Doktor Enha: Dosen Dituntut Rancang Pembelajaran Digital Bermakna

Bagikan :

*Tak Sekadar Unggah Materi

Foto bersama narasumber dan peserta workshop. 

MALANG, EDUKATOR–Pembelajaran digital di perguruan tinggi tidak cukup hanya dengan mengunggah materi, memberikan tugas, dan membuat kuis di Learning Management System (LMS). Dosen dituntut merancang seluruh rangkaian pembelajaran sebagai pengalaman belajar yang terstruktur, interaktif, dan menghasilkan bukti capaian mahasiswa.

Pandangan tersebut menjadi salah satu penekanan Dr. Ir. Nurul Hidayat, S.Pt., M.Kom., saat menjadi narasumber Seminar dan Workshop “Pengembangan Pembelajaran Digital (SPADA) yang digelar Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Provinsi Jawa Timur, di Hotel Grand Cara Malang, Rabu-Kamis , 19–20 Agustus 2026.

Dr Ir Nurul Hidayat, S.Pt, M.Kom (Nomer dua dari kanan)

Pria yang akrab disapa Doktor Enha dan kini menjabat Wadek III FT Unsoed ini mengajak dosen mengubah cara pandang terhadap pembelajaran digital. Menurutnya, platform pembelajaran digital seharusnya bukan sekadar tempat menyimpan bahan ajar, melainkan ruang yang mengarahkan mahasiswa menjalani proses belajar dari awal hingga menghasilkan bukti capaian.

“SPADA yang baik bukan rak digital berisi bahan ajar, melainkan arsitektur pengalaman belajar mahasiswa,” tegas Doktor Enha yang juga dosen Teknik Informatika Unsoed ini.

Peserta workshop

Pedagogi Harus Mendahului Teknologi
Doktor Enha menekankan bahwa pengembangan pembelajaran digital harus dimulai dari tujuan pembelajaran, bukan dari fitur yang tersedia di LMS. Dosen terlebih dahulu perlu menentukan kemampuan yang harus dikuasai mahasiswa, kemudian merancang pengalaman belajar, aktivitas, asesmen, dan baru memilih perangkat digital yang sesuai.

“Jangan mulai dari aktivitas Moodle yang ingin dipasang. Mulailah dari apa yang harus mampu dilakukan mahasiswa,” ujarnya.

Kerangka tersebut dimulai dari Rencana Pembelajaran Semester (RPS), capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK), dan sub-CPMK. Selanjutnya, rancangan dikembangkan menjadi materi, aktivitas, interaksi, asesmen, umpan balik, pemantauan kemajuan, hingga bukti capaian mahasiswa.

Doktor Enha memperkenalkan delapan tahap pengembangan kelas SPADA, yakni align, orient, structure, develop, engage, assess, control, dan improve. Rangkaian itu memastikan pembelajaran digital memiliki keterkaitan yang jelas antara tujuan, aktivitas, penilaian, dan perbaikan pembelajaran.

Peserta Tidak Sekadar Membawa Catatan
Dalam workshop itu,  tidak berhenti pada pemaparan konsep. Peserta juga mengikuti demonstrasi langsung pemasangan pembelajaran pada LMS dan praktik membuat prototipe pembelajaran digital.

Dalam sesi praktik, peserta diarahkan memilih satu mata kuliah, satu pertemuan, dan satu sub-CPMK. Dari pilihan tersebut, mereka membangun One-Week SPADA Learning Prototype yang mencakup pendahuluan, capaian pembelajaran, materi digital, video atau visual, forum, kuis, tugas, rubrik, rangkuman, referensi, serta aturan penyelesaian pembelajaran.

Dengan pola tersebut, peserta diharapkan pulang membawa prototipe yang dapat langsung dikembangkan dan diterapkan, bukan sekadar catatan hasil workshop.

Doktor Enha juga membedakan kelas digital yang hanya berfungsi sebagai “gudang file” dengan kelas yang memiliki learning story. Pada rancangan yang baik, mahasiswa diarahkan melalui tahapan orientasi, belajar, berdiskusi, berlatih, mengerjakan asesmen, menerima umpan balik, melakukan refleksi, hingga memperbaiki hasil belajarnya.

AI Perlu Diatur, Bukan Sekadar Ditolak
Selanjutnya dijelaskan, persoalan kecerdasan artifisial (AI) juga menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran digital.

Materi Doktor Enha menekankan bahwa penggunaan AI oleh mahasiswa tidak cukup dihadapi dengan larangan karena adopsi teknologi tersebut telah berlangsung lebih cepat dibandingkan respons sebagian institusi pendidikan.

Menurutnya, yang lebih penting adalah merancang tugas dan aktivitas pembelajaran sehingga penggunaan AI tetap mendukung proses berpikir mahasiswa.

Dalam SPADA, aturan penggunaan AI dapat dibedakan menjadi tiga pendekatan, yakni No AI, Selective AI, dan Full AI. Pada penggunaan terbatas, misalnya, AI dapat dimanfaatkan untuk melakukan brainstorming, mencari alternatif, memperbaiki struktur, atau memberikan umpan balik. Namun, mahasiswa tetap diwajibkan melakukan verifikasi, penyuntingan, dan deklarasi penggunaan AI.

Untuk pembelajaran yang menjadikan AI sebagai bagian dari proses, mahasiswa bahkan diarahkan menunjukkan tahapan prompt, keluaran AI, validasi, kesalahan, perbaikan, hingga refleksi.

Dari Workshop Menuju Pembelajaran Nyata
APTISI Jawa Timur menghadirkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pengembangan pembelajaran digital di perguruan tinggi, dengan peserta yang berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi swasta.

Selain Doktor Enha, workshop menghadirkan Rektor Universitas Pradita dan dikenal sebagai profesor bidang ilmu komputer, Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A., Kepala Pengembangan Cyberserta Universitas Bhinneka Nusantara Sugeng Widodo, S.Kom., M.Kom.

Sedangkan bertindak sebagai pemandu Dr. Eva Handriyantini, S.Kom., M.MT yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Kreatif Universitas Bhinneka Nusantara/STIKI Malang. (Prasetiyo)

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Ketika Negara Membutuhkan Keberanian: Menata Ulang Indonesia dari Akar Persoalan
WhatsApp Image 2026-08-21 at 18.50
Kelurahan Semarang & Argasoka Fasilitasi Halal dan NIB UMKM
WhatsApp Image 2026-08-21 at 11.45
Dua Film Karya Pelajar Pemenang Banjarnegara Movie 2026 Tayang di Bioskop
20260820_150123
Doktor Enha: Dosen Dituntut Rancang Pembelajaran Digital Bermakna
WhatsApp Image 2026-08-20 at 14.57
16 Atlet Disabilitas Banyumas Siap Berlaga di Peparpeda Jateng