
Ogoh-ogoh Buto Ijo, salah satu penampilan yang menarik pada Purbalingga Carbival 2026 dalam rangka menyemarkkan HUT ke 81 Kemerdekaan RI.
PURBALINGGA, EDUKATOR–Sosok ogoh-ogoh berkarakter “Buto Ijo” berukuran besar menjadi salah satu atraksi yang paling mencuri perhatian dalam Purbalingga Carnival 2026 , Sabtu (22/8/2026).
Kehadiran kreasi tersebut menjadi yang pertama dalam parade yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejak start di depan Kodim 0702 Purbalinga hingga finish di Alun-alun Purbalingga.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif mengatakan, penyelenggaraan carnival tahun ini diarahkan agar semakin menarik dan mampu mendatangkan lebih banyak masyarakat.
Ia berharap Purbalingga Carnival tidak hanya dikenal di tingkat kabupaten, tetapi berkembang hingga Jawa Tengah dan tingkat nasional. “Kami ingin penampilannya semakin menarik dan masyarakat yang hadir semakin banyak,” harap Bupati Fahmi.
Penampilan Perusda Owabong
Parade Tampil dengan Rute Berbeda
Lebih dari 80 kontingen turut ambil bagian dalam Purbalingga Carnival 2026. Mereka menyuguhkan beragam kostum, seni pertunjukan, serta kreasi budaya yang berpadu dalam parade menyusuri pusat Kota Purbalingga.
Rute parade tahun ini juga berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Rombongan berangkat dari depan Kodim 0702/Purbalingga, bergerak ke arah barat, kemudian memutari Alun-Alun Purbalingga.
Antusiasme warga terlihat sepanjang jalur parade. Mereka berkerumun di sejumlah lokasi untuk menikmati penampilan kontingen, terutama saat rombongan melintas di kawasan Alun-Alun hingga menuju kompleks Pendapa Dipokusumo sebagai titik akhir.
Selain menjadi ruang hiburan, Purbalingga Carnival memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran warga dan peserta selama acara menciptakan efek berantai bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang, serta sektor ekonomi lainnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Purbalingga berencana menjadikan Purbalingga Carnival sebagai agenda rutin. Kegiatan tersebut diproyeksikan digelar setiap satu atau dua tahun sekali dengan konsep, kualitas pertunjukan, dan tata penyelenggaraan yang terus dikembangkan. (Prasetiyo)