
Sambil duduk lesehan di pinggir jalan desa Gunungwuled, Kecamatan Rembang , Purbalingga , murid2 SMPN 3 Satap Rembang ini asyik belajar di alam terbuka. (Foto: Humas SMPN 3 Satap Rembang/EDUKAtOR).
PURBALINGGA, EDUKATOR–Lingkungan alam menjadi ruang belajar bagi murid SMP Negeri 3 Satu Atap Rembang, Kabupaten Purbalingga, untuk mengasah keterampilan berbahasa terdiri menyimak, membaca , menulis dan berbicara. Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia di alam terbuka, Rabu (21/10/2026), murid berlatih mengamati lingkungan, mengolah informasi, dan menuangkan pengalaman nyata menjadi tulisan yang runtut dan menarik.
Di bawah bimbingan guru Bahasa Indonesia, Bambang Purwanto, S.Pd., murid diajak keluar dari ruang kelas untuk mengamati lingkungan sekitar. “Kegiatan ini dirancang agar pembelajaran lebih menyenangkan, kontekstual, dan bermakna melalui pemanfaatan alam sebagai sumber belajar,” ujar Bambag Purwanto.
Guru Bahasa Indonesia, Bambang Purwanto, S.Pd
Alam Menjadi Sumber Inspirasi Menulis
Dalam kegiatan tersebut, murid mengamati berbagai objek, seperti jalan desa, pepohonan, tumbuhan, kondisi tanah, dan suasana lingkungan sekitar. Hasil pengamatan kemudian digunakan sebagai bahan untuk menyusun tulisan deskriptif.
Melalui pengalaman langsung, murid berlatih memperkaya kosakata, memilih kata yang tepat, menyusun kalimat, serta mengembangkan paragraf secara runtut. Mereka juga belajar menyampaikan gagasan berdasarkan fakta yang dilihat dan dirasakan.
Metode ini membantu murid menghubungkan teori kebahasaan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi di buku, tetapi juga memberi kesempatan kepada murid untuk mengalami, mengamati, dan mengolah informasi secara mandiri.
Belajar langsung keterapilan berbahasa di alam terbuka.
Kreativitas dan Kepedulian Lingkungan Tumbuh
Pembelajaran di alam terbuka juga mendorong tumbuhnya kreativitas, kemandirian, dan rasa ingin tahu murid. Melalui kegiatan pengamatan, mereka belajar mencatat informasi, mengembangkan ide, dan menghasilkan tulisan berdasarkan pengalaman sendiri.
Selain meningkatkan keterampilan berbahasa, kegiatan tersebut menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Murid diajak memahami bahwa alam di sekitar mereka tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar.
Kepala SMP Negeri 3 Satu Atap Rembang, Jais Mudin, S.Pd., mendukung penerapan pembelajaran inovatif yang melibatkan murid secara aktif. Menurutnya, guru perlu terus mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik murid dan potensi lingkungan sekitar.
“Alam sekitar kita dapat menjadi sumber belajar yang kaya,” demikian pesan yang ditekankan dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut.
Keterbatasan Bukan Penghalang Berinovasi
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berkualitas tidak selalu bergantung pada kelengkapan sarana di dalam kelas. Dengan kreativitas guru dan pemanfaatan lingkungan sekitar, proses belajar dapat berlangsung secara aktif, inspiratif, dan menyenangkan.
Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis alam, SMP Negeri 3 Satu Atap Rembang terus berupaya menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Murid diharapkan semakin terampil berbahasa, mampu berpikir kritis, berani menghasilkan karya, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Pembelajaran ini sekaligus menegaskan bahwa pengalaman sehari-hari dapat menjadi bahan untuk memperkaya pengetahuan. Dengan belajar dari alam dan menulis berdasarkan pengamatan, murid memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi diri sebagai generasi yang berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi masa depan.(Humas SMPN 3 Satap Rembang/Prs)