Universitas AMIKOM Latih Guru SDN 4 Wangon Belajar Coding

Bagikan :

Pungkas Subarkah, M.Kom (nomor empat dari kanan) bersama tim Universitas Amikom dan guru-guru SDN 4 Wangon yang dilatih tentang Coding. 

BANYUMAS, EDUKATOR–Sebanyak delapan guru SDN 4 Wangon, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, mengikuti pelatihan coding dasar menggunakan aplikasi Scratch, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan yang digelar Universitas Amikom Purwokerto melalui skema Amikom Mitra Masyarakat di sekolah itu, bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi sekaligus mengenalkan pembelajaran coding yang sesuai bagi anak sekolah dasar.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat itu diketuai Pungkas Subarkah, M.Kom., dosen Program Studi Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Amikom Purwokerto. Tim juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Najwa Ananda Felia dan Mufti Frikli Alwi.

Program tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Amikom Purwokerto.

“Pelatihan ini meningkatkan kompetensi guru dalam teknologi,” ujar Pungkas Subarkah kepada EDUKATOR.

Coding Bukan Sekadar Belajar Pemrograman
Pungkas mengatakan, pelatihan difokuskan pada peningkatan kompetensi guru agar mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran mendalam (deep learning). Salah satu pendekatan yang digunakan adalah coding dasar berbasis aplikasi Scratch.

Bagi anak SD, belajar coding bukan semata-mata bertujuan mencetak programmer. Lebih dari itu, coding dapat digunakan untuk melatih cara berpikir logis, sistematis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah.

Melalui coding, anak belajar menyusun langkah secara berurutan agar sebuah perintah menghasilkan sesuatu. Ketika program tidak berjalan sesuai harapan, anak juga belajar mencari kesalahan, mencoba kembali, dan menemukan solusi.

Scratch menjadi salah satu media yang dapat digunakan untuk mengenalkan konsep tersebut karena menggunakan blok-blok perintah visual. Dengan pendekatan itu, anak dapat membuat animasi, permainan sederhana, cerita interaktif, atau karya digital sesuai dengan kreativitasnya.

“Coding melatih logika, kreativitas, dan pemecahan masalah,” kata Pungkas.

Menyiapkan Anak Menghadapi Era Digital
Penguasaan coding juga diharapkan membuat anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Anak perlu diarahkan menjadi pengguna teknologi yang aktif, kritis, kreatif, aman, etis, dan produktif.

Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial atau AI, kemampuan tersebut semakin penting. Anak perlu memahami teknologi, tetapi tetap memiliki kemampuan berpikir sendiri, memilah informasi, bekerja sama, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Karena itu, pembelajaran coding di tingkat SD tidak harus diarahkan pada penguasaan bahasa pemrograman yang rumit. Hal yang lebih penting adalah membangun pola pikir yang dapat diterapkan anak dalam berbagai bidang kehidupan.

Materi Dimulai dari Pre-test hingga Praktik
Selama pelatihan, para guru mendapatkan sejumlah materi yang disusun secara bertahap. Kegiatan diawali dengan pengantar perkembangan teknologi terkini, termasuk pembahasan mengenai peran Orai dalam dunia pendidikan.

Peserta kemudian mengikuti pre-test untuk mengetahui kemampuan awal sebelum memasuki materi utama. Selanjutnya, guru mendapatkan praktik penggunaan Scratch untuk memahami struktur dasar coding.

Setelah praktik, peserta mengikuti post-test untuk mengetahui perkembangan kemampuan setelah mengikuti pelatihan.

Kegiatan berlangsung selama sekitar dua jam. Para guru mengikuti setiap sesi dengan antusias. Sesi tanya jawab juga berlangsung aktif selama pelatihan.

Guru Rasakan Manfaat Pelatihan
Salah satu peserta, Imam Dwiogo, S.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan yang diberikan Universitas Amikom Purwokerto. Menurutnya, materi yang diberikan membantu guru memahami penggunaan teknologi dalam pembelajaran.

“Pelatihan ini membantu kami menguasai coding berbasis Scratch,” ujar Imam.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, guru tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya sebagai media pembelajaran yang menarik dan relevan dengan perkembangan zaman.

Pembelajaran coding juga dapat dikembangkan melalui kerja kelompok. Anak dapat belajar berbagi ide, membagi tugas, menjelaskan hasil karya, dan bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah proyek.

Mahasiswa Terlibat Langsung dalam Pengabdian
Kegiatan tersebut juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa Universitas Amikom Purwokerto yang terlibat sebagai anggota tim. Najwa Ananda Felia mengatakan keterlibatannya dalam pengabdian masyarakat memberikan pengalaman berharga.

Menurut Najwa, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di lingkungan sekolah.

“Pengalaman ini memberi kesempatan menerapkan ilmu perkuliahan,” ujar Najwa.

Ia berharap pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan pengabdian dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di sekolah dasar.

Pelatihan tersebut sekaligus memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadapi perkembangan teknologi pendidikan. Melalui kolaborasi itu, guru diharapkan semakin siap memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang relevan, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan murid.

Pada akhirnya, pengenalan coding di sekolah dasar bukan sekadar mengajarkan anak membuat program. Lebih jauh, pembelajaran tersebut dapat menjadi sarana membangun kemampuan berpikir logis, kreativitas, ketekunan, kolaborasi, dan pemecahan masalah sebagai bekal menghadapi kehidupan di tengah perkembangan teknologi dan AI atau kecerdasan buatan. (Prasetiyo)

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-19 at 11.00
Universitas AMIKOM Latih Guru SDN 4 Wangon Belajar Coding
WhatsApp Image 2026-09-19 at 10.16
Peringati "World Cleanup Day", SMPN 3 Satap Rembang Gelar Aksi Bersih Sampah
priyanto10
Sekolah Saja Tidak Cukup
FULAD6
Konvergensi Di Era Multipolar: Dari Joint Operation Menuju Multi-Domain Operation
Presiden Prabowo
Presiden Prabowo Ingin Pengangkatan Guru Kembali ke Pusat