mengolah unsur dan prinsip seni rupa.

Perbedaan biologis seniman justru dipandang sebagai sumber pengetahuan yang dapat berkembang menjadi kekuatan artistik.

Pandangan tersebut penting karena identitas difabel selama ini kerap menjadi hal pertama yang dilihat publik ketika berhadapan dengan karya seorang seniman difabel. Akibatnya, kualitas artistik karya terkadang justru berada di belakang identitas pembuatnya.

Rantara mencoba membalik perspektif tersebut. Yulianto menyebut salah satu cita-citanya adalah meruntuhkan hierarki elitis dan sekat lama yang mendiskriminasi seniman berdasarkan standar fisik yang dianggap normal.

Dalam kerangka tersebut, tubuh bukanlah kekurangan yang harus disembunyikan. Tubuh justru menjadi salah satu sumber pengetahuan yang sah dalam penciptaan karya seni.

Perbedaan fisik dapat melahirkan pengalaman, cara melihat, cara merasakan, hingga estetika yang berbeda. Dengan demikian, tubuh tidak menjadi batas bagi seni, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan dan kekuatan artistik.

Membawa Seni ke Ruang Publik
Gagasan inklusi yang diusung Rantara tidak berhenti di dalam galeri. Salah satu bentuknya diwujudkan melalui instalasi jari kelingking di kawasan Titik 0 Kilometer Yogyakarta.

Dalam konsep Rantara, jari kelingking merujuk pada simbol huruf “I” dalam bahasa isyarat yang dimaknai sebagai salam inklusi. Instalasi tersebut sekaligus menjadi media informasi, edukasi, dan advokasi mengenai budaya inklusif.

Kehadiran seni di ruang publik dinilai penting agar gagasan inklusi tidak hanya dinikmati pengunjung galeri atau masyarakat yang telah memiliki ketertarikan terhadap seni.

Karena itu, Rantara juga menggelar live painting kolaboratif di kawasan 0 Kilometer, Malioboro hingga Alun-Alun Keraton Yogyakarta. Kegiatan tersebut mempertemukan seniman difabel, seniman nondifabel, dan masyarakat melalui karya seni.

Advokasi pun tidak harus selalu disampaikan melalui slogan. Pesan mengenai inklusi dapat hadir melalui karya, interaksi, dan pengalaman langsung masyarakat dalam menikmati seni.

Membangun Jejaring Berkelanjutan
Ketua Pelaksana Rantara, Kristina Novi Susanti, menyadari bahwa keberhasilan pameran tidak seharusnya berakhir ketika kegiatan ditutup dan karya diturunkan dari dinding galeri.

Karena itu, Rantara berkomitmen terus mengusahakan ruang apresiasi bagi seniman difabel. Ruang publik juga akan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan advokasi.

Menurut Kristina, keberlanjutan membutuhkan penguatan komunikasi dan jejaring dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas, lembaga pendidikan, seniman, pemerintah, sektor swasta hingga masyarakat.

Keberhasilan Rantara tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah karya yang berhasil dipamerkan. Capaian tersebut juga terlihat dari keterlibatan seniman dan karya dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Mojokerto, Semarang, Solo, Tangerang, dan Jakarta, serta antusiasme pengunjung, penjualan karya, workshop, dan merchandise.

Selain itu, terbentuknya jejaring dengan pemerintah, sektor swasta, institusi pendidikan, komunitas seni, dan masyarakat disabilitas menjadi indikator penting keberlanjutan Rantara.

Dengan demikian, tantangan terbesar Rantara justru berada setelah pameran selesai. Jejaring yang telah dibangun diharapkan mampu membuka jalan bagi seniman difabel untuk terus berkarya, memperoleh apresiasi, dan mendapatkan penghasilan dari profesinya.

Yulianto mengatakan, Rantara dirancang sebagai ruang perayaan, refleksi, dan sumber inspirasi sekaligus sebagai upaya mengangkat perupa difabel agar semakin berkembang dalam berkesenian.

Upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan jejaring agar para seniman dapat semakin mandiri. Namun, proses itu membutuhkan komitmen dan konsistensi dari berbagai pihak.

Seni Sebagai Jalan Kesetaraan
Pada akhirnya, nilai penting Rantara bukan hanya terletak pada jumlah karya, nama galeri, ataupun rangkaian kegiatan yang digelar. Inisiatif seni inklusif tersebut membuka pertanyaan yang lebih mendasar tentang siapa yang berhak disebut seniman, siapa yang menentukan kualitas karya, dan apakah kondisi fisik tertentu masih menjadi syarat untuk diterima dalam ekosistem seni.

Pertanyaan itu memang tidak dapat diselesaikan melalui satu pameran. Namun, Rantara telah berupaya membuka ruang untuk menjawabnya.

Anugrah dan para seniman difabel lainnya hadir membawa pengalaman hidup, proses belajar, keterampilan, serta karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara artistik. Sementara itu, galeri, kurator, seniman profesional, pemerintah, swasta, komunitas, lembaga pendidikan, dan publik memiliki peran untuk memastikan ruang tersebut tetap terbuka.

Inklusi dalam seni bukanlah tentang memberikan belas kasihan kepada mereka yang dianggap berbeda. Inklusi berarti mengakui bahwa perbedaan juga dapat melahirkan pengetahuan, pengalaman, estetika, dan karya yang memiliki nilai setara.

Di situlah makna Rantara sebagai sebuah ruang “antara” menemukan relevansinya: antara pendidikan dan profesi, antara tubuh dan karya, serta antara ruang galeri dan ruang publik.

Ruang tersebut diharapkan bukan sekadar tempat singgah, melainkan jembatan menuju ekosistem seni yang benar-benar inklusif—sebuah ekosistem yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berdaya, berkarya, memperoleh apresiasi, dan hidup dari karya.(Harta Nining Wijaya/Prs)

 

 

BERITA TERKINI

sekolah rusak
Gempa Flores M 7,7 Rusak 253 Sekolah
HUT ke-81 RI, Purbalingga Dorong Gotong Royong untuk Menjawab Persoalan Masyarakat5
Tanpa Tenda, Pejabat dan Peserta Upacara HUT ke 81 Kemerdekaan RI Kepanasan Bersama
juara umum
SMPN 3 Purbalingga Juara Umum POPDA 2026
WhatsApp Image 2026-08-18 at 00.54
Pameran Seniman Difabel "Rantara", Dorong Ekosistem Seni Lebih Inklusif
FULAD6
Presiden Vs Ekosistem Ilegal: Ujian Terberat Bukan Menutup Lubang, Melainkan Memotong Rantainya