Ekonomi Banyumas Raya Tumbuh Kuat, Inflasi Terkendali

Bagikan :

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto Aswin Gantina dalam kegiatan Capacity Building Media Tahun 2026 di Senggigi Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa (22/9/2026). (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

SENGGIGI, EDUKATOR — Perekonomian Banyumas Raya, Jawa Tengah, tumbuh kuat pada triwulan I 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto mencatat pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi, sementara inflasi tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 plus minus 1 persen.

Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina mengatakan hal itu dalam kegiatan Capacity Building Media Tahun 2026 di Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa (22/9/2026). Banyumas Raya mencakup Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

“Ekonomi Banyumas Raya tumbuh kuat pada triwulan pertama,” kata Aswin Gantina.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto Aswin Gantina foto bersama peserta Capacity Building Media Tahun 2026 di Senggigi Lombok, Nusa Tenggara Barat, Selasa (22/9/2026). (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR)

Konsumsi Ramadan Dorong Pertumbuhan
Menurut Aswin, akselerasi ekonomi pada awal 2026 dipengaruhi peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri. Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), serta penyaluran berbagai stimulus pemerintah turut memperkuat konsumsi.

Pertumbuhan juga didukung berlanjutnya pembangunan proyek strategis nasional dan proyek swasta di wilayah Banyumas Raya.

“Ramadan dan Idulfitri mendorong peningkatan konsumsi masyarakat,” ujarnya.

Dari sisi struktur ekonomi, Cilacap masih menjadi daerah dengan pangsa ekonomi terbesar di Banyumas Raya, yakni 49,22 persen. Selanjutnya Banyumas sebesar 27,52 persen, Purbalingga 12,44 persen, dan Banjarnegara 10,81 persen.

Sementara itu, tiga sektor utama masih menjadi penopang perekonomian kawasan tersebut. Industri pengolahan memberikan kontribusi 39,24 persen, pertanian, kehutanan, dan perikanan 14,34 persen, serta perdagangan besar dan eceran sebesar 10,91 persen.

Inflasi Agustus Masih Dalam Sasaran
Pada sisi harga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Banyumas Raya pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Secara bulanan, inflasi tercatat 0,21 persen month to month (mtm).

Aswin mengatakan perkembangan tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional. Bank Indonesia juga memperkirakan inflasi tetap terkendali sepanjang 2026 hingga 2027.

“Inflasi masih terjaga dalam sasaran nasional,” katanya.

Inflasi inti pada Agustus 2026 tercatat 2,92 persen yoy. Kenaikan terutama dipengaruhi harga emas perhiasan seiring meningkatnya harga emas global.

Sementara itu, inflasi kelompok volatile food mencapai 4,06 persen. Komoditas yang memberikan tekanan antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan saat momentum Hari Kemerdekaan dan Maulid Nabi. Selain itu, kenaikan harga pakan dan Day Old Chick (DOC) turut memengaruhi harga daging ayam ras.

Berbeda dengan dua kelompok tersebut, administered prices mengalami deflasi 0,33 persen secara bulanan. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin.

Purwokerto dan Cilacap Catat Inflasi
Secara wilayah, inflasi Kota Purwokerto pada Agustus 2026 mencapai 3,15 persen yoy. Daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang utama dengan andil inflasi 0,35 persen secara bulanan.

Selain daging ayam ras, cabai rawit dan buncis juga menjadi komoditas yang mendorong inflasi di Purwokerto. Sementara itu, inflasi Cilacap tercatat 3,08 persen yoy.

Perkembangan harga tersebut menjadi perhatian dalam upaya menjaga daya beli masyarakat. Pengendalian inflasi dilakukan secara berkelanjutan melalui koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia.

Keyakinan Konsumen Kembali Menguat
Di tengah dinamika harga, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga menunjukkan perbaikan. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia Purwokerto pada Agustus 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) meningkat menjadi 104,0.

Pada Juli 2026, IKK tercatat sebesar 95,6. Kenaikan tersebut mencerminkan membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

“Keyakinan konsumen meningkat pada Agustus 2026,” ujar Aswin.

Peningkatan IKK terutama didorong membaiknya persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, kemampuan membeli barang tahan lama, serta kondisi pendapatan saat ini dan ekspektasi ke depan.

Sinergi Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi
Aswin menegaskan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya membutuhkan sinergi lintas sektor. Pengendalian inflasi dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Selain itu, konsistensi kebijakan moneter dan digitalisasi sistem pembayaran turut menjadi bagian penting dalam menjaga momentum ekonomi.

Penggunaan QRIS terus dikembangkan untuk mendukung transaksi digital masyarakat dan pelaku usaha. Di sisi lain, penguatan UMKM dilakukan melalui berbagai program, termasuk flagship Karya Kreatif Serayu (KKS).

“Sinergi menjadi kunci menjaga pertumbuhan tetap berdaya tahan,” kata Aswin.

Dengan dukungan konsumsi, investasi, pengendalian inflasi, digitalisasi, dan penguatan UMKM, Bank Indonesia Purwokerto berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Banyumas Raya agar tetap kuat dan berkelanjutan. (Budi Yuswinanto/Prs)

BERITA TERKINI

ChatGPT Image Sep 22, 2026, 09_45_11 PM
Kepala SMPN 1 Kalibawang Raih Peringkat Pertama Kepala Sekolah Transformatif se-Kulon Progo
lombok1
BI Purwokerto Perkuat Kapasitas Jurnalis Hadapi Era AI
ASWIN GANTINA
Ekonomi Banyumas Raya Tumbuh Kuat, Inflasi Terkendali
WhatsApp Image 2026-09-22 at 08.12
Suluh Sumurup Art Festival 2026, Menyalakan Kesetaraan Seniman Difabel
WhatsApp Image 2026-09-22 at 19.42
Mahasiswa S-3 Usahid Jakarta Teliti Komunikasi Bupati Perempuan