*Integrasi Pertanian dan Peternakan

Peternakan kambing terpadu dalam satu kawasan
BATANG, EDUKATOR–Balai Benih Pertanian (BBP) Wilayah Banyumas yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di bawah Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, mengembangkan inovasi SIGAP (Sistem Integrasi Guna Akselerasi Produktivitas). Program yang mulai diterapkan secara bertahap pada 11 November 2026 mendatang ini berlokasi di Kebun Benih Kandeman, Kabupaten Batang, salah satu kebun milik BBP Wilayah Banyumas.
Inovasi tersebut bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan aset daerah melalui integrasi kegiatan pertanian dan peternakan dalam satu kawasan. Kegiatan yang dikembangkan meliputi perbanyakan benih buah, budi daya tanaman buah, peternakan, pengolahan pupuk organik, serta pemanfaatan teknologi pertanian.
Budidaya tanaman buah kelengkeng.

Kepala BBP Wilayah Banyumas, Dwiningsih, S.P., M.P., menjelaskan bahwa SIGAP dirancang untuk membangun sistem pengelolaan kebun benih yang produktif, efisien, dan berkelanjutan.
“Setiap komponen kegiatan harus saling mendukung,” kata Dwiningsih ketika dihubungi di Batang, Jumat (6/11/2026).
Kotoran Ternak Diolah Menjadi Pupuk Organik
Melalui konsep integrasi tersebut, setiap komponen kegiatan diharapkan saling memberikan manfaat dan nilai tambah. Kotoran ternak diolah menjadi pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Sebaliknya, hasil samping kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak.
Pola ini akan membentuk siklus produksi yang lebih efisien sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input dari luar. Selain menekan biaya produksi, sistem tersebut juga mendukung penerapan pertanian ramah lingkungan.
Dwiningsih menegaskan, SIGAP tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membangun model pengelolaan kebun benih yang terintegrasi dan berdaya guna.
“Kebun benih menjadi sarana pembelajaran masyarakat,” ujarnya.
Keberadaan SIGAP diharapkan menjadikan Kebun Benih Kandeman sebagai kawasan percontohan bagi masyarakat, kelompok tani, dan para pemangku kepentingan dalam mengembangkan sistem pertanian terpadu.
Kolaborasi Menentukan Keberlanjutan Program
Dwiningsih mengungkapkan, keberhasilan SIGAP membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak. Keterlibatan perangkat daerah, pemerintah kabupaten, kelompok tani, pelaku usaha, hingga masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program.
Sinergi tersebut juga diperlukan untuk mendorong pengembangan sistem pertanian terpadu agar dapat diterapkan secara lebih luas.
Melalui SIGAP, BBP Wilayah Banyumas berharap Kebun Benih Kandeman tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi dan pengembangan benih. Kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi kawasan pertanian terpadu yang produktif, inovatif, memiliki nilai ekonomi, dan berkelanjutan.
Optimalisasi pengelolaan kebun benih ini juga diharapkan meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan daerah sekaligus mendukung pembangunan sektor pertanian di Jawa Tengah.(Prasetiyo)