BEM Unsoed Promosikan Jenang Bumbung Desa Windujaya

Bagikan :

*Sebagai Oleh-oleh Khas Kuliner Tradisional

Bentuk Jenang Bumbung setelah dimasak. Makanan khas Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas.Makanan ini potensial untuk dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. 

BANYUMAS, EDUKATOR–Jenang bumbung, kuliner tradisional Desa Windujaya, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, mulai dilirik sebagai produk pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi. Selain mempertahankan warisan kuliner masyarakat pegunungan, makanan berbahan beras, kelapa, gula, dan bambu muda ini berpeluang dikembangkan menjadi produk oleh-oleh khas desa.

Potensi tersebut digali Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) BEM Unsoed saat berkunjung ke Desa Windujaya, Rabu (12/8/2026). Tim mendokumentasikan proses produksi, menggali pengalaman pelaku usaha, serta melihat peluang pengembangan jenang bumbung sebagai produk unggulan pangan lokal.

Ikut dalam kegiatan tersebut Ketua Tim Pengelola PPK Ormawa Unsoed Suryanto, S.KM., M.Sc., dosen pendamping Kunandar Prasetyo, S.P., M.P., Ketua PPK Ormawa BEM Unsoed Pamungkas, mahasiswa FISIP Unsoed, serta sejumlah mahasiswa.

Proses Memasukkan Jenang Bumbung ke dalam bambu.

Warisan Kuliner Sejak Zaman Penjajahan
Jenang bumbung merupakan makanan tradisional yang telah dikenal sejak zaman penjajahan dan hingga kini masih ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan. Keunikannya terletak pada proses pengolahan yang menggunakan bambu muda sebagai wadah sekaligus bagian dari proses pemasakan.

Di Desa Windujaya, pemerintah desa mulai mendorong kembali pengembangan jenang bumbung sebagai salah satu potensi pangan lokal. Upaya tersebut didukung ketersediaan bahan baku yang relatif melimpah, seperti beras, kelapa, dan bambu.

Keberadaan bahan baku tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan produksi. Di sisi lain, pengembangan jenang bumbung diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi bahan pangan lokal sekaligus mempertahankan warisan kuliner desa.

Pesanan Ramai, Keuntungan Bisa Rp 200 Ribu
Potensi ekonomi jenang bumbung mulai dirasakan sejumlah warga. Meski belum menjadi mata pencaharian utama, produksi makanan tradisional tersebut dapat memberikan tambahan penghasilan, terutama ketika pesanan meningkat.

Salah seorang produsen, Sefi, mengaku baru sekitar satu bulan menjual jenang bumbung secara lebih rutin. Padahal, ia telah lama memiliki kemampuan membuat makanan tradisional tersebut.

Salah satu pesanan bahkan mencapai lima kilogram untuk dibawa sebagai oleh-oleh ke Kalimantan. Dari pesanan tersebut, nilai penjualan mencapai sekitar Rp400.000 dengan keuntungan kurang lebih Rp200.000 dalam sekali produksi.

“Pesanan ramai bisa menambah penghasilan keluarga,” ujar Sefi.

Jenang bumbung dipasarkan dalam beberapa ukuran. Ukuran lima sentimeter dijual sekitar Rp 3.000, ukuran 10 sentimeter Rp5.000, sedangkan ukuran satu meter dibanderol Rp50.000.

Berdasarkan perhitungan sederhana pelaku usaha, modal sekitar Rp100.000 untuk membeli bahan seperti beras, gula, kelapa, dan tepung terigu dapat menghasilkan penjualan sekitar Rp150.000.

Dibuat Berjam-Jam, Melibatkan Warga
Produksi jenang bumbung membutuhkan proses yang cukup panjang. Beras terlebih dahulu direndam sejak pagi, kemudian digiling pada sore hari. Adonan selanjutnya dimasukkan ke dalam bambu muda dan dibakar selama berjam-jam pada malam hari.

Proses tersebut membutuhkan ketelatenan dan tenaga. Salah satu tantangan yang dirasakan produsen adalah panas karena proses pemasakan dilakukan di dekat api.

“Tantangannya hanya panas saat proses pembakaran,” kata Sefi.

Produsen lainnya, Susanto, mengatakan pesanan jenang bumbung sebenarnya cukup banyak. Namun, besarnya keuntungan sangat bergantung pada jumlah pesanan yang diterima.

Menurutnya, tingginya permintaan dapat menjadi peluang apabila produksi dan pemasaran dilakukan secara lebih terorganisasi.

Pesanan 35 Kilogram Libatkan 20 Warga
Jenang bumbung tidak hanya diproduksi untuk dijual sehari-hari. Kuliner tersebut juga kerap hadir dalam hajatan dan berbagai kegiatan masyarakat Desa Windujaya.

Salah satu momentum yang turut memperkenalkan jenang bumbung secara lebih luas adalah Gebyar Kawasan Perdesaan Wikabalung 2026 sekaligus peluncuran Wikabalung Adventure. Dalam kegiatan tersebut, jenang bumbung disajikan dalam sesi makan bersama.

Sesi makan bersama Jenang Bumbung pada Gebyar Kawasan Perdesaan Wikabalung 2026.

Pada kegiatan itu, Sefi menerima pesanan hingga 35 kilogram. Produksi dalam jumlah besar tersebut dikerjakan secara gotong royong dengan melibatkan sekitar 20 warga RW 5 Desa Windujaya.

“Pesanan 35 kilogram dibuat bersama warga RW 5,” ujar Sefi.

Keterlibatan puluhan warga menunjukkan bahwa produksi jenang bumbung tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga mampu menggerakkan semangat gotong royong masyarakat.

PPKO Unsoed Dorong Pengembangan Produk
Tim PPKO BEM Unsoed melihat jenang bumbung sebagai salah satu potensi lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh. Potensi tersebut tidak hanya terletak pada cita rasa dan keunikannya, tetapi juga pada nilai sejarah serta keterlibatan masyarakat dalam proses produksinya.

Pengembangan jenang bumbung dapat dilakukan melalui penguatan pemasaran, dokumentasi proses produksi, pengemasan, serta promosi melalui media digital. Strategi tersebut penting agar produk tradisional dapat menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa kehilangan identitas lokalnya.

“Jenang bumbung memiliki potensi ekonomi dan budaya,” kata Pamungkas.

Pelestarian kuliner tradisional juga perlu dilakukan secara beriringan dengan pengembangan ekonomi. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mengenal jenang bumbung sebagai warisan kuliner, tetapi juga melihatnya sebagai peluang usaha.

Dari Tradisi Menjadi Produk Unggulan
Keberadaan jenang bumbung menunjukkan bahwa kekayaan pangan lokal dapat menjadi modal pengembangan ekonomi masyarakat. Ketersediaan bahan baku, keterampilan warga, sejarah kuliner, serta dukungan pemerintah desa menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan secara bersama-sama.

Tim PPKO BEM Unsoed berharap dokumentasi dan penggalian potensi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat jenang bumbung sebagai produk khas Desa Windujaya.

Dengan penguatan produksi, pemasaran, dan keterlibatan masyarakat, jenang bumbung berpeluang naik kelas dari makanan tradisional menjadi produk unggulan desa.

Kuliner yang dahulu hadir dalam kehidupan masyarakat pegunungan tersebut kini memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Dari bambu muda dan bahan pangan sederhana, jenang bumbung dapat menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga Windujaya. (Prasetiyo)

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-04 at 20.11
Khidmat, Penyambutan ETK Kwarda Jateng di Perbatasan Kebumen-Banjarnegara
TOP_9204
75 UMKM dan 29 Pesantren Ramaikan SELARAS 2026
536188746_1207451184483089_6673379772962767251_n
Dosen DKV UMP Tegar Roli Anugrafianto: AI Ubah Wajah Media, Etika Jadi Taruhannya
FULAD6
Istana di Jakarta, Komando di Solo? Ketika Pengaruh Politik Mulai Membentuk Pusat Gravitasi Kekuasaan
FAUZI MERAH
Belajar dari Fenomena “Hardship Camp” dan Menemukan Kembali Makna Pendidikan Karakter