Orang Tua Mengajar, Murid Kenali Permainan Tradisional

Bagikan :

*Di SDIT Permata Hati Banjarnegara

BANJARNEGARA, EDUKATOR–Program Orang Tua Mengajar kembali digelar Sabtu (19/9/2026), di Masjid Abu Bakar SDIT Permata Hati Banjarnegara. Kegiatan yang diinisiasi Paguyuban Orang Tua Murid dan Guru (POMG) tersebut diisi praktik berbagai permainan tradisional yang pernah populer di kalangan generasi orang tua murid.

Ketua Komite SDIT Permata Hati Banjarnegara, Muiz Raharjo, mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, keterlibatan orang tua sebagai narasumber pembelajaran sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam yang kini digalakkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. “Orang tua bisa dilibatkan sebagai narasumber pembelajaran,” ujar Muiz.

Mengenalkan Permainan yang Mulai Dilupakan
Para orang tua yang rata-rata berasal dari generasi milenial mengenalkan sejumlah permainan tradisional kepada murid. Di antaranya gobak sodor, egrang batok kelapa, yoyo, bakiak, dan ular tangga.

Selain bermain, murid juga diajak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam setiap permainan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman baru karena mereka mendapatkan pembelajaran langsung dari orang tua sendiri.

Koordinator POMG Kelas IV, Ajeng Tri Yunita, mengatakan murid terlihat senang mengikuti kegiatan tersebut. Program itu juga memberikan pengalaman berbeda dalam proses pembelajaran.

“Anak-anak senang mengikuti kegiatan dan mendapat pengalaman baru,” ujar Ajeng.

Menurut Ajeng, permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan. Melalui permainan tersebut, murid juga belajar berbagai nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Sebagian besar murid bahkan sudah tidak mengenal permainan tradisional tersebut.

Digelar Rutin dengan Tema Beragam
Koordinator Wali Kelas IV, Rina Oktavia, mengatakan program Orang Tua Mengajar akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Tema pembelajaran akan disesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman para orang tua murid.

“Program ini akan dilaksanakan sebulan sekali dengan tema berbeda,” kata Rina.

Beberapa tema yang direncanakan antara lain profesi, lingkungan, pertanian, dan berbagai bidang lainnya. Kegiatan tersebut diharapkan membuat murid lebih memahami dunia nyata yang akan mereka hadapi.

Dengan demikian, pembelajaran di kelas tidak berhenti pada teori. Pengetahuan yang diperoleh murid dapat dikaitkan dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari.

Perkuat Kemitraan Sekolah dan Orang Tua
Muiz menilai kemitraan pembelajaran tidak selalu harus dilakukan dengan membawa murid ke luar sekolah. Orang tua dapat terlibat langsung sebagai sumber belajar berdasarkan kompetensi dan pengalaman yang dimiliki.

Selain memperkaya pengalaman belajar murid, program tersebut juga dapat memperkuat hubungan kemitraan antara sekolah dan orang tua. Muiz berharap praktik baik tersebut dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain. (Heni Purwono/Prs)

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-21 at 15.52
Empat Wakil Rektor Unsoed Dilantik
WhatsApp Image 2026-09-21 at 22.19
Dari Mustahik, Nuhwanto Kini Jadi Pengusaha Mebel Sukses
Gemini_Generated_Image_9bsg4r9bsg4r9bsg
Tujuh Pejabat Purbalingga Dirotasi, Kinerja OPD Digenjot
WhatsApp Image 2026-09-21 at 10.52
155 Relawan Bersihkan Hulu Sungai Tajum di Desa Samudra
FULAD6
Negara Kuat di Era Konvergensi