
YOGYAKARTA, EDUKATOR–ARTJOG 2026 resmi berakhir di Jogja National Museum, Yogyakarta, Minggu (30/8/2026). Penutupan festival seni kontemporer yang memasuki penyelenggaraan ke-19 itu menjadi momentum refleksi tentang perjalanan seni, kegelisahan zaman, inklusivitas, serta masa depan ekosistem seni yang lebih sehat.
Direktur ARTJOG, Heri Pemad, menegaskan bahwa keberlanjutan festival tidak hanya bergantung pada karya dan pemikiran seniman. Kepercayaan seniman serta kepedulian publik menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan ARTJOG. “ARTJOG membutuhkan kepercayaan seniman dan kepedulian publik,” tegas Heri.
Tepuk tangan, musik, dan percakapan hangat mengiringi penutupan festival bertema Generatio tersebut. Namun, berakhirnya perhelatan tidak berarti percakapan tentang seni ikut berhenti. ARTJOG justru menjadikan momentum itu untuk mengevaluasi perjalanan sekaligus menyiapkan langkah menuju penyelenggaraan berikutnya.
Seni Menjadi Ruang Membaca Realitas
Mengusung tema Generatio, ARTJOG 2026 menjadi babak pertama trilogi kuratorial Ars Longa Trilogia yang digagas kurator tamu Farah Wardani.
Sepanjang penyelenggaraan, ARTJOG tidak hanya menghadirkan karya seni kepada publik. Festival tersebut juga membuka ruang perjumpaan dengan berbagai persoalan sosial, politik, dan ekologi yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurut Farah, seni kontemporer tidak dapat dipisahkan dari realitas kehidupan. Karya seni tumbuh dari berbagai kegelisahan yang dirasakan masyarakat.
“ARTJOG menjadi bagian dari percakapan publik luas,” ujar Farah.
Ia menilai kondisi masyarakat saat ini membutuhkan proses membangun kesadaran kolektif baru. Proses tersebut tidak selalu nyaman dan terkadang dapat menimbulkan rasa sakit.
Karena itu, seni tidak cukup ditempatkan sebagai tontonan. Seni juga dapat menjadi ruang untuk membaca realitas, mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa, sekaligus membuka kemungkinan lahirnya kesadaran baru.
Inklusivitas Harus Menjadi Praktik Nyata
Salah satu refleksi penting ARTJOG 2026 adalah komitmen membangun ruang seni yang terbuka bagi semua kalangan, termasuk seniman difabel.
Farah menegaskan ARTJOG akan terus menyediakan ruang presentasi bagi seniman dari berbagai latar belakang. Seniman difabel juga menjadi bagian dari komitmen tersebut.
Selama ini, undangan terbuka bagi seniman difabel diselenggarakan setiap dua tahun. Ke depan, ARTJOG membuka kemungkinan agar program tersebut menjadi agenda tahunan.
Komitmen itu juga akan diperkuat melalui berbagai program LOVE ARTJOG, termasuk pendampingan bagi pengunjung difabel dan program residensi.
Inklusivitas tersebut tidak sekadar menghadirkan karya seniman difabel di ruang pamer. Lebih jauh, ARTJOG ingin memastikan seniman difabel memperoleh kesempatan yang setara untuk berkarya, berkembang, membangun jejaring, serta menjadi bagian utuh dari ekosistem seni.
Dengan demikian, inklusivitas bukan hanya menyangkut siapa yang dapat tampil. Lebih dari itu, juga berkaitan dengan siapa yang memperoleh kesempatan untuk didengar, dilihat, dan dihargai.
Membangun Ekosistem Seni Lebih Sehat
Refleksi juga datang dari tim yang berada di balik penyelenggaraan ARTJOG. Selama lebih dari dua bulan, mereka berhadapan langsung dengan beragam karakter pengunjung dan dinamika festival.
Dalam penutupan tersebut, muncul aspirasi mengenai pentingnya ruang aman, keterbukaan, dan komunikasi dalam menghadapi berbagai tantangan selama penyelenggaraan.
Heri Pemad menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat. Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul selama penyelenggaraan juga menjadi bahan otokritik terhadap kondisi ekosistem seni saat ini.
Keberlanjutan festival, lanjut Heri, tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah karya maupun banyaknya pengunjung. Di dalamnya terdapat seniman, pekerja kreatif, komunitas, mitra, dan publik yang bersama-sama membangun ekosistem seni.
Karena itu, pembenahan tata kelola menjadi bagian penting dalam perjalanan ARTJOG selanjutnya.
Dari Generatio Menuju Legatum
Penutupan ARTJOG 2026 berlangsung dalam suasana meriah. Penampilan White Shoes and The Couples Company serta pertunjukan elektronik Les Garçons Aux Chaussures Blanches menjadi bagian dari perayaan keberagaman ekspresi seni.
Setelah Generatio, ARTJOG akan memasuki usia ke-20 pada tahun depan dengan mengusung tema Legatum.
Tema tersebut akan mengeksplorasi gagasan mengenai warisan seni rupa dan budaya global sekaligus wacana historis bagi generasi mendatang.
Memasuki fase baru itu, ARTJOG menghadapi pekerjaan rumah untuk membenahi tata kelola festival. Pembenahan diarahkan agar penyelenggaraan semakin matang, inklusif, kritis, serta berpihak pada keberlanjutan ekosistem seni.
Perjalanan ARTJOG sejak 2008, ketika masih bernama Jogja Art Fair, telah membawanya berkembang menjadi salah satu platform seni kontemporer yang berpengaruh di Indonesia dan Asia Tenggara.
Konsistensinya menghadirkan karya-karya mutakhir membuat ARTJOG tidak hanya menjadi ruang presentasi seni. Festival ini juga berkembang menjadi ruang pertemuan bagi seniman, pekerja kreatif, komunitas, publik, dan berbagai gagasan.
Karena itu, ketika Generatio berakhir, percakapan yang dibangunnya belum selesai.
Seni akan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Masyarakat dan ekosistem yang menopangnya juga akan terus berubah. Tantangannya adalah memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam perjalanan tersebut, termasuk seniman dan pengunjung difabel.
ARTJOG 2026 meninggalkan pesan bahwa festival seni bukan hanya tentang apa yang dipamerkan di dalam ruang. Festival juga tentang nilai-nilai yang dibawa keluar dari ruang tersebut.
Dari Generatio, ARTJOG kini melangkah menuju Legatum. Dari generasi hari ini menuju warisan bagi generasi berikutnya.
Di antara keduanya, terdapat pekerjaan penting yang harus terus dirawat, yakni membangun ruang seni yang terbuka, aman, setara, dan dapat diakses semua orang.
ARTJOG pun menutup penyelenggaraan ke-19 bukan dengan sebuah titik, melainkan koma. Sebuah jeda untuk berefleksi sebelum kembali melanjutkan perjalanan.(Harta Nining Wijaya/Prs)