Dari Tangan Ny. Itri, Songket Sukarara Tetap Bertahan

Bagikan :

*Dari Kunjungan ke Sentra Tenun Songket Masyarakat Sasak

Ny. Itri, warga Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat suntuk membuat kain tenun Songket khas masyarakat Suku Sasak. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR) 

LOMBOK TENGAH, EDUKATOR–Jari-jari Ny. Itri (50), bergerak perlahan mengikuti irama alat tenun tradisional di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Di tangan perempuan penenun itu, benang demi benang dirangkai menjadi kain songket yang bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa warisan budaya masyarakat Sasak.

Bagi Ny. Itri dan para penenun lainnya, membuat kain songket bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam hitungan hari. Kerumitan motif menentukan lamanya proses pengerjaan sekaligus memengaruhi harga kain.

“Semakin rumit motif, semakin lama pengerjaannya,” ujar Ny. Itri kepada EDUKATOR, Rabu (23/9/2026) di Desa Sukarara.

Kain Songket produksi Desa Sukarara. (Foto: Budi Yuswinanto/EDUKATOR) 

Berbulan-Bulan Merangkai Motif
Desa Sukarara dikenal sebagai salah satu sentra tenun songket tradisional masyarakat Sasak. Aktivitas menenun diwariskan dari generasi ke generasi dan hingga kini masih dilakukan dengan mempertahankan alat tenun tradisional.

Tour guide yang mendampingi perjalanan, Cak Muchlis, menceritakan bahwa Sukarara dahulu dipilih Kerajaan Praya untuk menghasilkan pakaian dari kain tenun terbaik bagi keluarga kerajaan.

Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. “Para perempuan menjadi penggerak utama dalam mempertahankan keterampilan menenun sekaligus menjadikannya sumber penghasilan keluarga,” ujar Cak Muchlis.

Proses membuat kain membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Semakin rumit motif yang dibuat, semakin panjang waktu pengerjaannya. Tidak jarang, sebuah kain harus dikerjakan selama berbulan-bulan.

Waktu pengerjaan itu pula yang membuat harga setiap kain berbeda. Harga kain tenun songket Sukarara berkisar Rp500 ribu hingga lebih dari Rp2 juta, bergantung pada motif, tingkat kerumitan, bahan, dan proses pembuatannya.

Keindahan kain songket membuat produk tersebut tidak berhenti sebagai kain lembaran. Hasil tenun dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti baju, tas, peci, sarung, dan beragam kebutuhan lainnya.

Dari Alat Tenun ke Pasar Digital
Pemasaran kain songket Sukarara kini dilakukan melalui dua jalur. Selain dipasarkan secara langsung melalui art shop dan showroom, produk tenun juga dipromosikan secara online untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Upaya memperluas pasar tersebut mendapat perhatian pemerintah daerah. Wakil Bupati Lombok Tengah H. M. Nursiah mengatakan produk tenun masyarakat terus berkembang sehingga promosi perlu dilakukan secara digital maupun melalui berbagai kegiatan.

“Promosi produk tenun harus terus dilakukan bersama,” kata Nursiah.

Menurut pemerintah daerah, tenun bukan sekadar produk kerajinan. Di dalamnya terdapat nilai warisan leluhur yang perlu dilestarikan sekaligus dikembangkan agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

500 Penenun Hidupkan Tradisi
Upaya menjaga tradisi itu terlihat dalam Begawe Jelo Nyensek 2026 yang digelar di Balai Seni dan Budaya Desa Sukarara, 7 Juli 2026 silam. Kegiatan tahunan tersebut memasuki penyelenggaraan kedelapan dan melibatkan 500 penenun, pelaku seni, tokoh budaya, serta masyarakat setempat.

Begawe Jelo Nyensek menjadi ruang untuk menunjukkan keterampilan menenun sekaligus memperkenalkan tradisi masyarakat Sasak kepada generasi muda dan wisatawan. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Lombok Tengah menegaskan pentingnya menjaga tradisi menenun sebagai bagian dari identitas daerah.

“Tradisi menenun harus terus dijaga sebagai kebanggaan daerah,” kata Nursiah.

Sementara itu, Pemerintah Desa Sukarara berkomitmen menjadikan Begawe Jelo Nyensek sebagai kegiatan rutin tahunan untuk menjaga tradisi sekaligus memperkuat promosi produk tenun.

Subahanale, Motif dengan Cerita
Salah satu motif yang dikenal dalam tradisi tenun Sukarara adalah Subahanale. Motif tersebut disebut sebagai salah satu motif awal yang dikenal masyarakat setempat.

Kain Subahanale memiliki perpaduan warna gelap, merah, dan putih dengan pola geometris. Perpaduan tersebut memperlihatkan karakter visual yang menjadi bagian dari kekayaan kain tenun Sasak.

Setiap kain karena itu tidak hanya memiliki nilai estetika. Di balik warna dan motifnya terdapat keterampilan, pengalaman, serta pengetahuan budaya yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Wisatawan yang datang ke Sukarara dapat melihat langsung proses menenun. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa selembar kain membutuhkan ketelitian, keterampilan, kesabaran, dan waktu yang panjang.

Menjaga Penenun dari Generasi ke Generasi
Keberlanjutan Sukarara sebagai desa tenun tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk. Regenerasi penenun menjadi bagian penting agar tradisi tersebut tidak berhenti.

Di Sukarara, anak perempuan sejak sekitar usia 10 tahun mulai dikenalkan dengan keterampilan menenun. Mereka belajar menggunakan alat tenun sekaligus mengenal motif, filosofi, warna, dan tahapan pembuatan kain.

Tradisi tersebut menjadi cara masyarakat menjaga keterampilan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Penguatan kapasitas penenun juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada 2026, Pertamina Patra Niaga melalui Program CSR Mina Tenun turut mendukung Festival Begawe Jelo Nyensek untuk memperkuat kapasitas penenun dan mendorong tenun khas Sasak semakin dikenal sebagai produk budaya bernilai ekonomi.

Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersama pemberdayaan ekonomi. Tenun tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan leluhur, tetapi juga dikembangkan agar mampu memberikan nilai tambah bagi perempuan penenun dan masyarakat.

Dari rumah-rumah penenun di Sukarara, kain demi kain terus lahir. Di baliknya ada tangan-tangan perempuan seperti Itri yang menjaga agar warisan leluhur tetap hidup sekaligus mampu menopang ekonomi keluarga.

Sukarara akhirnya bukan sekadar desa penghasil kain tenun. Desa ini menjadi ruang hidup tempat budaya, keterampilan, pariwisata, dan ekonomi masyarakat bertemu dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Budi Yuswinanto/Prs)

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-26 at 16.30
SDN 1 Galor Juara Umum Lomba MAPSI Tingkat Kecamatan Purbalingga
WhatsApp Image 2026-09-26 at 16.50
Kadindikbud Heru Sri Wibowo Apresiasi Program Sambut Murid di Gerbang Sekolah Setiap Pagi
1003971955-1536x864
347 Murid SD di Bobotsari Meriahkan Lomba MAPSI
WhatsApp Image 2026-09-26 at 05.36
Historia Perwira Gelar Diskusi 'Membaca' Batu Purba di Purbalingga
bangun11
Bangun Pracoyo, M.Pd, Mengawal Mutu Pendidikan hingga Level Internasional