SBY Sumbang Rp 1 Miliar, Masjid Yudhoyono Mulai Dibangun di Situkung

Bagikan :

*Di Kawasan Huntara Korban Tanah Longsor 

Foto bersama di lokasi pembangunan Masjid Yudhoyono Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara. (Foto: Muji Prasetyo/EDUKATOR)

BANJARNEGARA, EDUKATOR–Pembangunan masjid di kawasan hunian sementara (huntara) korban tanah longsor Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, dimulai Sabtu (22/8/2026), ditandai peletakan batu pertama oleh Bupati Amalia Desiana. Masjid yang dibiayai dari sumbangan  Yudhoyono Foundation sebesar Rp 1 miliar itu ditargetkan selesai dalam waktu enam bulan ke depan.

Pembangunan masjid Yudhoyono tersebut disambut gembira warga yang selama ini harus berjalan hingga 2 kilometer untuk mencapai masjid terdekat.

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menjelaskan, pembangunan masjid tersebut menggunakan bantuan Yudhoyono Foundation sebesar Rp 1 miliar. Semula, dana dari yayasan yang digagas Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut dialokasikan untuk pembangunan unit huntara.

Bupati Banjarnegara Amalia Desiana meletakkan batu pertama pembangunan masjid Yudhoyono.(Foto: Muji Prasetyo/EDUKATOR)

“Namun, rencana itu berubah setelah seluruh bangunan huntara disediakan secara gratis oleh Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, dana bantuan kemudian dialihkan untuk pembangunan fasilitas umum berupa tempat ibadah.

“Atas restu Pak SBY, dana dialihkan untuk pembangunan masjid,” ujar Amalia Desiana.

Pembangunan masjid ini menjadi bagian dari pemulihan kehidupan warga setelah bencana tanah longsor melanda Dusun Situkung pada 16 November 2025.

Bencana tersebut dipicu hujan berintensitas tinggi dan berkepanjangan yang menyebabkan sebagian bukit runtuh dan menerjang kawasan permukiman. Kondisi perbukitan yang labil serta keberadaan mata air besar dan retakan di area perbukitan turut memperbesar risiko longsor.

Bencana tersebut menimbulkan dampak besar bagi masyarakat. Setelah rangkaian pencarian dan pertolongan, data akhir BNPB mencatat 21 orang meninggal dunia dan dua orang masih dinyatakan hilang.

Sebanyak 73 orang mengalami luka, sementara 1.058 orang harus mengungsi. Rumah warga yang terdampak juga mengalami kerusakan dan sebagian kawasan dinilai membutuhkan relokasi.

Sejak awal bencana, pemerintah bersama tim SAR gabungan melakukan evakuasi, pencarian korban, serta memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara juga menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat penanganan bencana.

Kondisi rumah yang rusak dan risiko bencana susulan membuat sebagian warga tidak dapat kembali ke tempat tinggal semula. Pemerintah kemudian menyiapkan huntara sebagai tempat tinggal sementara sebelum warga memperoleh hunian tetap.

Warga Situkung menyambut gembira pembangunan Masjid Yudhoyono.(Foto: Muji Prasetyo/EDUKATOR).

Huntara Jadi Tempat Tinggal Sementara
Sebanyak 59 unit huntara pertama di Desa Pandanarum diserahkan kepada penyintas pada Februari 2026. Pemkab Banjarnegara menyebut pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan pascabencana.

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, mengatakan pembangunan huntara akan dilanjutkan hingga seluruh penyintas mendapatkan tempat tinggal yang layak. Di kawasan tersebut, pemerintah juga menyiapkan hunian tetap sehingga warga nantinya memiliki tempat tinggal permanen.

Selain tempat tinggal, pemerintah secara bertahap membangun fasilitas dasar di kawasan huntara, termasuk sarana air bersih dan fasilitas umum. Langkah tersebut dilakukan agar warga tidak hanya memperoleh tempat tinggal, tetapi juga dapat menjalani kehidupan secara lebih layak selama masa pemulihan.

Bupati Amalia berharap, keberadaan masjid dan fasilitas huntara ini membuat warga merasa lebih aman dan nyaman dibandingkan saat berada di pengungsian.

“Seluruh niat baik dan upaya pemulihan pascabencana ini diharapkan dapat berjalan lancar hingga warga bisa menempati hunian tetap nantinya,” ujarnya.

Jarak Masjid Jadi Kendala Warga
Sementara itu bagi warga yang kini tinggal di huntara, keberadaan tempat ibadah menjadi kebutuhan penting. Selama ini, mereka harus berjalan cukup jauh menuju masjid terdekat.

Riswo, salah satu warga, mengatakan jarak tersebut mencapai sekitar 1 kilometer jika melalui jalur perkebunan. Jika menggunakan jalur umum, jaraknya sekitar 2 kilometer.

Kondisi itu menjadi kendala, terutama ketika hujan turun. Warga lanjut usia juga kesulitan karena sebagian tidak dapat mengendarai sepeda motor.

“Pembangunan masjid sangat penting dan dinantikan warga,” kata Riswo.

Menurut dia, keberadaan masjid baru akan membuat warga lebih mudah melaksanakan ibadah, terutama salat berjamaah.

Kemenag Siapkan TPQ Multifungsi
Selain pembangunan masjid, Kementerian Agama (Kemenag) turut mendukung penyediaan sarana Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Fasilitas tersebut dirancang multifungsi sehingga dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan sekaligus aktivitas warga. (Muji Prasetyo/Prs)

 

BERITA TERKINI

Prof ali
Prof. Dr. Ali Rokhman, M.Si. Jabat Plt Rektor Unsoed
WhatsApp Image 2026-08-23 at 21.19
Meriah, Karnaval HUT RI di Kelurahan Kutabanjarnegara
FAUZI AGUSTUS 2026
Menanamkan Keadilan Sejak Dini dari Ruang Kelas
IMG_20260822_180923_806
Ogoh-Ogoh Buto Ijo Meriahkan Purbalingga Carnival
warek4
Tiga Pimpinan Jadi Tersangka, Unsoed Pastikan Kampus Tetap Normal