Ketika Rasa Hormat Murid kepada Guru Mulai Terkikis

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

SETIAP guru tentu pernah mengalami situasi yang mengusik perasaan ketika berhadapan dengan murid yang seolah kehilangan rasa hormat. Berpapasan dengan guru tanpa menyapa, berbicara ketika guru sedang menjelaskan, mengabaikan instruksi, bahkan menunjukkan sikap tidak peduli saat dinasihati. Perilaku semacam ini mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dibiarkan, dapat menjadi gambaran mulai terkikisnya nilai kesantunan dan penghormatan di lingkungan sekolah.

Tidak sedikit guru yang kemudian merespons dengan teguran keras, memperketat aturan, atau menuntut kepatuhan lebih tegas. Ada pula yang menganggap bahwa murid zaman sekarang memang semakin sulit diatur. Perubahan zaman, pengaruh teknologi, pola asuh keluarga, dan lingkungan pergaulan sering kali menjadi pihak yang dipersalahkan.

Memang, faktor-faktor tersebut tidak dapat diabaikan. Perkembangan teknologi telah mengubah cara anak berkomunikasi dan berinteraksi. Budaya digital yang serba cepat terkadang membuat sebagian murid kurang terbiasa dengan komunikasi yang mengedepankan kesantunan.

Di sisi lain, lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Namun, menyederhanakan persoalan dengan menyalahkan generasi sekarang bukanlah langkah yang bijak. Ada satu hal yang perlu ikut direnungkan, yaitu bagaimana kualitas hubungan antara guru dan murid selama ini dibangun.

Hormat Bukan Sekadar Patuh dan Takut
Dalam sebagian pandangan tradisional, rasa hormat terhadap guru sering kali diidentikkan dengan kepatuhan. Murid dianggap menghormati guru apabila duduk diam, tidak membantah, mengikuti semua perintah, dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan. Ukuran tersebut memang dapat membantu menciptakan ketertiban, tetapi belum tentu mencerminkan penghormatan yang sesungguhnya.

Murid bisa saja diam karena takut dimarahi. Mereka bisa patuh karena khawatir mendapatkan hukuman. Namun, kepatuhan yang lahir dari tekanan biasanya hanya bertahan selama ada pengawasan. Ketika guru tidak berada di dekat mereka, perilaku yang ditunjukkan bisa berbeda.

Rasa hormat sejati tidak semestinya dibangun di atas ketakutan, melainkan tumbuh dari kesadaran untuk menghargai orang lain. Murid menghormati guru karena menyadari bahwa guru memiliki peran penting dalam mendampingi proses belajar dan perkembangan dirinya. Mereka merasa dihargai sebagai individu, didengarkan pendapatnya, dan diperlakukan secara adil.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, hubungan guru dan murid yang positif merupakan salah satu fondasi penting bagi terciptanya lingkungan belajar yang sehat.

Ketika murid merasa aman dan diterima, mereka cenderung lebih terbuka terhadap arahan, lebih mudah terlibat dalam pembelajaran, dan memiliki motivasi untuk memperbaiki perilakunya. Artinya, membangun rasa hormat tidak cukup dengan memperkuat posisi guru sebagai pemegang otoritas. Guru juga perlu membangun hubungan manusiawi yang membuat kehadirannya dihargai.

Ada hal menarik yang perlu menjadi bahan introspeksi. Dahulu, sebutan guru sering kali memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat. Sosok guru dipandang sebagai orang yang patut digugu dan ditiru. Nasihatnya didengarkan, kehadirannya dihormati, bahkan tegurannya dianggap sebagai bagian dari proses mendidik.

Kini, penghormatan tersebut tidak selalu hadir secara otomatis. Status sebagai guru tidak serta-merta membuat setiap murid menunjukkan sikap hormat. Wibawa seorang guru semakin ditentukan oleh bagaimana ia memperlakukan murid, menunjukkan kompetensi, menjaga integritas, dan memberikan keteladanan.

Guru yang mudah merendahkan murid, mempermalukan mereka di depan teman-temannya, atau bersikap tidak adil berisiko kehilangan kepercayaan. Begitu pula guru yang menuntut kedisiplinan, tetapi tidak mampu menunjukkan perilaku disiplin dalam kesehariannya.

Hal ini bukan berarti guru harus selalu menyenangkan murid atau menghindari ketegasan. Guru tetap memiliki tanggung jawab menegakkan aturan dan memberikan konsekuensi atas pelanggaran. Namun, ketegasan perlu berjalan beriringan dengan keadilan dan penghargaan terhadap martabat murid. Wibawa yang dibangun melalui konsistensi dan keteladanan akan lebih bermakna daripada kewibawaan yang hanya mengandalkan suara keras dan ancaman hukuman.

Keteladanan dan Komunikasi Menumbuhkan Penghormatan
Mengembalikan rasa hormat murid kepada guru tidak selalu membutuhkan program besar atau aturan yang semakin rumit. Perubahan justru dapat dimulai dari interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertama, membangun komunikasi personal. Memanggil murid dengan namanya, menyapa lebih dahulu ketika berpapasan di koridor, atau sekadar menanyakan kabarnya merupakan bentuk perhatian yang bermakna. Murid akan merasa keberadaannya diakui. Sapaan sederhana dapat menjadi awal tumbuhnya kedekatan emosional yang membuat hubungan guru dan murid lebih manusiawi.

Kedua, membiasakan diri mendengarkan. Murid juga memiliki perasaan, persoalan, dan sudut pandang yang terkadang berbeda dengan pemikiran guru. Ketika mereka menyampaikan pendapat atau keluhan, guru perlu memberikan ruang untuk mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Bukan berarti semua keinginan murid harus dituruti, tetapi mereka perlu mengetahui bahwa pendapatnya memiliki tempat untuk dipertimbangkan.

Ketiga, menunjukkan keteladanan. Guru yang menginginkan murid datang tepat waktu harus terlebih dahulu membiasakan diri disiplin. Guru yang meminta murid berbicara santun harus menunjukkan kesantunan yang sama. Guru yang melarang murid bermain gawai ketika pembelajaran berlangsung juga perlu memperlihatkan sikap profesional dalam menggunakan perangkat digital.

Keempat, menerapkan aturan secara adil dan konsisten. Jangan sampai murid merasa bahwa aturan hanya berlaku bagi sebagian orang. Perlakuan yang pilih kasih dapat mengikis kepercayaan dan memunculkan sikap tidak peduli terhadap aturan. Ketegasan yang adil justru membantu murid memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Kelima, memberikan apresiasi terhadap perilaku positif. Ketika murid menunjukkan kesantunan, membantu teman, menyapa guru, atau memperbaiki kesalahannya, berikan penghargaan yang sewajarnya. Pengakuan sederhana dapat memperkuat kebiasaan baik dan membuat murid memahami bahwa perilaku positif mereka diperhatikan.

Berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa penghormatan tidak cukup dibangun melalui instruksi. Guru perlu menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Murid akan lebih mudah memahami nilai kesantunan ketika melihat dan merasakan langsung bagaimana nilai tersebut diterapkan oleh gurunya.

Sekolah dan Keluarga Harus Berjalan Seiring
Meskipun guru memiliki peran penting, pembentukan rasa hormat tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Kebiasaan menghargai orang lain, berbicara santun, mendengarkan ketika orang lain berbicara, dan bertanggung jawab atas perilaku sendiri semestinya dibangun sejak dari rumah.

Sekolah dan orang tua perlu berjalan searah dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Jangan sampai sekolah mengajarkan kesantunan, sementara anak mendapatkan contoh perilaku yang bertolak belakang di lingkungan sekitarnya. Masyarakat pun memiliki tanggung jawab menciptakan budaya yang menghargai profesi guru tanpa menutup ruang bagi kritik yang membangun.

Di sisi lain, guru juga perlu terus melakukan refleksi. Perubahan karakteristik murid menuntut perubahan pendekatan pendidikan. Guru tidak cukup hanya mengandalkan pola komunikasi dan cara mendisiplinkan murid yang mungkin efektif pada masa lalu. Kemampuan memahami perkembangan anak, membangun komunikasi yang sehat, dan mengelola kelas secara positif menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan.

Kikisnya rasa hormat murid kepada guru merupakan persoalan yang tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan, hubungan pendidikan dapat berubah menjadi sekadar hubungan formal antara pemberi instruksi dan penerima perintah. Padahal, pendidikan sejatinya merupakan proses membangun manusia melalui interaksi, keteladanan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Guru memang layak dihormati karena peran dan tanggung jawabnya. Namun, penghormatan tersebut akan lebih kuat apabila dibangun melalui perilaku yang pantas dihormati. Sebaliknya, murid juga harus memahami bahwa kebebasan berpendapat bukan alasan untuk mengabaikan kesantunan, dan kedekatan dengan guru bukan berarti hilangnya batas-batas penghormatan.

Pada akhirnya, membangun kembali rasa hormat bukanlah perkara siapa yang lebih berkuasa di ruang kelas. Guru perlu tegas tanpa merendahkan, dekat tanpa kehilangan wibawa, serta bersedia mendengarkan tanpa kehilangan otoritas mendidik. Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang rasa hormat sebagai sesuatu yang cukup dituntut dari murid. Rasa hormat perlu ditumbuhkan melalui hubungan yang sehat, keteladanan yang nyata, dan budaya saling menghargai.

Sebab, guru yang dihormati bukan semata-mata guru yang ditakuti ketika berada di depan kelas, melainkan guru yang tetap dikenang dan dihargai meskipun sudah tidak lagi berdiri di hadapan murid-muridnya.(*)

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-11-03 at 08.01
Yuk...Ikuti Purbalingga Academic Olympiad
FAUZI PAKAIAN JAWA
Ketika Rasa Hormat Murid kepada Guru Mulai Terkikis
WhatsApp Image 2026-11-02 at 21.50
Marak Peredaran Obat Keras, Tim P4GN Kabupaten Banjarnegara Lakukan Sidak di Desa Lengkong
DSC09182
Plt Rektor Unsoed Lantik Lima Dekan Baru
Screenshot 2026-11-02 155222
Olah Gembili dan Kelor jadi Mi Fungsional, SMA PGRI 1 Pati Raih Juara 3 di UGM