
Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga
PERNAHKAH kita memperhatikan seorang anak bermain ayunan? Ia duduk, berpegangan, lalu tubuhnya bergerak ke depan dan ke belakang. Anehnya, untuk bisa melambung lebih tinggi ke depan, ia justru harus bergerak ke belakang terlebih dahulu.
Di situlah ada pelajaran sederhana yang sering kita lewatkan. Tidak semua gerakan mundur berarti kemunduran. Tidak semua jeda berarti kegagalan. Dan tidak setiap kegagalan berarti perjalanan harus berhenti. Ayunan mengajarkan bahwa ada saat ketika kita perlu menarik diri sejenak sebelum melanjutkan gerakan.
Gagasan sederhana inilah yang menginspirasi refleksi dalam The Science of Luck karya Bong Chandra melalui pembahasan tentang filosofi ayunan. Namun, jika dibawa ke dunia pendidikan, filosofi tersebut menjadi jauh lebih menarik. Sebab, pendidikan kita juga bergerak seperti ayunan. Kadang melaju, kadang melambat, dan sesekali harus mundur untuk memperbaiki arah.
Mundur Bukan Berarti Gagal
Dalam kehidupan sekolah, kata “mundur” sering memiliki konotasi negatif. Nilai seorang murid turun, lalu ia dianggap tidak belajar. Sebuah program sekolah tidak berjalan sesuai harapan, kemudian dianggap gagal. Metode pembelajaran yang sudah dirancang dengan baik ternyata tidak membuat murid aktif. Guru pun merasa pembelajarannya tidak berhasil.
Padahal, mungkin yang diperlukan bukan menyerah, melainkan mundur satu langkah untuk melihat persoalan dengan lebih jernih.
Dalam pembelajaran, mundur dapat berarti mengevaluasi. Guru bertanya: mengapa murid belum memahami materi? Apakah metode yang digunakan terlalu sulit? Apakah aktivitas pembelajaran kurang dekat dengan kehidupan mereka? Apakah semua murid mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbicara dan berpartisipasi?
Murid pun dapat melakukan hal yang sama. Nilai yang rendah bukan semata-mata angka merah di buku hasil belajar. Nilai tersebut dapat menjadi tanda bahwa ada strategi belajar yang perlu diperbaiki.
Dengan demikian, kegagalan tidak selalu menjadi akhir. Kegagalan bisa menjadi ruang untuk membaca ulang perjalanan. Seperti ayunan yang ditarik ke belakang, kita sebenarnya sedang menyiapkan tenaga untuk gerakan berikutnya.
Jangan Terjebak Inersia Pendidikan
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Kita sering mengira bahwa bergerak berarti selalu melakukan sesuatu. Padahal, seseorang bisa sangat sibuk, tetapi sebenarnya tidak bergerak ke mana-mana.
Di sekolah, aktivitas bisa begitu banyak. Rapat berlangsung, program dibuat, laporan disusun, dan kegiatan dilaksanakan. Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah semuanya benar-benar membawa pembelajaran menjadi lebih baik?
Di sinilah konsep inersia menarik untuk digunakan sebagai metafora.
Dalam fisika, inersia berkaitan dengan kecenderungan benda mempertahankan keadaan geraknya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenalnya dalam bentuk yang lebih sederhana: kebiasaan untuk tetap berada dalam keadaan yang sudah nyaman.
Di sekolah, inersia bisa muncul dalam kalimat-kalimat seperti: “Dari dulu memang seperti itu.” “Sudah biasa menggunakan cara tersebut.” “Murid sekarang memang sulit.” “Tidak usah mencoba yang baru, nanti malah merepotkan.”
Kalimat-kalimat semacam itu mungkin terdengar sederhana. Namun, jika terus dipelihara, kalimat tersebut dapat menjadi rem perubahan.
Sementara itu, dunia di luar sekolah terus bergerak. Teknologi berkembang. Kecerdasan buatan hadir. Cara anak memperoleh informasi berubah. Dunia kerja membutuhkan keterampilan yang semakin kompleks.
Maka, pendidikan tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang sudah kita lakukan?” Pendidikan juga harus berani bertanya, “Apakah yang kita lakukan masih relevan?”
Saatnya Menarik Ayunan ke Belakang
Menarik ayunan ke belakang bukan tindakan sia-sia. Ia adalah bagian dari gerakan.
Begitu pula dalam pendidikan. Ada kalanya sekolah perlu berhenti sejenak dari rutinitas untuk mengevaluasi program. Guru perlu melihat kembali proses pembelajaran. Murid perlu memahami mengapa hasil belajarnya belum sesuai harapan. Orang tua pun perlu melihat kembali pola pendampingan anak di rumah.
Berhenti sejenak bukan berarti kehilangan momentum. Justru, evaluasi adalah cara untuk menciptakan momentum baru.
Dalam konteks pembelajaran, momentum tidak lahir dari satu motivasi besar yang hanya bertahan sehari. Momentum tumbuh dari dorongan-dorongan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Satu pujian dari guru. Satu pertanyaan yang membuat murid berpikir. Satu kesempatan bagi anak yang biasanya diam untuk berbicara. Satu kesalahan yang tidak langsung dihukum, tetapi dijadikan bahan belajar. Satu keberanian guru mencoba metode baru.
Kelihatannya kecil. Namun, perubahan besar dalam pendidikan sering kali memang dimulai dari sesuatu yang kecil.
Dorongan Kecil, Perubahan Besar
Ada satu hal penting yang dapat dipetik dari ayunan: gerakan membutuhkan dorongan.
Seorang anak yang kehilangan semangat belajar tidak selalu membutuhkan ceramah panjang. Bisa jadi, ia membutuhkan seseorang yang percaya bahwa dirinya masih mampu berkembang.
Murid yang mendapatkan nilai rendah mungkin tidak membutuhkan kalimat, “Kamu harus lebih rajin.” Ia mungkin membutuhkan pertanyaan, “Menurutmu, bagian mana yang paling sulit? Mari kita cari cara lain.”
Perbedaan kedua pendekatan itu sangat besar. Yang pertama memberi tekanan. Yang kedua memberi jalan.
Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan adalah proses membantu seseorang menemukan tenaga untuk terus bergerak ketika ia hampir berhenti.
Momentum Datang, Jangan Disia-siakan
Dalam kehidupan, ada masa ketika segala sesuatu terasa lebih mudah. Ada kesempatan datang. Ada orang yang memberikan kepercayaan. Ada ide yang tiba-tiba menemukan jalannya. Ada kelas yang tiba-tiba menjadi hidup. Ada murid yang sebelumnya pasif kemudian menemukan keberanian untuk tampil.
Itulah momentum.
Masalahnya, momentum tidak selalu datang dua kali dalam bentuk yang sama. Karena itu, ketika peluang muncul, jangan hanya menunggu keadaan menjadi sempurna. Mulailah bergerak.
Namun, jangan pula bergerak secara membabi buta. Jika strategi tidak berhasil, mundurlah sejenak. Evaluasi. Perbaiki. Kemudian dorong kembali.
Mundur untuk mengevaluasi. Maju untuk mencoba. Berhenti sejenak untuk menguatkan tenaga. Lalu bergerak kembali.
Begitulah ayunan bekerja. Begitu pula seharusnya pendidikan.
Kegagalan Bisa Menjadi Ruang Belajar
Barangkali sudah waktunya kita mengubah cara memandang kegagalan di sekolah.
Nilai rendah bukan selalu aib. Program yang tidak berhasil bukan selalu kegagalan total. Guru yang mengubah metode bukan berarti tidak konsisten. Murid yang membutuhkan waktu lebih lama bukan berarti tidak memiliki masa depan.
Semua itu bisa menjadi bagian dari proses belajar.
Yang berbahaya justru ketika kita tidak lagi mau mengevaluasi. Ketika nilai rendah dibiarkan tanpa mencari sebab. Ketika metode yang tidak efektif terus digunakan karena sudah menjadi kebiasaan. Ketika murid kehilangan motivasi, tetapi kita hanya menyalahkan mereka. Ketika sekolah merasa sudah berjalan, padahal dunia telah bergerak jauh lebih cepat.
Ayunan memberi kita sebuah pesan sederhana: gerakan tidak selalu berbentuk garis lurus ke depan. Ada maju. Ada mundur. Ada titik berhenti. Ada dorongan. Ada momentum. Dan semuanya menjadi bagian dari perjalanan.
Pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat bergerak. Pendidikan adalah tentang siapa yang mau terus belajar membaca arah geraknya.
Maka, jika hari ini kita sedang mengalami kegagalan, jangan buru-buru menyebutnya akhir. Mungkin kita hanya sedang berada di titik belakang sebuah ayunan.
Tarik napas. Evaluasi. Benahi apa yang perlu dibenahi. Lalu dorong kembali.
Sebab, bisa jadi, gerakan mundur yang kita lakukan hari ini justru sedang menyiapkan lompatan yang lebih jauh esok hari.(*)