*Program Pemberdayaan Baznas Banjarnegara

Nuhwanto (kanan), warga Desa Kaliurip, Kecamatan Madukara, Banjarnegara kini sukses sebagai pengusaha mebel. Kesuksesan itu tidak lepas dari peran Baznas Banjarnegara. (Foto: Muji Prasetyo/EDUKATOR).
BANJARNEGARA, EDUKATOR — Berawal sebagai mustahik atau penerima zakat dan manfaat program pemberdayaan, Nuhwanto kini sukses mengembangkan usaha mebel dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Warga Desa Kaliurip, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, itu bahkan telah mempekerjakan tiga karyawan dan dipercaya menjadi instruktur pelatihan ekonomi produktif Baznas Kabupaten Banjarnegara.
Perjalanan Nuhwanto bermula ketika ia mengikuti pelatihan ekonomi produktif bidang pertukangan kayu yang diselenggarakan Baznas Kabupaten Banjarnegara pada 2024. Keterampilan yang diperolehnya menjadi titik balik untuk mengembangkan usaha kerajinan kayu bernama Seniki Pernik Kayu Banjarnegara.
Nuhwanto di bengkel kerjanya saat dikunjungi tim dari Baznas Banjarnegara .(Foto: Muji Prasetyo/EDUKATOR).
Keterampilan Pelatihan Jadi Titik Balik
Saat dikunjungi Wakil Ketua Baznas Banjarnegara Bidang Pengumpulan, Nurul Aini SH MM, Nuhwanto mengisahkan perjuangannya membangun usaha dari keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan.
“Pelatihan Baznas menjadi titik balik usaha saya,” kenang Nuhwanto, Senin (21/9/2026).
Berbekal keterampilan tersebut, Nuhwanto mulai memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu. Produk yang dihasilkan antara lain meja makan, kusen, pintu, talenan, tatakan masak berbahan limbah kayu, hingga kandang merpati.
Saat ditemui, Nuhwanto bersama para karyawannya tengah menyelesaikan proses finishing kandang anak domba Batur. Pesanan tersebut datang dari pelanggan di Tangerang.
Perkembangan usaha membuat pemasaran produknya semakin luas. Tidak hanya melayani konsumen di Banjarnegara, produk Nuhwanto kini menjangkau sejumlah daerah, antara lain Sragen, Boyolali, Jakarta, Bekasi, dan Tangerang.
“Pemasaran kini sudah menjangkau berbagai daerah,” ujar Nuhwanto.
Untuk memperluas pasar, ia juga aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Strategi tersebut turut membantu meningkatkan permintaan terhadap produk yang dibuatnya.
Bantuan Peralatan Berkembang Jadi Usaha
Nuhwanto mengatakan, perkembangan usahanya tidak terlepas dari dukungan Baznas melalui program pemberdayaan ekonomi produktif. Peralatan yang diperoleh saat mengikuti pelatihan kemudian dikembangkan sesuai dengan meningkatnya pesanan.
“Peralatan dari Baznas terus kami kembangkan,” katanya.
Dari 20 peserta pelatihan yang diikutinya pada 2024, Nuhwanto menjadi salah satu peserta yang mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Usahanya tidak hanya memberikan penghasilan bagi dirinya, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi tiga orang karyawan.
Ia mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan Baznas. Tidak hanya berhasil mengembangkan usaha, kini dirinya dipercaya menjadi instruktur untuk berbagi pengalaman dan keterampilan kepada peserta pelatihan berikutnya.
“Sekarang saya dipercaya menjadi instruktur Baznas,” ungkapnya.
Nuhwanto berharap pengalamannya dapat menjadi motivasi bagi peserta pelatihan agar berani mengembangkan keterampilan menjadi usaha mandiri.
“Semoga peserta pelatihan juga sukses dan mandiri,” harapnya.
Dari Mustahik Menuju Muzaki
Wakil Ketua Baznas Banjarnegara Bidang Pengumpulan, Nurul Aini SH MM, mengapresiasi kegigihan Nuhwanto dalam mengembangkan usaha sejak mengikuti pelatihan.
Dalam konteks program Baznas, mustahik adalah orang yang berhak menerima zakat, sedangkan muzaki adalah orang yang mengeluarkan atau membayar zakat. Karena itu, kisah Nuhwanto menggambarkan tujuan pemberdayaan ekonomi, yakni membantu penerima manfaat agar secara bertahap mampu mandiri secara ekonomi.
Menurut Nurul, keberhasilan Nuhwanto menunjukkan bahwa program pemberdayaan ekonomi Baznas tidak berhenti pada pelatihan dan pemberian bantuan peralatan. Kemauan belajar, kerja keras, serta pendampingan menjadi bagian penting dalam mendorong peserta mengembangkan usaha.
“Pak Nuhwanto menjadi inspirasi bagi peserta lainnya,” kata Nurul Aini.
Menurutnya, perkembangan usaha Nuhwanto juga sejalan dengan misi Baznas untuk mendorong perubahan dari mustahik menjadi muzaki. Terlebih, usaha yang dikembangkan Nuhwanto telah mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
“Usahanya membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” tegas Nurul.
Pelatihan Ekonomi Produktif Berlanjut
Kisah Nuhwanto menjadi salah satu gambaran hasil program pemberdayaan ekonomi Baznas Banjarnegara. Program serupa kembali dilaksanakan pada 2026 dengan bidang keahlian yang lebih beragam.
Tahun ini, Baznas Banjarnegara membuka empat bidang pelatihan, yakni pembuatan dawet ayu, fried chicken, roti kering, dan barista kopi. Masing-masing bidang diikuti 15 peserta sehingga total terdapat 60 peserta pelatihan.
Selain pelatihan dan bantuan peralatan, Baznas juga menyalurkan bantuan ternak kambing kepada 20 mustahik. Setiap penerima mendapatkan sepasang kambing yang terdiri atas satu ekor jantan dan satu ekor betina.
Program tersebut diharapkan dapat memperluas pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong penerima manfaat agar secara bertahap mampu mandiri, meningkatkan kesejahteraan, dan pada akhirnya memiliki kemampuan untuk menjadi muzaki. (Muji Prasetyo/Prs)