Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos, M.Si
Penasihat Militer RI untuk PBB, New York (2017–2019)
KETIKA saya sedang duduk sambil minum kopi di sebuah pondok kecil di lereng Gunung Gede Pangrango, di depan saya kabut bergerak pelan menyelimuti pohon-pohon pinus yang menjulang. Angin bertiup dingin, menusuk hingga ke tulang.
Di kejauhan, sesekali terdengar suara burung yang entah sedang memanggil apa. Gunung ini sudah berdiri sejak zaman purba. Ia menyaksikan kerajaan-kerajaan runtuh, perang naik turun, dan manusia yang tak pernah belajar dari kesalahannya.
Saya memilih menulis dari sini karena gunung tidak pernah berbohong. Gunung hanya diam, kokoh, dan mengingatkan kita bahwa di alam ini, kesabaran ada batasnya.
Begitu pula dengan perdamaian dunia. Saat ini, di seberang lautan, ada bom waktu yang sedang berdetak. Namanya: blokade AS terhadap Iran. Dan saya khawatir, kita semua sedang berdiri terlalu dekat dengan lokasi ledakan.
Gencatan Senjata Itu Gagal
Dua pekan lalu, dunia sempat bernapas lega. AS, Iran, dan Pakistan mengumumkan gencatan senjata. Berita itu menyebar cepat. Banyak kolega saya di New York tersenyum lega.
Saya tidak. Kenapa? Karena saya sudah duduk cukup lama di Dewan Keamanan PBB sebagai Asisten Militer. Saya tahu persis bagaimana perundingan semacam ini berjalan. Kalau akar masalahnya tidak disentuh, gencatan senjata hanya plester di luka yang membusuk. Dan benar saja.
Putaran pertama di Islamabad berlangsung 21 jam. Mereka berbicara, berdebat, saling tunjuk muka. Tapi ketika selesai, tidak ada kesepakatan. Apa yang membuat mereka buntu? Tiga hal.
Pertama, soal nuklir. AS minta Iran berhenti selama 20 tahun. Iran hanya mau 3 sampai 5 tahun. Selisih 15 tahun. Itu bukan celah, itu jurang.
Kedua, soal Selat Hormuz. Iran bilang, “Cabut dulu blokade kalian, baru kita bicara.” AS bilang, “Buka selat itu secara permanen di bawah kawalan kami, baru kami berhenti memblokade.” Sama-sama keras kepala.
Ketiga, soal Lebanon. Iran ingin gencatan senjata ini mencakup juga konflik dengan Israel dan Hizbullah. AS dan Israel menolak mentah-mentah. Mereka bilang, “Urusan Lebanon lain, ini urusan Iran.”
Gagal total. Dan hingga sekarang, tidak ada satu pun kabar resmi kapan putaran kedua akan digelar. Pakistan sudah berusaha. Kepala Staf AD mereka, Jenderal Munir, terbang ke Teheran membawa pesan baru dari Trump. Tapi sampai saya menulis kalimat ini, belum ada lampu hijau dari Iran.
Gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pekan depan kemungkinan besar tidak akan diperpanjang. Saya bilang ini bukan tebakan. Ini analisis berdasarkan fakta di lapangan.
Sekarang, soal blokade. Ini serius.
Saya ingin meluruskan satu hal. Banyak orang mengira blokade itu seperti “jalan ditutup” atau “demonstrasi di depan pabrik.” Tidak. Blokade dalam perang itu artinya: Anda tidak boleh keluar, tidak boleh masuk, dan kalau mencoba, kami akan tembak.
Itu yang dilakukan AS sekarang di perairan Iran. Kapal perang Amerika sudah berjaga. Dalam 48 jam pertama saja, sepuluh kapal dagang diputar balik. Kapal induk USS George H.W. Bush ada di sana, lengkap dengan pesawat tempur. Lebih dari 10.000 tentara AS tambahan dikerahkan ke Timur Tengah.
AS bilang ini “tekanan finansial”. Saya bilang, dengan hormat, ini adalah tindakan perang. Saya pernah belajar di militer: ketika Anda mencekik ekonomi suatu negara lewat laut, jangan kaget kalau negara itu menggigit balik. Dan Iran sudah siap menggigit.
Para jenderal di Teheran sudah bilang terang-terangan: “Kami akan tenggelamkan kapal perang AS di Selat Hormuz. Kami akan lumpuhkan perdagangan di Laut Merah.” Ini bukan omongan populis. Ini pernyataan resmi dari penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran.
Sekarang bayangkan: kapal induk AS tenggelam, atau rudal Iran menghantam kapal tanker, atau sebaliknya AS membombardir fasilitas nuklir Iran. Itu bukan perang lokal. Itu api yang akan menyambar seluruh kawasan.
China marah. Dan itu perubahan besar.
Satu hal yang membuat situasi ini berbeda dari konflik-konflik sebelumnya adalah: China tidak diam.
Saya ingin pembaca paham. Sebelum perang ini, China menyerap hampir 90 persen minyak ekspor Iran, sekitar 1,38 juta barel per hari. Itu bukan angka kecil. Itu urat nadi sebagian kilang-kilang mini China. Sekarang, dengan blokade AS, aliran itu terputus.
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, sudah menelepon Iran. Dengan bahasa diplomatik yang halus tapi isinya keras, dia bilang bahwa Selat Hormuz harus normal dan navigasi bebas harus kembali. Terjemahan bebasnya: Amerika, jangan ganggu bisnis kami.
Dan ada yang lebih menarik. Rusia, dengan sigap, sudah menawari China: kekurangan minyakmu karena blokade akan kami ganti. Coba bayangkan implikasinya.
China dan Rusia, dua negara adidaya, mulai saling bahu-membahu karena satu alasan: ulah AS yang memblokade Iran. Saya tidak bilang mereka akan langsung membentuk aliansi militer, tapi arahnya ke sana, perlahan tapi pasti.
Dunia sedang bergerak menuju tatanan baru. Poros Beijing–Moskwa–Teheran mulai terbentuk. Dan AS, dengan blokadenya, justru mempercepat proses itu. Ironis.
Pakistan: saya hormati upaya mereka, tapi waktu hampir habis.
Saya tidak bisa menutup mata terhadap kerja keras Pakistan. Negara ini benar-benar berusaha menjadi jembatan. Kunjungan Kepala Staf AD mereka ke Teheran beberapa hari lalu adalah langkah diplomatik yang patut diacungi jempol. Mereka membawa pesan baru dari pemerintahan Trump dan mencoba membujuk Iran agar mau kembali ke meja perundingan.
Tapi saya harus jujur. Saya pernah duduk di meja perundingan PBB puluhan kali. Saya tahu satu hal: diplomasi tanpa kekuatan yang seimbang tidak akan berhasil.
Saat ini, AS mengerahkan 10.000 tentara. Iran mengancam dengan rudal. Sementara Pakistan hanya membawa “pesan”. Saya khawatir itu tidak cukup. Mudah-mudahan saya salah. Mudah-mudahan Jenderal Munir berhasil. Tapi sebagai seorang militer, saya tidak bekerja berdasarkan harapan. Saya bekerja berdasarkan fakta. Dan fakta mengatakan: waktu hampir habis.
Prediksi saya: tiga kemungkinan yang akan terjadi.
Saudara-saudara, izinkan saya berpikir seperti di ruang perang. Saya tidak suka meramal. Tapi kadang, seorang jenderal harus bicara, bukan karena dia tahu segalanya, tetapi karena dia punya kewajiban untuk memperingatkan. Inilah tiga skenario yang saya lihat, berdasarkan laporan intelijen PBB dan komunikasi saya dengan kolega di New York.
Skenario pertama: gencatan senjata runtuh, perang terbatas dimulai.
Ini yang paling mungkin terjadi. Gencatan senjata tidak diperpanjang pekan depan. Iran melancarkan serangan balasan, bukan invasi darat, tetapi rudal dan drone ke kapal-kapal perang AS. AS membalas dengan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran. Perang terjadi di laut dan udara, tanpa pendaratan pasukan darat, setidaknya di bulan pertama.
Ini bukan skenario terbaik, tetapi juga bukan kiamat. Perang terbatas masih bisa dikendalikan. Masih ada ruang untuk diplomasi darurat.
Skenario kedua: kesepakatan menit terakhir, diplomasi menang.
Masih ada peluang, kecil tetapi ada. Syaratnya: Iran setuju moratorium nuklir 10 tahun, AS setuju Selat Hormuz dibuka dengan pengawalan internasional di bawah bendera PBB, dan gencatan senjata diperpanjang minimal 30 hari.
Ini kompromi berat. Kedua pihak harus menelan ego masing-masing. Tapi saya sudah melihat keajaiban diplomatik di PBB berkali-kali. Di menit-menit terakhir, kadang akal sehat menang. Saya berharap skenario ini yang terjadi.
Skenario ketiga: perang besar, regional meluas.
Ini skenario yang tidak ingin saya tulis, tapi sebagai penasihat militer saya tidak punya hak untuk menyembunyikannya.
Jika Iran berhasil menenggelamkan kapal induk AS—dan saya tekankan, ini sangat sulit tetapi tidak mustahil—maka AS akan merespons dengan kekuatan penuh. Tidak hanya serangan udara, tetapi juga invasi darat. Israel akan bergabung dari sisi barat.
Hizbullah membuka front kedua dari Lebanon. Harga minyak melonjak hingga 150 dolar per barel. Ekonomi global jatuh. China bisa terseret masuk. Dan PBB akan terdiam karena Dewan Keamanan macet oleh hak veto.
Itu skenario terburuk. Saya berharap tidak pernah terjadi. Tapi saya harus menyebutkannya, karena tugas saya adalah mengatakan kebenaran, meskipun pahit.
Penutup.
Saya menulis catatan ini bukan untuk menakut-nakuti. Saya menulis ini karena saya sudah cukup lama melihat dunia berjalan menuju jurang, sementara para pemimpinnya sibuk dengan ego masing-masing.
Saya seorang jenderal purnawirawan. Saya sudah tidak lagi memegang senjata. Tapi saya masih memegang pena, maka saya akan terus menulis dan bicara.
Saya tutup dengan satu pertanyaan:
Apakah kita akan membiarkan bom waktu ini meledak, sementara kita hanya diam dan menonton?
Saya memilih untuk tidak diam. Saya memilih untuk bicara.
Gunung Gede Pangrango, 16 April 2026