Kepala Sekolah Baru, Jangan Mulai dari Nol

Bagikan :

Oleh: Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I
Kepala Bidang Pembinaan SMP
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga

SETELAH pengukuhan, seorang kepala sekolah biasanya membawa pulang dua hal: surat keputusan dan tanggung jawab. Yang pertama dapat disimpan dalam map. Yang kedua harus dibawa setiap hari. Di situlah sesungguhnya perjalanan kepemimpinan dimulai.

Bagi kepala sekolah yang mendapat amanah di tempat baru, ada satu pesan sederhana yang penting direnungkan: jangan mulai dari nol. Datanglah ke sekolah bukan dengan pikiran bahwa semuanya harus diubah, melainkan dengan kesediaan memahami apa yang sudah tumbuh di dalamnya.

Sebab sekolah bukan ruang kosong. Ada guru yang telah lama mengajar, murid yang sedang bertumbuh, budaya yang telah terbentuk, praktik baik yang telah berjalan, persoalan yang belum selesai, serta harapan orang tua dan masyarakat.

Kepala sekolah baru bukan datang untuk menghapus perjalanan itu. Ia datang untuk melanjutkan yang baik, memperbaiki yang belum baik, dan menggerakkan perubahan yang dibutuhkan.

Pesan ini menjadi semakin penting di tengah tuntutan pendidikan yang terus berubah. Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025 menegaskan bahwa guru dapat diberi tugas sebagai kepala sekolah untuk memimpin dan mengelola satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan layanan pendidikan. Regulasi tersebut juga mengatur mekanisme penugasan dan penjaminan mutu.

Dengan demikian, menjadi kepala sekolah bukan sekadar memperoleh jabatan. Ia adalah amanah profesional untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih bermutu bagi murid.

Jangan Buru-buru Mengubah
Salah satu godaan pemimpin baru adalah ingin segera menunjukkan perubahan. Program baru dibuat, aturan baru disusun, kebiasaan lama dipertanyakan. Keinginan untuk bergerak tentu baik. Namun, perubahan tanpa pemahaman dapat melahirkan persoalan baru.

Karena itu, 30 hari pertama sebaiknya menjadi masa untuk mendengar dan membaca.

Dengarkan guru. Dengarkan tenaga kependidikan. Dengarkan murid. Temui orang tua. Amati budaya sekolah. Lihat pembelajaran di kelas. Pelajari data dan program yang sudah berjalan.

Pertanyaan pertama bukan, “Apa yang akan saya ubah?”, melainkan, “Apa yang sudah baik di sekolah ini?”

Kemudian bertanyalah: Apa yang belum berhasil? Apa kebutuhan murid? Apa yang menjadi kekuatan guru? Apa persoalan yang paling mendesak? Program mana yang perlu dilanjutkan, diperbaiki, dihentikan, atau dikembangkan?

Dari sana kepala sekolah akan menemukan peta yang lebih jernih.

Pemimpin yang matang memahami bahwa tidak semua yang lama harus ditinggalkan dan tidak semua yang baru pasti lebih baik.

Membaca Sekolah dengan Data
Kepala sekolah abad ke-21 tidak cukup memimpin berdasarkan intuisi. Pengalaman tetap penting, tetapi keputusan perlu ditopang bukti.

Data hasil belajar, asesmen, Rapor Pendidikan, kehadiran, kondisi guru, hasil supervisi, maupun informasi tentang kebutuhan murid dapat menjadi bahan untuk memahami sekolah secara lebih objektif.

Pertanyaannya sederhana: Apa masalah utama kita? Mengapa masalah itu terjadi? Apa buktinya? Apa yang paling mungkin kita lakukan? Bagaimana kita tahu bahwa perubahan itu berhasil?

Cara berpikir demikian menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar.

Kepala sekolah tidak hanya membuat program, tetapi membangun siklus perbaikan berkelanjutan: membaca kondisi, menentukan prioritas, melakukan intervensi, merefleksikan hasil, lalu memperbaiki strategi.

Karena itu, tidak perlu sepuluh program dalam satu tahun jika dua atau tiga prioritas yang benar-benar penting dapat dikerjakan dengan konsisten. Lebih baik sedikit program, tetapi nyata dampaknya, daripada banyak kegiatan yang habis di laporan.

Dari Administrator Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Tantangan kepala sekolah hari ini juga jauh lebih kompleks. Standar Proses melalui Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 telah menggantikan standar proses sebelumnya dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta dinamika sosial.

Konsekuensinya jelas: kepala sekolah tidak cukup memastikan jadwal, administrasi, dan rapat berjalan. Ia harus mengetahui apa yang terjadi di ruang kelas.

Apakah murid aktif berpikir? Apakah pembelajaran bermakna? Apakah guru memberi ruang bagi murid untuk bertanya, mencoba, berkolaborasi, dan merefleksikan pengalaman belajar? Apakah asesmen digunakan untuk memperbaiki pembelajaran?

Di sinilah kepala sekolah harus hadir sebagai pemimpin pembelajaran.

Supervisi pun perlu dipahami bukan sebagai kegiatan mencari kesalahan guru. Supervisi seharusnya menjadi percakapan profesional untuk membantu guru melihat kekuatan, menemukan tantangan, dan mengembangkan praktik pembelajaran.

Kepala sekolah yang baik bukan yang paling sering memberi instruksi, tetapi yang mampu membuat guru semakin berdaya untuk mengajar.

Sekolah Harus Aman dan Memanusiakan
Kualitas pendidikan juga tidak dapat dipisahkan dari kualitas lingkungan belajar. Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menempatkan pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital sebagai bagian dari lingkungan sekolah yang kondusif.

Artinya, kepala sekolah memiliki tanggung jawab membangun sekolah yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga aman, nyaman, dan memuliakan martabat manusia.

Anak sulit belajar jika takut. Guru sulit berkembang jika selalu merasa dihakimi. Kolaborasi tidak tumbuh dalam suasana saling curiga.

Karena itu, kepemimpinan sekolah harus menumbuhkan budaya sederhana: saling menghargai, terbuka terhadap kritik, berani belajar dari kesalahan, dan bersama-sama mencari solusi.

Sekolah yang baik bukan sekolah tanpa masalah. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menghadapi masalah dengan cara yang sehat dan manusiawi.

Teladan Lebih Kuat daripada Instruksi
Pada akhirnya, kepemimpinan selalu kembali kepada keteladanan. Jika kepala sekolah menginginkan guru disiplin, ia harus menunjukkan disiplin. Jika ingin guru terus belajar, ia harus menjadi pembelajar. Jika menghendaki budaya kolaborasi, ia harus terlebih dahulu membuka ruang kolaborasi.

Kepala sekolah tidak mungkin membangun budaya sekolah hanya dengan surat edaran. Budaya tumbuh dari apa yang dilakukan berulang-ulang dan dicontohkan oleh pemimpinnya.

Karena itu, kepala sekolah baru perlu membangun kepercayaan sebelum menuntut perubahan.

Datanglah ke ruang guru bukan hanya ketika ada masalah. Hadirlah di kelas bukan hanya ketika supervisi. Sapa murid bukan hanya ketika upacara.

Kepemimpinan yang dekat bukan berarti kehilangan kewibawaan. Justru dari kedekatan yang sehat lahir kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir kemauan untuk bergerak bersama.

Dari Purbalingga untuk Masa Depan
Gagasan tersebut sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Purbalingga. RPJMD 2025–2029 menempatkan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu agenda strategis pembangunan.

Visi dan misi daerah juga menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan untuk membangun SDM yang unggul. Maka, sekolah tidak boleh dipandang sekadar sebagai unit layanan pendidikan. Sekolah adalah ruang pembangunan manusia.

Di ruang kelas, kualitas generasi Purbalingga sedang dibentuk. Di tangan guru, kompetensi dan karakter anak-anak sedang ditumbuhkan. Dan melalui kepala sekolah, seluruh energi itu diarahkan.

Karena itu, kepala sekolah baru perlu memiliki keberanian untuk mendengar, memilih, dan bergerak.

Mendengar sebelum mengambil keputusan. Memilih prioritas sebelum membuat program. Bergerak bersama sebelum menuntut orang lain bergerak.

Jangan Mulai dari Nol
Kepala sekolah baru tidak harus membuat sekolah menjadi baru. Ia harus membuat sekolah menjadi lebih baik.

Mulailah dengan mengenali sekolah. Pertahankan praktik baik. Perbaiki yang belum berhasil. Bangun kepercayaan. Kuatkan guru. Hadir dalam pembelajaran. Gunakan data. Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

Dan di atas semuanya, jangan kehilangan pertanyaan paling penting: Apakah semua yang kita lakukan benar-benar membuat murid lebih baik?

Sebab ukuran keberhasilan kepala sekolah bukanlah banyaknya program yang dapat diceritakan, melainkan perubahan yang dapat dirasakan.

Apakah guru bertumbuh? Apakah pembelajaran menjadi lebih bermakna? Apakah sekolah semakin aman dan nyaman? Apakah murid semakin aktif, percaya diri, berkarakter, dan berkembang?

Jika jawabannya ya, kepemimpinan telah menemukan maknanya.

Pengukuhan hanya berlangsung sehari. Jabatan memiliki batas waktu. Tetapi jejak seorang kepala sekolah dapat tinggal jauh lebih lama—dalam budaya sekolah, dalam profesionalitas guru, dan terutama dalam kehidupan murid yang pernah dipimpinnya.

Karena itu, kepada para kepala sekolah yang baru mendapat amanah, pesan saya sederhana: Jangan datang untuk menjadi kepala sekolah yang baru. Datanglah untuk menjadi pemimpin yang membuat sekolah lebih baik.

Jangan mulai dari nol. Mulailah dari apa yang sudah baik. Bergeraklah dari apa yang dibutuhkan. Dan arahkan semuanya kepada masa depan murid.(*)

BERITA TERKINI

pri2
Kepala Sekolah Baru, Jangan Mulai dari Nol
WhatsApp Image 2026-08-27 at 04.55
Radhyana Wakili Jateng Kenalkan Batik Gumelem ke Tingkat Nasional
Bupati Purbalingga Kepala Sekolah Berperan Tentukan Masa Depan Generasi Purbalingga4
135 Guru Dikukuhkan Menjadi Kepala Sekolah, Dituntut Menjadi Teladan yang Baik
FULAD6
Patahan Sejarah: 1998 dan 2026, Apa yang Sama dan Apa yang Berbeda?
WhatsApp Image 2026-08-24 at 21.32
PMB PKN STAN Dibuka, Purbalingga Dapat Tiga Formasi Jalur Pembibitan