Historia Perwira Gelar Diskusi ‘Membaca’ Batu Purba di Purbalingga

Bagikan :

*Ditemukan 22 Situs Purba

Suasana diskusi yang digelar  Komunitas Historia Perwira di Kedai Pojok, Taman Kota Purbalingga, Jumat (25/9/2026).(Foto: Dok Komunitas Historia Perwira/EDUKATOR).

PURBALINGGA, EDUKATOR–Temuan 22 situs purbakala di Purbalingga kembali menjadi perhatian setelah sejumlah formasi batu unik di berbagai wilayah memunculkan pertanyaan tentang kemungkinan jejak peradaban masa lalu. Fenomena tersebut dibahas dalam diskusi yang digelar Komunitas Historia Perwira di Kedai Pojok, Taman Kota Purbalingga, Jumat (25/9/2026).

Penggagas diskusi, Gunanto Eko Saputro, mengatakan sejumlah formasi batu memiliki bentuk yang menyerupai struktur bangunan. Kondisi itu mendorong perlunya kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah terbentuk secara alamiah atau berkaitan dengan aktivitas manusia pada masa lampau.

“Batu-batu itu memantik rasa penasaran kita semua,” ujar Gunanto.

Dari Igir Karem hingga Candi Wurung
Gunanto menyebut beberapa temuan yang menarik perhatian, antara lain formasi batu Igir Karem di Karangjambu yang tampak menyerupai tembok bangunan. Selain itu, terdapat batuan simetris yang dikenal masyarakat sebagai Candi Wurung di Ponjen.

Di Talun Wringin, Panusupan, juga terdapat pilar-pilar batu kekar yang secara visual menyerupai struktur bangunan atau peninggalan peradaban.

Namun, Gunanto menjelaskan, bentuk tersebut belum serta-merta menunjukkan adanya peninggalan arkeologis. Dalam kajian geologi, formasi batu seperti itu dapat terbentuk secara alamiah dan dikenal sebagai columnar joint.

“Secara geologis, formasi itu bisa terbentuk alamiah,” katanya.

Meski demikian, batuan alamiah dapat menjadi bagian dari situs arkeologis apabila kemudian dimanfaatkan atau disusun manusia. Contohnya antara lain punden berundak, menhir, dan dolmen.

Gunanto mencontohkan Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Kawasan tersebut memiliki batuan columnar yang kemudian disusun menjadi struktur punden berundak menyerupai piramida.

Catatan Arkeologi Perkuat Jejak Kepurbakalaan
Jejak kepurbakalaan Purbalingga, menurut Gunanto, juga memiliki dasar penelitian arkeologi. Catatan riset Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada 1983 mencatat sejumlah situs purbakala di wilayah tersebut.

Beberapa di antaranya adalah Situs Tipar di Ponjen serta Trondol Kidul dan Karangjoho di Limbasari yang diketahui sebagai lokasi bengkel perkakas purba. Ada pula Situs Bandingan di Karangjambu yang merupakan punden berundak.

“Penelitian arkeologi tahun 1983 menemukan 22 situs purbakala,” imbuh Gunanto.

Temuan tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa kepurbakalaan Purbalingga memiliki dasar sejarah dan arkeologi yang perlu terus dikaji.

Pegiat literasi Afit Susanto mengatakan berbagai temuan tersebut perlu mendapat perhatian melalui penelitian lebih lanjut. Hasil penelitian nantinya dapat memperkaya pengetahuan tentang sejarah dan perkembangan peradaban di Purbalingga.

“Apapun hasilnya, temuan ini tetap luar biasa,” katanya.

Berpotensi Menjadi Identitas Purbalingga
Pegiat seni dan budaya Slamet Santosa menilai kekayaan sejarah, geologi, dan arkeologi tersebut dapat dikembangkan sebagai bagian dari identitas daerah.

Menurutnya, Purbalingga selama ini masih membutuhkan ikon atau branding yang kuat. Jejak kepurbakalaan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu identitas daerah.

“Jejak kepurbakalaan cukup kuat menjadi identitas kita,” ujarnya.

Slamet berharap pembahasan tersebut tidak berhenti sebagai diskusi. Diperlukan aksi nyata untuk menggali, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi geologis serta arkeologis bagi masyarakat.

Namun, pengembangan tersebut harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan tidak merusak situs maupun kawasan sekitarnya.

“Jangan sampai pengembangan justru merusak lingkungan,” katanya.

Kepala Desa Ponjen, Romidi, mengapresiasi diskusi tersebut. Ia menilai kekayaan alam, geologi, dan sejarah di desanya perlu terus digali serta diberdayakan secara tepat.

Romidi berharap terjalin kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengembangkan potensi tersebut.

“Kolaborasi lintas pihak penting untuk mengangkat potensi desa,” ujarnya.

Diskusi yang diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan itu berlangsung hangat hingga larut malam.

Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan mengenai kemungkinan jejak kepurbakalaan, potensi penelitian, sekaligus peluang menjadikan kekayaan sejarah Purbalingga sebagai bagian dari identitas daerah. (Prasetiyo)

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-26 at 05.36
Historia Perwira Gelar Diskusi 'Membaca' Batu Purba di Purbalingga
bangun11
Bangun Pracoyo, M.Pd, Mengawal Mutu Pendidikan hingga Level Internasional
Screenshot 2026-09-26 021014
SMPN 3 Purbalingga Siapkan Pembelajaran STEM
ASWIN GANTINA
QRIS Banyumas Raya Tembus Rp12,91 Triliun
WhatsApp Image 2026-09-25 at 08.35
Murid SMPN 2 Karangreja Rafael Siap Melaju ke Lomba MAPSI Tingkat Provinsi