Dosen DKV UMP Tegar Roli Anugrafianto: AI Ubah Wajah Media, Etika Jadi Taruhannya

Bagikan :

Roli Anugrafianto, M.Sos., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).(Foto: Dok pribadi/EDUKATOR)

PURWOKERTO, EDUKATOR–Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara industri media memproduksi konten. Di balik kecepatan dan kreativitas yang ditawarkan, teknologi tersebut juga menghadirkan persoalan serius terkait etika, transparansi, hak cipta, hingga kepercayaan publik.

“AI telah mengubah cara industri media bekerja secara signifikan.” kata Tegar Roli Anugrafianto, M.Sos., dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), saat ditemui di Purwokerto, Jumat (4/9/2026).

Tegar yang juga sedang menempuh studi Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran itu menyampaikan pandangannya dalam International Conference on Communication, Digital Ecosystem and Society (ICODES) 2026. Konferensi internasional tersebut digelar secara virtual pada 4–5 Agustus 2026 lalu oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM).

Forum tersebut mengusung tema “Communication in Algorithmic Societies: Transformation, Ethics, and Participation.” Dalam kegiatan itu, Tegar mempresentasikan kajian berjudul “Artificial Intelligence and the Transformation of Media Content Production: Opportunities and Ethical Challenges in Modern Digital Media.”

AI Mengubah Cara Industri Media
Dalam paparannya, Tegar menjelaskan AI telah masuk semakin jauh ke dalam ekosistem industri media. Teknologi seperti natural language processing (NLP), machine learning, dan generative AI kini digunakan dalam berbagai tahapan produksi.

Pemanfaatannya mencakup pembuatan konten secara otomatis, rekomendasi konten berdasarkan karakteristik audiens, pembuatan gambar, video, dan teks, moderasi konten, hingga analisis prediktif untuk membaca perilaku audiens.

Perubahan tersebut membuat produksi media menjadi semakin cepat dan personal. Kehadiran generative AI juga membuka ruang baru bagi kreativitas dalam menghasilkan berbagai bentuk konten.

Menurut Tegar, persoalan utama di era AI bukan lagi sebatas apakah teknologi tersebut akan digunakan atau tidak. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan pemanfaatannya tetap berada dalam koridor etika dan kepentingan publik.

“Transformasi teknologi harus berjalan bersama tanggung jawab etik.” ujarnya.

Produktivitas Naik, Risiko Mengikuti
Hasil kajian menunjukkan AI memberikan sejumlah peluang bagi industri media. Otomatisasi dapat mempercepat produksi, personalisasi meningkatkan keterlibatan audiens, sedangkan generative AI membuka ruang inovasi kreatif.

Sementara itu, predictive analytics dapat membantu organisasi media mengambil keputusan strategis berdasarkan pola dan kecenderungan perilaku audiens.

Namun, berbagai keuntungan tersebut berjalan beriringan dengan sejumlah risiko. Kajian Tegar mengidentifikasi algorithmic bias, deepfake, persoalan hak cipta, serta akuntabilitas sebagai tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.

Bias algoritma berpotensi menghasilkan diskriminasi dalam penyajian informasi. Sementara itu, deepfake dapat mengikis kepercayaan publik karena masyarakat semakin sulit membedakan konten asli dan manipulatif.

Persoalan hak cipta juga muncul dalam ekosistem AI. Penggunaan berbagai karya sebagai bagian dari proses pengembangan teknologi menimbulkan pertanyaan mengenai kepemilikan, izin penggunaan, serta pihak yang bertanggung jawab atas hasil produksi.

“Kemajuan AI perlu diimbangi tata kelola yang bertanggung jawab.” kata Tegar.

Persoalan etika menjadi semakin penting ketika AI mampu menghasilkan konten yang secara visual maupun tekstual sulit dibedakan dari karya manusia. Karena itu, transparansi mengenai penggunaan AI menjadi bagian penting dalam mempertahankan kredibilitas media.

Manusia Tetap Memegang Kendali
Salah satu gagasan utama dalam kajian tersebut adalah pentingnya Responsible AI Governance atau tata kelola AI yang bertanggung jawab.

Dalam kerangka tersebut, transformasi AI melalui otomatisasi, personalisasi, generative AI, dan analitik harus diimbangi dengan pengawasan yang memadai.

Tegar menilai kehadiran AI tidak seharusnya diposisikan sebagai pertarungan antara manusia dan mesin. Teknologi harus dikembangkan sebagai instrumen yang membantu kemampuan manusia.

Pertimbangan etis dan tanggung jawab sosial, kata dia, tetap harus menjadi fondasi dalam pemanfaatan teknologi tersebut.

Kajian yang dipresentasikan Tegar merekomendasikan organisasi media mulai menerapkan kerangka AI yang beretika. Langkah tersebut meliputi transparansi algoritma, pengawasan manusia, serta kepatuhan terhadap regulasi.

“Manusia harus tetap mengendalikan keputusan yang penting.” tegasnya.

Dengan tata kelola yang bertanggung jawab, AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan personalisasi tanpa mengorbankan kepercayaan publik.

Tegar menegaskan masa depan media bukan tentang pertarungan manusia melawan AI. Sebaliknya, teknologi dan manusia harus berjalan bersama secara bertanggung jawab.

“Masa depan media adalah manusia bersama AI bertanggung jawab.” jelasnya.

Menurutnya, keputusan yang menyangkut kebenaran informasi, kepentingan publik, dan tanggung jawab sosial tidak boleh sepenuhnya dilepaskan dari manusia.

DKV UMP Masuk Percakapan Global
Keikutsertaan dosen DKV UMP dalam forum internasional tersebut juga menunjukkan semakin luasnya ruang kajian desain komunikasi visual.

DKV tidak lagi hanya berbicara mengenai estetika dan produksi visual. Bidang tersebut kini bersinggungan dengan algoritma, generative AI, produksi media digital, perilaku audiens, hingga etika teknologi.

Perkembangan AI sekaligus menjadi tantangan bagi perguruan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi industri kreatif yang terus berubah.

Kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan beriringan dengan literasi digital, daya kritis, kreativitas, dan kesadaran etik.

Tegar menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam memastikan generasi muda tidak hanya menjadi pengguna AI yang terampil. Mahasiswa juga harus memahami konsekuensi sosial dari teknologi yang digunakan.

“Mahasiswa harus memahami batas penggunaan teknologi secara bijak.” pungkasnya.

Menurutnya, mahasiswa saat ini akan memasuki industri yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Mereka harus mampu menggunakan AI sekaligus memahami kapan, mengapa, dan sampai batas mana teknologi tersebut digunakan.

Dengan demikian, kreativitas masa depan tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. Kecerdasan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecerdasan etik agar perkembangan AI tetap memberikan manfaat bagi media dan masyarakat. (*/Prasetiyo)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-04 at 20.11
Khidmat, Penyambutan ETK Kwarda Jateng di Perbatasan Kebumen-Banjarnegara
TOP_9204
75 UMKM dan 29 Pesantren Ramaikan SELARAS 2026
536188746_1207451184483089_6673379772962767251_n
Dosen DKV UMP Tegar Roli Anugrafianto: AI Ubah Wajah Media, Etika Jadi Taruhannya
FULAD6
Istana di Jakarta, Komando di Solo? Ketika Pengaruh Politik Mulai Membentuk Pusat Gravitasi Kekuasaan
FAUZI MERAH
Belajar dari Fenomena “Hardship Camp” dan Menemukan Kembali Makna Pendidikan Karakter