*Konsorsium Enam Perguruan Tinggi Lakukan Penelitian

Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D. di lahan gandum yang menjadi tempat penelitian . (Dok Pribadi/EDUKATOR)
BANJARNEGARA, EDUKATOR–Lahan seluas 100 meter persegi di Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, telah ditanami gandum dan dijadwalkan akan memasuki masa panen pekan ini. Penanaman tersebut menjadi bagian dari riset konsorsium lima perguruan tinggi untuk memetakan kesesuaian agroklimat di empat zona ketinggian, mulai dari dataran tinggi, dataran menengah, hingga dataran rendah.
Penelitian itu melibatkan lima pergurian tinggi, terdiri Unsoed, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Hasanuddin (Unhas), Uniersitas Andalas (Unand) , Politeknik Negeri Lampung (Polinela), dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Penelitian ini menjadi langkah strategis untuk mengembangkan gandum tropis. Hal itu sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor yang mencapai sekitar 12 juta ton per tahun.
Guru Besar bidang Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., bertindak sebagai koordinator tim dari Unsoed. Koordinator tim lainnya dari IPB Prof Tri Koesoemaningtyas, dari Unand Prof Irfan Suliansyah, dan dari Unhas Prof M Farid Badarudin, dari Unhas Prof. M., Farid Badarudin.
“Riset ini diarahkan untuk menemukan wilayah yang sesuai bagi produksi benih dan pengembangan gandum sebagai bahan pangan,” ujar Prof Totok Agung Dwi Haryanto, alumni program doktor (S3) Kyushu University, Fukuoka, Jepang dalam perbincangan dengan EDUKATOR di kampus Fakultas Pertanian Unsoed, Jumat (30/10/2026).
Penelitian tersebut, kata Prof Totok Agung, melibatkan banyak dosen peneliti dan mahasiswa dari masing-masing perguruan tinggi. Keterlibatan lintas generasi akademisi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan riset sekaligus pengembangan gandum di Indonesia.
Selanjutnya dijelaskan, saat kegiatan monitoring pada lahan percobaan gandum di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Selasa (27/10/2026), hadir antara lain Dr. Nurwanita Ekasari Putri, S.P., M.Si. dari Unand; Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P. dari Unsoed; serta Prof. Dr. Ir. Desta Wirnas, S.P., M.Si. dan Dr. Ir. Yudiwanti Wahyu Endro Kusumo, M.S. dari IPB.
Prof Totok Agung DH (tengah) bersama tim peneliti dari Fakultas Pertanian Unsoed.(Dok Pribadi/EDUKATOR)
Empat Lokasi Wakili Zona Agroklimat
Salah satu kegiatan penelitian dilakukan di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berada pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lahan tersebut menjadi salah satu wilayah pengamatan untuk mengetahui kesesuaian lingkungan bagi pengembangan gandum.
Prof Totok Agung DH bersama peneiti lainnya saat melakukan monitoring pada lahan percobaan gandum di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Selasa (27/10/2026). (Dok Pribadi/EDUKATOR)
Selain Alahan Panjang, penelitian dilakukan di Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Dua lokasi lainnya berada di Cisarua, Bogor, yang mewakili dataran menengah, serta Dramaga, Bogor, sebagai wilayah dataran rendah.
Keempat lokasi tersebut dipilih untuk memetakan kesesuaian agroklimat bagi tanaman gandum. Agroklimat merupakan kondisi iklim dan lingkungan suatu wilayah yang memengaruhi pertumbuhan serta produktivitas tanaman. Faktor yang diperhitungkan antara lain suhu udara, curah hujan, kelembapan, intensitas sinar matahari, ketinggian tempat, dan kondisi tanah.
“Melalui pemetaan tersebut, kami ingin mengetahui wilayah yang paling sesuai untuk produksi benih maupun produksi gandum sebagai bahan pangan. Dataran tinggi diarahkan untuk mendukung produksi benih, sedangkan dataran menengah dan rendah diteliti potensinya untuk pengembangan produksi gandum,” jelas Prof Totok Agung.
Tiga Bulan Panen
Gandum tropis,sambung Prof Totok Agung, memiliki siklus pertumbuhan relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan sejak ditanam hingga panen. Di Kalibening, tanaman gandum yang telah dibudidayakan di lahan seluas 100 meter persegi dijadwalkan memasuki masa panen pekan ini.
Lahan Indonesia Berpotensi Kembangkan Gandum
Prof Totok Agung menjelaskan, hasil riset adaptasi gandum yang telah dilakukan di berbagai lokasi oleh gabungan perguruan tinggi memberikan gambaran bahwa sumber daya lahan dan kondisi agroklimat Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan produksi gandum.
Namun, potensi tersebut perlu didukung pemetaan lahan yang sesuai dan penentuan musim tanam yang tepat agar produktivitas gandum dapat mencapai hasil optimal. Menurutnya, tantangan berikutnya terletak pada penanganan pascapanen serta pengujian hasil panen pada tahap pengolahan. Pengujian diperlukan untuk mengetahui kesesuaian karakteristik gandum lokal dengan kebutuhan industri.
Dijelaskan, kerja sama dengan industri pengolahan gandum mulai diinisiasi. Salah satunya melalui kerja sama antara Fakultas Pertanian Unsoed dengan PT Sri Boga, untuk menjembatani kajian kesesuaian karakteristik gandum dengan kebutuhan industri.
Keselarasan antara hasil produksi dan kebutuhan industri menjadi salah satu penentu keberhasilan pengembangan gandum di Indonesia. Selain kemampuan teknis budidaya dan pengolahan, dukungan kebijakan pemerintah juga diperlukan agar produksi gandum dalam negeri dapat berkembang dan berkontribusi mengurangi ketergantungan impor.
Impor Gandum Capai 12 Juta Ton
Saat ini, hampir 100 persen kebutuhan gandum nasional dipenuhi dari impor. Volume impor gandum Indonesia mencapai sekitar 12 juta ton per tahun. Ukraina dan Australia menjadi negara pemasok utama komoditas tersebut.
Tingginya ketergantungan terhadap gandum impor mendorong perlunya upaya meningkatkan produksi gandum di dalam negeri. Salah satu langkah penting adalah melakukan riset untuk mengembangkan varietas gandum yang mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan iklim Indonesia.
Selain pengembangan varietas, diperlukan penelitian mengenai kesesuaian agroklimat untuk menentukan wilayah yang tepat bagi produksi benih dan budidaya gandum sebagai bahan pangan. Kedua aspek tersebut saling berkaitan agar pengembangan gandum tidak hanya menghasilkan varietas yang sesuai, tetapi juga didukung lokasi dan kondisi lingkungan yang tepat.
Melalui penelitian tersebut, Indonesia diharapkan mulai membangun kemampuan produksi gandum secara mandiri. Setidaknya, pengembangan gandum tropis menjadi salah satu upaya untuk menekan volume impor yang selama ini sangat tinggi dan membebani pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
Bukan Hal Baru
Pengembangan gandum di Banjarnegara sebenarnya bukan hal baru. Kabupaten ini pernah menjadi lokasi program pengembangan gandum yang didukung APBD Provinsi Jawa Tengah pada 2011 dan 2012. Pada 2011, penanaman dilakukan di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, dengan luas sekitar 5 hektare. Setahun kemudian, program tersebut diperluas hingga 40 hektare di sejumlah desa di Kecamatan Batur, Pejawaran, dan Wanayasa.
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa Banjarnegara telah memiliki pengalaman dalam budidaya gandum. Penelitian konsorsium perguruan tinggi saat ini menjadi bagian dari upaya melanjutkan dan mengembangkan potensi tersebut melalui pemetaan kesesuaian wilayah, pengembangan varietas, serta peningkatan produksi.
Melanjutkan Riset Gandum Dua Dekade
Penelitian gandum di Indonesia sebenarnya telah berlangsung sekitar 20 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, para peneliti telah menghasilkan sekitar 12 varietas unggul. Namun, pengembangan gandum nasional masih menghadapi sejumlah kendala.
Produktivitas gandum yang dihasilkan masih berkisar 2–3 ton per hektare. Selain itu, budidayanya selama ini lebih banyak terbatas di wilayah dataran tinggi. Industri pangan juga belum sepenuhnya siap memanfaatkan gandum hasil produksi dalam negeri.
Melalui konsorsium lintas perguruan tinggi, penelitian yang dimulai sejak 2025 ini berupaya melanjutkan pengembangan gandum secara lebih menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Penelitian tidak hanya berfokus pada varietas dan teknik budidaya, tetapi juga mencakup kesesuaian wilayah, produksi benih, peningkatan hasil panen, penanganan pascapanen, hingga pengujian dan pemanfaatannya oleh industri pangan.
Dengan dukungan riset berkelanjutan, keterlibatan dosen dan mahasiswa, kolaborasi dengan industri, serta kebijakan pemerintah, pengembangan gandum tropis diharapkan semakin luas. Banjarnegara menjadi salah satu wilayah penting dalam upaya tersebut, sekaligus menunjukkan potensi daerah untuk mendukung penguatan ketahanan pangan nasional. (Prasetiyo/Alief Einstein)