Oleh: Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I
Kabid Pembinaan SMP
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga
*Menguatkan Tri Pusat Pendidikan untuk Membangun SDM Unggul Purbalingga
ADA hal sederhana yang sering kita lupakan ketika berbicara tentang mutu pendidikan: anak tidak hidup hanya di sekolah. Mereka memang belajar di ruang kelas, tetapi juga belajar dari percakapan di rumah, perilaku orang dewasa di sekitarnya, pergaulan dengan teman, kehidupan masyarakat, dan kini dari layar gawai yang hampir selalu berada dalam jangkauan tangan.
Karena itu, membangun sumber daya manusia (SDM) Purbalingga yang unggul tidak mungkin hanya diserahkan kepada sekolah.
Gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang Tri Pusat Pendidikan—keluarga, sekolah, dan masyarakat—justru semakin relevan di tengah perubahan zaman. Persoalannya bukan apakah konsep itu masih relevan, melainkan bagaimana menghidupkannya kembali dalam kehidupan pendidikan kita.
Anak dan Ekosistemnya
Seorang guru dapat mengajarkan kejujuran di sekolah. Namun, nilai itu akan jauh lebih kuat ketika anak melihat kejujuran dipraktikkan di rumah dan lingkungannya. Sekolah dapat mengajarkan disiplin. Tetapi, pembiasaan itu akan sulit tumbuh jika lingkungan anak tidak memberikan contoh yang sama. Sekolah dapat mengajak anak mencintai buku. Namun, budaya literasi akan lebih mudah tumbuh apabila membaca juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
Di sinilah kita memahami bahwa pendidikan sesungguhnya bukan hanya persoalan apa yang diajarkan, tetapi juga apa yang dialami anak setiap hari.
Anak belajar dari teladan sebelum belajar dari teori. Maka, mutu pendidikan harus dibangun sebagai ekosistem.
Keluarga Tidak Boleh Menjadi Penonton
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama. Peran orang tua tidak harus diwujudkan dengan menguasai semua materi pelajaran. Yang jauh lebih penting adalah menghadirkan keteladanan, perhatian, komunikasi, dan pendampingan.
Di tengah perubahan teknologi, misalnya, orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai. Anak perlu diajak memahami bagaimana menggunakan teknologi secara sehat, aman, etis, dan produktif. Orang tua perlu mengetahui apa yang sedang dipelajari anak, tetapi juga apa yang sedang dirasakan anak.
Komunikasi sekolah dan keluarga karena itu perlu bergeser. Bukan hanya berlangsung ketika anak bermasalah atau ketika pembagian rapor tiba, melainkan menjadi komunikasi yang berkelanjutan tentang perkembangan, potensi, karakter, dan masa depan anak.
Orang tua bukan pelanggan sekolah. Orang tua adalah mitra pendidikan.
Sekolah yang Menghidupkan Pembelajaran
Di sisi lain, sekolah juga harus terus berbenah. Kebijakan pendidikan nasional bergerak menuju pembelajaran yang lebih bermakna dan berorientasi pada kompetensi. Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2025 tentang Standar Isi menjadi bagian dari arah tersebut.
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 juga memperkuat pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menekankan pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Artinya, pembelajaran tidak semestinya berhenti pada kemampuan anak menjawab soal.
Anak perlu mampu memahami persoalan, mengajukan pertanyaan, berpikir kritis, bekerja sama, menghasilkan karya, mengambil keputusan, dan merefleksikan pengalaman. Pertanyaan tentang mutu pendidikan karena itu tidak cukup berhenti pada, “Berapa nilai anak?”
Kita juga harus bertanya: Apakah anak mampu berpikir? Apakah ia memiliki karakter? Apakah ia mampu bekerja sama? Apakah ia mampu menghadapi perubahan? Dan yang paling penting, apakah ilmu yang dimilikinya mampu memberi manfaat bagi kehidupan?
Sekolah Harus Aman untuk Bertumbuh
Tidak mungkin kita berharap anak tumbuh menjadi manusia unggul jika ia belajar dalam suasana takut. Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman memperluas perhatian pada keamanan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, keadaban, serta keamanan digital.
Pesan yang terkandung di dalamnya penting: sekolah harus menjadi ruang yang membuat anak aman untuk belajar, aman untuk bertanya, aman untuk berbeda, dan aman untuk berkembang. Anak yang melakukan kesalahan perlu dibimbing untuk memperbaiki diri, bukan sekadar diberi stigma.
Anak yang berbeda perlu diterima, bukan dijauhkan. Anak yang belum berhasil perlu didampingi, bukan dilabeli. Sebab, pendidikan pada hakikatnya adalah proses menumbuhkan manusia.
Masyarakat adalah Ruang Kelas yang Lebih Luas
Pendidikan juga perlu kembali mendekat kepada kehidupan masyarakat. Purbalingga memiliki modal sosial yang besar: desa, pertanian, UMKM, industri, seni budaya, komunitas keagamaan, olahraga, dan tradisi gotong royong. Semua dapat menjadi sumber belajar.
Anak dapat belajar kewirausahaan dari pelaku UMKM. Mereka dapat memahami pertanian dari petani. Mereka dapat belajar budaya dari seniman dan budayawan. Mereka dapat belajar kepemimpinan melalui organisasi dan kegiatan sosial. Dengan demikian, sekolah tidak menjadi menara yang terpisah dari kehidupan.
Masyarakat menjadi ruang kelas yang lebih luas. Pembelajaran pun menjadi lebih kontekstual. Anak tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang harus saya hafalkan?”, tetapi mulai bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan dengan pengetahuan ini?” Perubahan pertanyaan itu penting bagi masa depan SDM Purbalingga.
Dari Mencari Juara ke Menumbuhkan Talenta
Kita tentu bangga ketika anak-anak Purbalingga meraih prestasi dalam berbagai kompetisi akademik, olahraga, seni, bahasa, maupun keagamaan. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada daftar juara.
Tidak semua anak memiliki talenta yang sama. Ada yang unggul dalam matematika, ada yang menemukan dirinya dalam seni, olahraga, teknologi, bahasa, kepemimpinan, keterampilan sosial, atau bidang lainnya. Karena itu, tugas pendidikan bukan sekadar mencari siapa yang paling unggul, melainkan menemukan potensi setiap anak dan memberikan ruang agar potensi itu berkembang.
Paradigmanya perlu bergerak dari sekadar kompetisi menuju ekosistem talenta. Inilah salah satu pekerjaan besar pendidikan Purbalingga.
Tantangan Teknologi dan AI
Perubahan teknologi membuat pekerjaan pendidikan semakin kompleks. Koding dan kecerdasan artifisial mulai memperoleh ruang dalam kebijakan kurikulum nasional sesuai tahapan dan kesiapan satuan pendidikan.
Anak-anak perlu memiliki literasi digital dan kemampuan menggunakan AI. Tetapi, ada batas yang tidak boleh kita lupakan: teknologi harus memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.
Anak harus mampu menggunakan AI, tetapi tetap harus mampu berpikir. Ia boleh memperoleh informasi dalam hitungan detik, tetapi harus mampu membedakan informasi yang benar dan keliru.
Ia boleh menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya, tetapi harus memahami kejujuran dan etika. Di sinilah keluarga, sekolah, dan masyarakat kembali harus berjalan bersama.
Purbalingga dan Investasi Manusia
Pembangunan daerah pada akhirnya adalah pembangunan manusia. Jalan, gedung, teknologi, dan infrastruktur memang penting. Namun, semuanya membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, peningkatan kualitas SDM yang menjadi bagian penting agenda pembangunan Purbalingga harus diterjemahkan menjadi gerakan bersama.
Pendidikan tidak dapat menjadi urusan satu perangkat daerah. Kesehatan, perlindungan anak, kebudayaan, kepemudaan, olahraga, ekonomi, dunia usaha, desa, dan berbagai unsur masyarakat memiliki irisan dengan pembangunan manusia.
Anak yang sehat lebih siap belajar. Anak yang aman lebih berani berkembang. Anak yang berkarakter lebih siap menghadapi perubahan. Anak yang memiliki kompetensi lebih siap membangun masa depan. Semuanya saling terkait.
Bergerak Bersama
Pada akhirnya, Tri Pusat Pendidikan bukan sekadar konsep yang kita kenang dari sejarah pendidikan Indonesia. Ia harus menjadi praktik.
Keluarga memberikan fondasi. Sekolah mengembangkan kompetensi. Masyarakat menyediakan ruang aktualisasi. Pemerintah membangun ekosistem yang memungkinkan semuanya bergerak. Jika masing-masing berjalan sendiri, hasilnya akan terbatas.
Sebaliknya, jika keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah bergerak dalam satu visi, pendidikan dapat menjadi kekuatan sosial yang mengubah masa depan daerah.
Membangun SDM unggul tidak dapat dilakukan secara instan. Ia adalah investasi lintas generasi. Anak yang hari ini duduk di bangku SMP mungkin dua puluh tahun lagi menjadi guru, dokter, pengusaha, birokrat, teknolog, seniman, pemimpin masyarakat, atau profesi yang bahkan belum kita kenal.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan hari ini, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang Purbalingga dua puluh atau tiga puluh tahun mendatang.
Masa depan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia sedang dibentuk—di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat. Maka, jika kita menginginkan Purbalingga yang unggul, mari memastikan bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia terbaik yang mampu ia capai.
Sebab sekolah saja tidak cukup. Pendidikan adalah kerja bersama. Dan masa depan Purbalingga sedang kita bangun hari ini.(*)