*Pengolahan Yoghurt dan Nugget hingga Public Speaking

Praktik pengolahan nugget sayur (wortel, brokoli, dan jamur)
BANYUMAS, EDUKATOR–Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) membekali kecakapan hidup (life skill) bagi 20 santri Pondok Pesantren Baitul Mahmud (PPBM), Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, Banyumas.
Program yang berlangsung sejak awal Juni 2026 itu membekali santri dengan keterampilan pengolahan yoghurt dan nugget, pembuatan keju mozzarella, kewirausahaan, pengemasan dan pencitraan merek, pemasaran digital, desain logo, hingga public speaking.
Tim Pelaksana bersama dengan mitra Pondok Pesantren Baitul Mahmud
Ketua tim pengabdian kepada masyarakat Unsoed, Irfan Fadhlurrohman yang juga dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Unsoed, mengatakan, program tersebut dirancang agar santri tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga mampu mengembangkan potensi ekonomi secara mandiri.
“Santri diharapkan memiliki keterampilan vokasional, kemampuan komunikasi, dan jiwa kewirausahaan,” ujarnya kepada EDUKATOR, Sabtu (15/8/2026)..
Kegiatan tersebut mengusung tema “Penguatan Lifeskill Santri dalam Kecakapan Personal dan Vokasional melalui Teknologi Pengolahan Yoghurt-Nugget Berbasis Ekonomi Kreatif Berkelanjutan.
Dari Pengolahan Pangan hingga Pemasaran Digital
Program diawali dengan dua kali survei pendahuluan pada 5 dan 13 Juni 2026. Tim bersama mitra mengidentifikasi potensi, kebutuhan, serta kesiapan santri sebagai dasar penyusunan kegiatan pemberdayaan.
Pembekalan berlanjut dengan sosialisasi dan praktik pembuatan yoghurt pada 15 Juli 2026. Santri tidak hanya mempelajari tahapan produksi, tetapi juga aspek kebersihan, sanitasi, pengendalian mutu, pengemasan, serta peluang pengembangan produk pangan bernilai ekonomi.
Santri Pondok Pesantren Baitul Mahmud praktik membuat nugget sayur
Pada 25 Juli 2026, peserta mengikuti pelatihan Speak Up and Promote. Materi ini diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan santri dalam berkomunikasi serta mempromosikan produk.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada 8 Agustus melalui sosialisasi dan praktik pembuatan keju mozzarella. Pada hari yang sama, santri mengikuti pelatihan kewirausahaan, packaging-branding, dan pemasaran digital.
Selanjutnya, pada 13 Agustus, peserta mendapatkan pelatihan desain logo dan kemasan. Adapun teori dan praktik pengolahan nugget ayam dilaksanakan pada 15 Agustus 2026.
Santri Disiapkan Jadi Pelaku Usaha
Menurut Irfan, penguasaan teknologi pengolahan pangan menjadi pintu masuk untuk mengenalkan santri pada kegiatan ekonomi produktif. Karena itu, pelatihan juga diarahkan pada kemampuan menentukan target konsumen, menyusun strategi promosi, membangun merek, dan memanfaatkan media digital untuk memperluas pasar.
Produk yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai hasil praktik. Santri didorong mengembangkan yoghurt dan nugget sebagai produk bernilai jual yang berpeluang dipasarkan secara berkelanjutan.
Selain kemampuan vokasional, aspek kecakapan personal turut mendapat perhatian. Melalui public speaking, santri dilatih menyampaikan gagasan secara sistematis, berkomunikasi dengan baik, serta mempresentasikan produk yang mereka hasilkan.
“Dengan bekal itu, mereka dapat mengembangkan usaha secara mandiri maupun mendukung kegiatan ekonomi produktif di pesantren,” kata Irfan.
Libatkan Dosen dan Mahasiswa
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Irfan Fadhlurrohman sebagai ketua, Dr. Ririn Kurnia Trisnawati, S.S., M.A., M.Phil., dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unsoed, serta Adityo Nugroho, S.E., M.M., dari Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto.
Program juga melibatkan enam mahasiswa, yakni Dhika Adji Afinesta, Hafiz Nugraha, Dimas Abian Pamungkas, Amanda Ainan Salsabila, Nazmi Siti Safrina Whidarta, dan Firsty Valinka Azhari.
Tim Pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat Unsoed
Program tersebut merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan pendanaan hibah tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Melalui pendampingan tersebut, PPBM diharapkan tidak hanya menjadi ruang pendidikan keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai lingkungan yang menumbuhkan kemandirian, kreativitas, keterampilan, serta jiwa kewirausahaan santri.
Dengan kombinasi keterampilan produksi, pemasaran, pengemasan, dan komunikasi, para peserta diharapkan memiliki bekal lebih kuat untuk menghadapi dunia usaha maupun dunia kerja pada masa mendatang. (Alief Einstein/Prs)