Alarm Penurunan Literasi Membaca Global: Tantangan Nyata Generasi Serba Instan

Bagikan :

Oleh: Markus Budiraharjo, S.Pd., Ed.M., Ed.D.
Kaprodi Magister Pendidikan Bahasa Inggris dan Pengajar di Program Doktoral
FKIP Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

DI era pesan instan, klip video pendek TikTok, dan scrolling tanpa henti di media sosial, rentang perhatian (attention span) anak muda terasa semakin menyusut. Fenomena ini bukan sekadar keluhan subjektif para orang tua atau guru, melainkan sebuah krisis kognitif nyata yang terekam secara ilmiah dalam laporan PISA 2025 yang melibatkan lebih dari 760.000 siswa berusia 15 tahun di 91 negara.

PISA atau Programme for International Student Assessment adalah program penilaian pendidikan yang dilakukan secara internasional untuk mengetahui kemampuan pelajar dalam membaca, matematika, dan sains di berbagai negara. Program ini diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Yakni organisasi internasional yang beranggotakan berbagai negara dan bergerak dalam kerja sama ekonomi serta pembangunan.

Hasil PISA 2025 membunyikan alarm keras. Literasi membaca mengalami kemerosotan paling tajam dibandingkan dengan domain sains maupun matematika.

Kemerosotan Literasi Membaca di Era Digital
Data PISA mencatat bahwa antara 2015 dan 2025, rerata skor literasi membaca di negara-negara OECD anjlok hingga 28 poin, dari 489 menjadi 461 poin. Sementara itu, di negara-negara non-OECD, skor membaca turun sebesar 16 poin, dari 428 menjadi 412 poin. Jika dilihat dalam kurun 2018–2025, performa membaca merosot di tiga perempat sistem pendidikan yang berpartisipasi. Penurunan rata-rata OECD mencapai 25 poin, setara dengan kehilangan masa pembelajaran lebih dari satu tahun penuh.

Aspek yang paling mengkhawatirkan dari penurunan tersebut adalah hilangnya keterampilan kognitif yang justru semakin krusial di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Keterampilan itu mencakup kemampuan mengevaluasi kebenaran informasi, menghubungkan berbagai sumber bacaan, dan berpikir kritis terhadap informasi yang dibaca.

PISA juga merekam munculnya fenomena hasty readers, yakni siswa yang membaca secara terburu-buru dan tergesa-gesa memberikan jawaban tanpa pemahaman mendalam. Proporsi hasty readers berlipat ganda, dari 6,6 persen pada 2018 menjadi 11,4 persen pada 2025.

Siswa masa kini tetap mampu menemukan informasi tunggal yang tersurat (locating information). Namun, mereka cenderung gagap ketika dihadapkan pada teks panjang yang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan (sustained attention) dan analisis mendalam.

Potret Empiris PISA Indonesia 2015–2025
Bagi Indonesia, tren membaca global tersebut mencerminkan tantangan yang jauh lebih berat. Rekam jejak PISA anak-anak Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir menunjukkan pola stagnasi pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.

Pada PISA 2015, skor literasi membaca anak-anak Indonesia tercatat 397 poin. Penurunan tajam terjadi pada PISA 2018, menjadi 371 poin. Ketika pandemi COVID-19 melanda, penurunan kembali terjadi hingga mencapai 359 poin pada PISA 2022. Sementara itu, hasil PISA 2025 yang mencapai 360 poin menunjukkan belum adanya kenaikan yang signifikan.

Data empiris menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen siswa berusia 15 tahun di Indonesia masih berada di bawah tingkat kemahiran dasar (Level 2 baseline proficiency) dalam membaca. Di tengah dunia yang dibanjiri informasi, hoaks, dan narasi manipulatif yang dapat diproduksi dengan bantuan AI, ketidakmampuan membaca secara kritis membuat generasi muda Indonesia sangat rentan terhadap misinformasi.

Penyebab Utama: Pergeseran Budaya dan Skimming Digital
PISA mengungkapkan bahwa penurunan literasi membaca berjalan seiring dengan merosotnya kegemaran membaca (reading for enjoyment) serta perubahan pola interaksi dengan teks.

Generasi yang lahir sekitar tahun 2009 tumbuh di tengah difusi ponsel pintar yang membiasakan pola membaca terfragmentasi. Mereka terbiasa sekadar memindai (skimming) umpan media sosial, membaca pesan singkat, atau menonton video.

Jonathan Haidt (2024) menyebut Generasi Z sebagai kelompok yang sangat rentan terhadap pengaruh buruk media sosial, terutama sejak perkembangan teknologi telepon pintar dan budaya swafoto yang semakin kuat sekitar 2010.

PISA 2018 dan 2025 menunjukkan bahwa siswa yang rajin membaca buku fiksi cetak atau bacaan fisik memiliki skor membaca jauh lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang membaca secara eksklusif melalui perangkat digital atau jarang membaca buku.

Membaca buku cetak dapat membangun “otot kognitif” yang melatih daya tahan fokus. Sebaliknya, kebiasaan membaca di layar digital sering mendorong navigasi yang cepat, tetapi cenderung dangkal.

Pelajaran Global dan Jalan Keluar bagi Indonesia
Beberapa negara telah mengambil langkah konkret untuk merebut kembali kedalaman berpikir siswa. Prancis melakukan reformasi kurikulum nasional dengan kembali menekankan karya sastra dan pemahaman bacaan sebagai kompetensi inti lintas disiplin.

Singapura, meskipun memiliki ruang kelas dengan teknologi canggih, tetap mewajibkan siswa meluangkan waktu secara signifikan untuk membaca teks cetak (print reading). Sementara itu, Swedia memperkuat jaringan perpustakaan dan kampanye membaca nasional yang menekankan kedalaman daripada kecepatan.

Bagi Indonesia, upaya meningkatkan literasi membaca tidak boleh lagi disederhanakan sekadar dengan “menyediakan buku” atau menggelar lomba membaca cepat. Sekolah dan orang tua perlu berkolaborasi menjalankan tiga langkah mendasar.

Pertama, menghidupkan kembali budaya membaca buku fisik (print reading). Kebiasaan ini dapat melatih kembali ketahanan fokus siswa melalui bacaan naratif dan buku cetak secara utuh di sekolah.

Kedua, mengajarkan strategi navigasi digital. Siswa perlu dilatih untuk memverifikasi kebenaran informasi, membedakan fakta dan opini, serta menguji kredibilitas sumber bacaan daring.

Ketiga, mengintegrasikan literasi ke seluruh mata pelajaran. Membaca kritis bukan hanya tugas guru Bahasa Indonesia, melainkan fondasi untuk memahami sains, matematika, ilmu sosial, dan berbagai bidang pengetahuan lainnya.

Masa depan tidak hanya milik mereka yang mampu mengakses informasi secara cepat, melainkan milik mereka yang mampu menginterpretasikan, menghubungkan, dan memetik makna mendalam dari apa yang mereka baca.(*)

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-10-05 at 19.45
Perkuat Kompetensi, 50 Guru SD Ikuti Bimtek Digitalisasi Pembelajaran
WhatsApp Image 2026-10-05 at 17.48
SDN 1 Purbalingga Wetan Borong Delapan Prestasi
damai1
Sekolah Seharusnya Menjadi Simulasi Dunia Nyata
WhatsApp Image 2026-10-05 at 14.19
Kokurikuler SMAN 1 Sigaluh Perkuat Program SMA Mantap
FAUZI PAKAIAN JAWA
Indonesia Emas Dimulai dari Bangku Sekolah