Merawat Akhlak, Menguasai Teknologi: Transformasi Santri untuk Masa Depan Indonesia

Bagikan :

Oleh: Priyanto, S.Pd.I, M.Pd.I
Kepala Bidang Pembinaan SMP
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga

SANTRI  tidak harus memilih antara menjaga tradisi dan menyongsong masa depan. Justru, tantangan pendidikan hari ini ialah mempertemukan keduanya: menjadikan akhlak sebagai kompas penguasaan teknologi, sekaligus menjadikan teknologi sebagai sarana memperluas kemanfaatan ilmu.

Masa depan Indonesia tidak cukup ditopang generasi yang cakap menggunakan perangkat digital. Kita membutuhkan manusia yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, menciptakan solusi, dan tetap berintegritas ketika berhadapan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan perubahan teknologi. Dalam konteks ini, transformasi santri menjadi agenda penting pendidikan nasional.

Dari Tradisi Menuju Inovasi
Pesantren memiliki modal berharga berupa tradisi keilmuan, kedisiplinan, penghormatan terhadap guru, dan pembentukan karakter. Mempertahankan tradisi bukan berarti membekukan cara belajar. Tradisi keilmuan justru tumbuh melalui proses membaca, menelaah, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan.

Kini, informasi tersedia dalam hitungan detik. AI dapat membantu menulis, menerjemahkan, dan mengolah data. Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak otomatis melahirkan pengetahuan. Informasi bisa keliru, bias, atau menyesatkan. Karena itu, santri perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber, membedakan fakta dan opini, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Nilai Islam menyediakan landasan etik bagi kecakapan tersebut. Amanah membimbing pengelolaan data, tabayun mengingatkan pentingnya memeriksa informasi, sedangkan ihsan mendorong lahirnya karya berkualitas. Akhlak tidak cukup diajarkan sebagai materi ceramah, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku digital sehari-hari: jujur dalam berkarya, menghormati hak cipta, menjaga privasi, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Belajar dari Purbalingga
Transformasi digital pesantren bukan sekadar gagasan. Penelitian yang diterbitkan dalam IKRA-ITH ABDIMAS pada November 2024 mendokumentasikan kegiatan literasi informasi digital di Pesantren Modern Madani, Tunjungmuli, Purbalingga. Kegiatannya mencakup pengenalan sumber informasi kredibel, perlindungan privasi, hak cipta, dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab. Penelitian tersebut melaporkan peningkatan pemahaman literasi digital peserta (Syaifuddin dkk., 2024).

Praktik lain ditemukan di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ibnu Mas’ud, Purbalingga. Penelitian yang terbit pada 2025 mengkaji penggunaan Learning Management System (LMS) untuk mendukung pembelajaran dan aplikasi administrasi berbasis web untuk pengelolaan data pesantren. Namun, keterbatasan infrastruktur dan literasi digital masih menjadi tantangan (Heriyanto, Mukaromah, dan Muji, 2025).

Kedua pengalaman ini menunjukkan bahwa digitalisasi dapat dimulai dari kebutuhan nyata: memperluas akses belajar, meningkatkan kecakapan mengelola informasi, dan memperbaiki tata kelola. Langkah selanjutnya ialah mendorong santri bukan hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan juga pencipta solusi.

Dari Kecakapan Menuju Kemaslahatan
Melalui pembelajaran berbasis proyek dan keterampilan vokasional, santri dapat mengembangkan media edukasi, konten dakwah yang bertanggung jawab, katalog digital produk lokal, atau layanan sederhana bagi masyarakat. Mereka belajar mengidentifikasi masalah, merancang solusi, bekerja sama, dan mengevaluasi hasil.

Teknologi pun menjadi sarana menghasilkan karya, bukan sekadar mengonsumsi informasi. Kejujuran perlu menyertai proses berkarya, amanah membimbing penggunaan teknologi, dan kemaslahatan menjadi orientasi inovasi. Dengan perpaduan kompetensi dan karakter, santri berpeluang menjadi tenaga kerja adaptif, wirausahawan, inovator, serta penggerak pemberdayaan masyarakat.

Transformasi ini tidak cukup dibebankan kepada pesantren. Pemerintah, sekolah, keluarga, perguruan tinggi, dan dunia usaha perlu membangun kolaborasi melalui peningkatan kompetensi pendidik, akses teknologi, sumber belajar, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan lembaga.

Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah perangkat atau pelatihan, tetapi juga dari kemampuan santri menghasilkan karya, memecahkan masalah, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, merawat akhlak dan menguasai teknologi bukan dua agenda yang harus dipertentangkan. Indonesia membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu mengikuti perubahan, melainkan juga memberi arah pada perubahan tersebut.

Santri memiliki modal penting untuk mengambil peran itu: kedalaman spiritual, tradisi keilmuan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Masa depan Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu menciptakan teknologi, tetapi juga yang bijaksana menentukan untuk apa teknologi digunakan.

Di titik itulah transformasi santri menemukan maknanya: membawa nilai-nilai luhur ke masa depan dan menjadikan kemajuan teknologi sebagai jalan memperluas kemanfaatan bagi sesama. (*)

BERITA TERKINI

IMG_20261021_204212_187
Purbalingga Raih Kuota 200 Peserta SMK Go Global 2027
Screenshot 2026-10-22 075124
Santri: Jalan Terjal Digital dan Sikap Tawadu
Screenshot 2026-10-22 073601
Merawat Akhlak, Menguasai Teknologi: Transformasi Santri untuk Masa Depan Indonesia
WhatsApp Image 2026-10-21 at 16.31
BNNP Jateng Ajak Warga Salatiga Tak Takut Rehabilitasi
WhatsApp Image 2026-10-21 at 19.52
RSUD Goeteng Raih Akreditasi Utama Periode 2026–2030