*Kompetisi Esai World Food Day Festival and Competition (Festicom) 2026

Tim Cinagre SMA PGRI 1 Pati , terdiri ketua Grescia Vanesa Putri, beranggotakan Citra Putri Pramevi dan Najla Vevina Adira Gusmantoro. meraih juara 3 Esai World Food Day Festival and Competition (Festicom) 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.(Foto: Istimewa/EDUKATOR)
PATI, EDUKATOR–Ubi gembili (Dioscorea esculenta) yang banyak tumbuh di lereng pegunungan Muria berpotensi naik kelas menjadi produk pangan bernilai ekonomi lebih tinggi melalui inovasi mi fungsional dengan tambahan tepung kelor. Selain menawarkan alternatif penganekaragaman pangan, olahan ini dirancang untuk meningkatkan nilai gizi sekaligus memperluas pemanfaatan bahan pangan lokal.
Gagasan tersebut mengantarkan Tim Cinagre SMA PGRI 1 Pati meraih Juara 3 Esai World Food Day Festival and Competition (Festicom) 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Tim Cinagre terdiri ketua Grescia Vanesa Putri, beranggotakan Citra Putri Pramevi dan Najla Vevina Adira Gusmantoro. Ketiganya murid kelas XE3 sekaligus anggota ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) SMA PGRI 1 Pati. Mereka mengangkat judul esai: Hilirisasi Gembili Lereng Muria Menjadi Functional Noodles dengan Fortifikasi Tepung Kelor untuk Meningkatkan Nilai Gizi dan Diversifikasi Pangan Lokal.
Kepala SMA PGRI 1 Pati, Sutono Sumo Etmojo, S.Pd., mengemukakan, prestasi tersebut berawal dari keinginan para murid mencoba pengalaman baru dalam penulisan karya ilmiah. Setelah memperoleh informasi tentang Festicom 2026, mereka mencari gagasan menarik untuk dikembangkan.
“Gembili lereng Muria berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” kata Sutono kepada EDUKATOR di SMA PGRI 1 Pati, Senin (2/11/2026).
Kepala SMA PGRI 1 Pati, Sutono Sumo Etmojo, S.Pd.(Foto: Istimewa/EDUKATOR)
Babak final kompetisi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (KMTPHP) UGM untuk memperingati Hari Pangan Sedunia itu, berlangsung Sabtu (24/10/2026) lalu di Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta.
Ada 5 tim yang masuk babak final, terdiri empat sekolah masing-masing satu tim, terdiri SMA PGRI 1 Pati, MA Unggul Sabira IIBS Mojokerto, dan SMAN 1 Yogyakarta. Sedangkan 2 tim berasal dari SMA Negeri 1 Srandakan Bantul.
Gembili Diolah Menjadi Mi Fungsional
Dalam kompetisi tersebut, Tim Cinagre mengajukan gagasan pengembangan gembili menjadi mi fungsional dengan tambahan tepung daun kelor untuk meningkatkan nilai gizi.
Ubi gembili.(Foto: Istimewa/EDUKATOR)
Mi fungsional merupakan produk mi yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi dan makanan pengenyang, tetapi juga dirancang memiliki nilai tambah dari sisi kandungan gizi. Dalam inovasi ini, gembili digunakan sebagai bahan dasar, sedangkan tepung daun kelor ditambahkan untuk memperkaya kandungan gizinya.
Gembili merupakan jenis umbi-umbian yang mengandung karbohidrat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi sekaligus alternatif bahan pangan selain gandum. Sementara itu, daun kelor dikenal mengandung protein, vitamin, mineral, dan senyawa antioksidan.
Daun kelor.(Foto: Istimewa/EDUKATOR)
Penambahan tepung kelor tersebut disebut fortifikasi, yaitu proses memperkaya bahan pangan dengan zat gizi tertentu untuk meningkatkan nilai gizinya. Dengan kombinasi kedua bahan lokal tersebut, Tim Cinagre berupaya menghasilkan produk mi yang memiliki kandungan gizi lebih baik sekaligus menawarkan alternatif pangan berbasis potensi daerah.

Tepung kelor.
Meski demikian, manfaat gizi produk tersebut tetap perlu didukung pengujian kandungan nutrisi lebih lanjut.
Menurut Sutono, inovasi itu tidak hanya berfokus pada pengembangan produk makanan. Tim Cinagre juga ingin mendorong diversifikasi pangan dan meningkatkan nilai ekonomi bahan pangan lokal di kawasan lereng Muria.
Tiga Minggu Persiapan Menuju Final
Guru pembimbing, Noor Yulia Pancawati, menjelaskan bahwa keberhasilan Tim Cinagre melalui proses persiapan yang intensif. Setelah naskah esai dinyatakan lolos ke babak final, ketiga murid menjalani pembimbingan selama tiga minggu.
Mereka memulai persiapan dengan membuat prototipe produk menggunakan tiga formula berbeda. Selanjutnya, dilakukan uji organoleptik untuk mengetahui karakteristik produk, terutama rasa dan teksturnya.
Uji organoleptik merupakan pengujian produk menggunakan indra manusia, seperti pengecapan, penciuman, penglihatan, dan perabaan. Melalui pengujian tersebut, tim dapat mengetahui tingkat penerimaan produk berdasarkan karakteristik yang dirasakan.
Tim juga menyiapkan media presentasi dan berlatih menyampaikan materi hampir setiap hari. Persiapan tersebut dilakukan agar ketiganya mampu menjelaskan gagasan secara jelas dan meyakinkan di hadapan dewan juri.
Dalam proses pengembangan produk, mereka menghadapi tantangan menentukan formula yang tepat. Mi berbahan gembili dan kelor harus memiliki rasa serta tekstur yang sesuai dengan selera konsumen. Selain itu, seluruh informasi yang disampaikan dalam esai harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Tim berlatih hampir setiap hari menghadapi babak final,” ujar Noor Yulia.
Ia menilai kekuatan utama karya tersebut terletak pada gagasan inovatif yang mengangkat potensi pangan lokal lereng Muria. Ketiga murid juga mampu menjelaskan konsep hilirisasi gembili menjadi functional noodles secara terperinci serta mempresentasikannya dengan lancar.
Menunjukkan produk olahan mi fungsional dari bahan baku ubi gembili dan tepung daun kelor. (Foto: Istimewa/EDUKATOR)
Perkuat Budaya Literasi Sekolah
Sutono dan Noor Yulia berharap, prestasi Tim Cinagre dapat menginspirasi murid lain untuk berani mencoba kompetisi dan mengembangkan potensi diri. Keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah dinilai dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta keterampilan menulis karya ilmiah.
Sutono menegaskan, sekolah terus berkomitmen memperkuat budaya literasi melalui kegiatan ekstrakurikuler KIR. Dukungan juga diberikan melalui penyediaan fasilitas, mulai dari perpustakaan yang nyaman, laboratorium yang memadai, hingga pendampingan guru sesuai bidang keahlian.
Tim Cinagre SMA PGRI 1 Pati terdiri ketua Grescia Vanesa Putri, beranggotakan Citra Putri Pramevi dan Najla Vevina Adira Gusmantoro saat berada di Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta. (Foto: Istimewa/EDUKATOR)
Menurutnya, prestasi Tim Cinagre menunjukkan bahwa kekayaan pangan lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk menghasilkan inovasi. Karya tersebut sekaligus membawa pesan pentingnya mengenalkan dan mengembangkan potensi pangan daerah. (Purwanto/Prs)