Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
KEADILAN sering dianggap besar dan jauh. Kita membayangkannya berada di ruang sidang. Keadilan juga dikaitkan dengan lembaga penegak hukum.
Padahal, rasa adil tumbuh lebih dekat. Keluarga dan sekolah menjadi tempat pembelajaran pertama.
Anak tidak hanya belajar dari buku. Ia juga belajar melalui perlakuan sehari-hari.
Ia memperhatikan cara guru membagi perhatian. Ia melihat bagaimana aturan diterapkan kepada semua.
Anak juga belajar saat didengarkan sebelum dihakimi. Di situlah pendidikan keadilan sebenarnya dimulai.
Keadilan Bukan Sekadar Perlakuan Sama
Di tengah masyarakat, kita mengenal ungkapan tajam ke bawah. Sebaliknya, hukum sering disebut tumpul ke atas.
Ungkapan itu lahir dari rasa ketidakadilan. Masyarakat melihat aturan belum diterapkan secara setara.
Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya aturan. Aturan mungkin sudah lengkap dan prosedurnya tersedia.
Namun, keadilan kehilangan makna saat penerapannya berbeda. Jabatan, kekayaan, kedekatan, dan pengaruh bisa menjadi pembeda.
Karena itu, adil bukan selalu berarti sama. Setiap orang memiliki hak dan keadaan berbeda.
Dalam kondisi tertentu, perlakuan juga perlu proporsional. Keadilan harus mempertimbangkan kebutuhan dan tanggung jawab seseorang.
Di sekolah, dua murid bisa melakukan kesalahan serupa. Namun, penanganannya belum tentu harus sama.
Anak yang baru sekali melakukan kesalahan mungkin dinasihati. Ia juga perlu diberi kesempatan memperbaiki diri.
Sebaliknya, pelanggaran berulang membutuhkan pendampingan lebih serius. Keadilan bukanlah tindakan pilih kasih.
Keadilan menuntut keberanian melihat persoalan secara utuh. Keputusan tidak seharusnya lahir dari prasangka.
Guru Menjadi Teladan Pertama
Sebelum mengenal hakim, jaksa, atau polisi, anak mengenal guru. Dalam kehidupan sehari-hari, guru menjadi figur berwenang.
Guru memang bukan seorang hakim. Namun, guru memiliki kewenangan dalam kehidupan kelas.
Guru memberikan penilaian dan penghargaan. Guru juga menegur dan menetapkan aturan.
Karena itu, penggunaan kewenangan sangat menentukan. Anak belajar dari cara guru mengambil keputusan.
Bayangkan guru yang hanya memuji murid berprestasi. Sementara murid lain jarang mendapat perhatian.
Atau, guru lebih memaklumi kesalahan murid tertentu. Perlakuan berbeda mudah ditangkap oleh anak-anak.
Mungkin guru tidak bermaksud membeda-bedakan. Namun, anak sangat peka terhadap ketidakadilan.
Sebaliknya, guru dapat memberi teladan sederhana. “Aturan ini berlaku untuk kita semua.”
Kalimat sederhana itu memiliki makna besar. Anak belajar bahwa aturan berlaku bagi siapa pun.
Guru juga perlu mendengarkan penjelasan sebelum menghukum. Proses tersebut mengajarkan pentingnya sebuah keputusan.
Ketika guru mengakui kesalahannya, pelajaran semakin kuat. Anak belajar bahwa kewenangan bukan kebenaran mutlak.
Pemilik kekuasaan juga harus tunduk pada kebenaran. Keteladanan sering lebih kuat daripada nasihat.
Kelas Menjadi Tempat Belajar Keadilan
Pendidikan keadilan tidak berhenti pada benar atau salah. Anak perlu diajak memahami alasan di baliknya.
Mengapa suatu tindakan dianggap benar? Siapa yang dirugikan oleh sebuah keputusan?
Apakah aturan sudah melindungi semua pihak? Bagaimana jika kita berada di posisi orang lain?
Pertanyaan sederhana dapat melatih nalar anak. Mereka belajar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Saat terjadi perselisihan, guru tidak harus langsung memutuskan. Kedua pihak perlu didengarkan terlebih dahulu.
Murid dapat diajak mencari fakta bersama. Mereka juga belajar memahami perasaan masing-masing.
Setelah itu, mereka dapat merumuskan penyelesaian terbaik. Proses tersebut menjadi latihan penting bagi kehidupan.
Anak memahami bahwa persoalan tidak selalu hitam-putih. Ada fakta yang harus diperiksa dengan cermat.
Ada perasaan yang perlu dipahami. Ada pula kepentingan orang lain yang harus dihormati.
Di sinilah nalar kritis bertemu hati nurani.
Belajar Adil dari Persoalan Sederhana
Pembelajaran keadilan tidak harus melalui ceramah. Guru dapat memanfaatkan persoalan sehari-hari.
Mengapa antrean harus dihormati? Mengapa hak orang lain tidak boleh diambil?
Apa akibatnya jika ketua kelas pilih kasih? Mengapa fasilitas sekolah harus dijaga bersama?
Persoalan sederhana dapat memantik diskusi bermakna. Murid belajar melihat persoalan dari berbagai sudut.
Pembelajaran berbasis masalah juga dapat diterapkan. Murid dapat menganalisis sebuah kasus bersama.
Mereka mencari berbagai sudut pandang. Mereka kemudian menyampaikan pendapat secara terbuka.
Setelah itu, mereka merumuskan solusi bersama. Murid tidak sekadar menghafal definisi keadilan.
Mereka berlatih mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Pemilihan ketua kelas juga dapat menjadi laboratorium demokrasi. Pilihan seharusnya tidak didasarkan pada pertemanan.
Popularitas juga bukan satu-satunya pertimbangan. Tekanan kelompok pun tidak boleh menentukan pilihan.
Murid perlu belajar mempertimbangkan alasan yang masuk akal. Dari ruang kelas, karakter warga negara dibentuk.
Keadilan Membutuhkan Keberanian Moral
Menjadi adil mudah ketika semua orang setuju. Tantangan muncul ketika keputusan membuat kita tidak populer.
Seorang murid mungkin mengetahui temannya menyontek. Namun, ia takut dianggap tidak setia kawan.
Ketua kelas mungkin mengetahui pelanggaran temannya. Namun, ia takut kehilangan hubungan pertemanan.
Di sinilah pendidikan karakter menemukan maknanya. Anak perlu membangun keberanian moral.
Menjadi baik tidak selalu menyenangkan semua orang. Ada saatnya seseorang harus mengatakan tidak.
Bahkan, keputusan benar bisa menempatkan seseorang sendirian. Guru perlu membantu membangun keberanian tersebut.
Kelas harus menjadi ruang yang aman. Pendapat berbeda tidak boleh langsung ditertawakan.
Murid yang mengakui kesalahan tidak perlu dipermalukan. Penyampai fakta juga tidak boleh dicap pengkhianat.
Sekolah harus mengajarkan satu hal penting. Kebenaran tidak selalu ditentukan suara terbanyak.
Keadilan Menjadi Budaya Sekolah
Kita berharap lahir hakim yang jujur. Kita juga menginginkan polisi yang berintegritas.
Jaksa profesional dan pejabat bersih juga menjadi harapan. Namun, dari mana mereka belajar keadilan?
Mereka belajar dari keluarga dan lingkungan. Sekolah juga menjadi tempat pembentukan karakter penting.
Karena itu, pendidikan keadilan bukan tugas satu guru. Pendidikan Pancasila tidak boleh bekerja sendirian.
Keadilan harus menjadi budaya seluruh sekolah. Semua warga sekolah harus memberi keteladanan.
Guru piket dapat mengajarkan keadilan melalui perlakuan. Semua murid harus diperlakukan secara manusiawi.
Wali kelas perlu mendengarkan kedua pihak. Kesimpulan tidak boleh dibuat secara tergesa-gesa.
Kepala sekolah juga perlu memberikan keteladanan. Kedekatan pribadi tidak boleh menentukan perlakuan.
Petugas sekolah pun memiliki peran serupa. Sikap hormat kepada semua menjadi pelajaran penting.
Anak-anak terus belajar dari lingkungan. Pembelajaran terjadi, bahkan tanpa penjelasan materi.
Menyemai Keadilan untuk Masa Depan
Pendidikan keadilan bukan sekadar mencetak penegak hukum. Tujuannya jauh lebih luas dan mendasar.
Sekolah perlu membentuk manusia yang bertanggung jawab. Mereka harus mampu menggunakan kebebasan secara benar.
Tidak semua murid akan menjadi hakim. Tidak semuanya menjadi polisi atau jaksa.
Sebagian mungkin menjadi pengusaha atau pemimpin. Sebagian menjadi guru dan pengurus masyarakat.
Ada pula yang menjadi warga biasa. Namun, semuanya akan menghadapi pilihan hidup.
Mereka dapat memperlakukan orang lain secara adil. Mereka juga dapat memilih melakukan sebaliknya.
Karena itu, kekuasaan harus digunakan secara bertanggung jawab. Kepentingan bersama tidak boleh dikalahkan kepentingan pribadi.
Tugas guru bukan sekadar mengisi kepala. Guru juga membantu membangun kompas moral.
Anak perlu membedakan keuntungan pribadi dan keadilan. Kemampuan itu akan menentukan sikap mereka kelak.
Keadilan besar dalam masyarakat bermula dari kebiasaan kecil. Semuanya dapat tumbuh dari lingkungan sekolah.
Dari guru yang tidak pilih kasih. Dari aturan yang berlaku bagi semua.
Dari keberanian mengakui kesalahan. Dari kesediaan mendengarkan sebelum menghakimi.
Dari kebiasaan menghormati hak orang lain. Kebiasaan kecil itu akan membentuk karakter besar.
Jika sekolah mampu menanamkan nilai tersebut, masa depan lebih menjanjikan.
Sebab, setiap pemimpin pernah menjadi anak. Setiap penegak hukum pernah belajar di sekolah.
Di ruang kelas, mereka belajar satu pelajaran penting. Keadilan bukan sekadar mengetahui mana yang benar.
Keadilan adalah keberanian memperlakukan orang lain dengan benar.(*)