Bukan Hama yang Meruntuhkan Kita, Tapi Karung Beras Kosong

Bagikan :

Mayjen TNI (Purn) Fulad, S.Sos. M.Si
Mahasiswa S3 Ilmu Pertanian Unsoed
Pemerhati Pertanian, Aktivis Pertanian, dan Anggota Kelompok Tani
di Geopark Ciletuh, Sukabumi, Provinsi Jawa-Barat

Pendahuluan
SEJARAH menunjukkan bahwa negara jarang runtuh karena ancaman yang tampak jelas di depan mata. Banyak bangsa justru tergelincir oleh persoalan yang dianggap remeh, dibiarkan menumpuk, lalu meledak menjadi krisis yang tak terkendali. Perang memang dapat menghancurkan kota, krisis keuangan dapat mengguncang pasar, tetapi kelangkaan pangan memiliki daya rusak yang jauh lebih mendasar karena menyentuh kebutuhan paling elementer manusia.

Di tengah optimisme pemerintah mengenai swasembada pangan yang kembali digaungkan dari Gorontalo, ada baiknya kita menengok pelajaran dari panggung dunia. Ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mengakui bahwa cadangan strategis negaranya hanya cukup sekitar empat pekan dalam menghadapi gangguan pasokan energi.

Dan dunia kembali diingatkan pada satu prinsip lama. Yakni  kekuatan sebuah negara tidak diukur dari kerasnya pidato atau canggihnya persenjataan, melainkan dari kemampuan bertahan ketika rantai pasokan terganggu.

Bagi Indonesia, pelajaran itu menjadi sangat relevan. Jika Amerika Serikat mengkhawatirkan cadangan energi, Indonesia seharusnya lebih mencemaskan cadangan pangan. Sebab, bangsa yang gagal menjaga ketersediaan pangan pada akhirnya akan menghadapi ancaman yang jauh lebih nyata daripada tekanan geopolitik mana pun.

Empat Pekan di Sisi Pertanian: Lebih Rapuh dari Minyak
Gorontalo, beberapa pekan silam, menjadi panggung seremonial swasembada pangan. Panggung megah didirikan, spanduk bergambar lumbung dunia berkibar, dan optimisme terus digaungkan.

Namun, di tengah gegap-gempita itu, terdengar gema dari Jenewa yang patut dicermati. Donald Trump, dengan keterusterangan yang jarang ditunjukkan para pemimpin negara besar, mengakui bahwa cadangan strategis negaranya berada pada batas yang mengkhawatirkan. Negeri adikuasa itu pun terpaksa menginjak rem darurat.

Kedua peristiwa tersebut bertemu pada satu benang merah: negara yang kuat adalah negara yang memiliki cadangan, bukan negara yang paling keras pidatonya.

Trump tidak tersandung oleh rudal musuh, melainkan oleh kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi. Indonesia dapat menghadapi ancaman yang lebih sederhana, tetapi justru lebih berbahaya, yakni karung beras yang kosong. Bukan semata karena hama atau kemarau, melainkan karena fondasi logistik pangan yang belum cukup kuat.

Iran cukup mengancam Selat Hormuz, harga minyak dunia langsung melonjak. Indonesia pun tidak jauh berbeda. Gangguan pada jalur perdagangan internasional atau tersendatnya impor komoditas strategis dapat segera menimbulkan tekanan terhadap pasar domestik.

Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar input produksi pertanian kita masih bergantung pada faktor eksternal. Pupuk, energi, bahan baku industri pertanian, hingga sebagian komponen alat dan mesin pertanian masih memiliki ketergantungan yang signifikan terhadap rantai pasok global.

Empat pekan mungkin terdengar lama dalam dunia politik. Namun, bagi masyarakat yang menghadapi lonjakan harga beras, empat pekan adalah waktu yang sangat singkat.

Gorontalo: Tanah Subur yang Kehilangan Gigi
Gorontalo dianugerahi kesuburan alam. Jagung, padi, dan berbagai komoditas perkebunan tumbuh dengan baik. Potensi tersebut tidak perlu diragukan.

Namun, kesuburan lahan tidak otomatis menghasilkan ketahanan pangan.

Tanah yang subur tanpa dukungan industri hulu yang kuat hanya akan melahirkan ketergantungan baru. Kita menanam padi, tetapi masih bergantung pada bahan baku pupuk dari luar. Kita mengoperasikan traktor, tetapi energinya tetap ditentukan oleh dinamika pasar global. Kita memanen jagung, tetapi sebagian kebutuhan industri turunannya masih mengandalkan pasokan impor.

Karena itu, hilirisasi tidak boleh dipahami semata-mata sebagai pembangunan pabrik pengolahan hasil panen. Hilirisasi harus dimulai dari hulunya, yakni kemampuan bangsa memproduksi sendiri berbagai faktor produksi yang dibutuhkan petaninya.

Dalam perspektif pertahanan, kondisi ini serupa dengan angkatan bersenjata yang memiliki alat utama sistem persenjataan modern, tetapi tidak memiliki kemandirian logistik. Kekuatan seperti itu memang tampak mengesankan pada masa damai, tetapi sangat rentan ketika krisis datang.

Di dunia pertanian, yang pertama kali kalah bukanlah mereka yang memiliki lahan sempit, melainkan mereka yang pasokan logistiknya terputus.

Mitos Negara Agraris yang Harus Kita Kubur
Selama puluhan tahun kita merasa aman karena menyebut diri sebagai negara agraris. Padahal, status agraris bukanlah jaminan ketahanan pangan.

Sejarah memberikan pelajaran yang keras. Mesir pernah dikenal sebagai lumbung gandum kawasan Timur Tengah. Namun, ketika harga pangan dunia melonjak pada 1977, gelombang demonstrasi besar terjadi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Produksi domestik yang besar ternyata tidak cukup ketika sistem distribusi dan cadangan pangan gagal menahan guncangan.

Pelajaran serupa juga terlihat pada Jerman dalam Perang Dunia I. Kekalahan mereka tidak hanya ditentukan oleh medan tempur, tetapi juga oleh blokade laut yang memutus pasokan logistik dan bahan pangan. Kelaparan perlahan menggerus daya tahan nasional jauh sebelum perang benar-benar berakhir.

Karena itu, kebanggaan sebagai negara agraris tidak boleh membuat kita terlena. Hama memiliki obat. Kemarau dapat diatasi dengan irigasi. Namun, ketika pupuk menghilang dari pasar, energi menjadi langka, dan rantai pasokan terganggu, pidato sehebat apa pun tidak akan mampu mengenyangkan rakyat.

Sebab, pidato adalah suara, sedangkan pangan adalah syarat keberlangsungan sebuah negara.

Pangan Adalah Benteng Pertahanan Terakhir
Terlalu lama kita memisahkan pertanian dari pertahanan. Pertanian dianggap sebagai urusan ekonomi, sedangkan pertahanan dipandang semata-mata sebagai urusan militer. Padahal, dalam praktiknya, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Tidak ada negara yang mampu mempertahankan kedaulatannya apabila ketahanan pangannya rapuh. Tidak ada pasukan yang dapat bertahan lama apabila sistem logistiknya runtuh.

Sejarah peperangan membuktikan bahwa logistik hampir selalu menjadi penentu kemenangan maupun kekalahan. Senjata dapat dibeli. Teknologi dapat dipinjam. Namun, daya tahan nasional hanya dapat dibangun dari dalam.

Dalam konteks Indonesia, lumbung pangan sesungguhnya memiliki nilai strategis yang tidak kalah penting dibandingkan pangkalan militer. Gudang beras yang penuh merupakan bagian dari sistem pertahanan nasional. Cadangan pupuk yang memadai adalah instrumen keamanan negara. Ketahanan petani adalah fondasi ketahanan bangsa.

Penutup
Lalu, apa yang harus kita bawa pulang dari Gorontalo?

Pertama, kedaulatan pangan adalah bentuk paling mendasar dari kedaulatan negara. Negara yang tidak mampu menjamin pangan rakyatnya akan selalu berada dalam posisi rentan.

Kedua, luasnya wilayah Indonesia tidak akan banyak berarti apabila faktor-faktor produksi strategis masih ditentukan oleh dinamika pasar global yang berada di luar kendali kita.

Karena itu, momentum Gorontalo tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut harus menjadi titik balik strategis. Bangun industri pupuk berbasis sumber daya nasional.

Perkuat ketersediaan energi untuk sektor pertanian. Revitalisasi industri alat dan mesin pertanian dalam negeri. Tingkatkan kapasitas cadangan pangan nasional hingga mampu menghadapi gangguan jangka panjang.

Targetnya bukan sekadar cukup untuk beberapa minggu. Targetnya adalah menciptakan daya tahan yang memungkinkan bangsa ini tetap berdiri tegak ketika dunia sedang bergejolak.

Nuklir memang menakutkan. Hama memang merusak tanaman. Namun, bangsa-bangsa besar dalam sejarah justru lebih sering jatuh karena gagal menjaga kebutuhan paling dasar rakyatnya.

Karung beras yang kosong sering kali lebih berbahaya daripada dentuman meriam.

Semoga Gorontalo tidak hanya dikenang sebagai tempat berlangsungnya seremoni swasembada pangan, melainkan juga sebagai titik kesadaran bahwa ketahanan pangan merupakan pertahanan nasional dalam bentuk yang paling nyata, sebelum pasar dan keadaan memaksa kita belajar dengan harga yang jauh lebih mahal.(*)

Ujung Genteng, Sukabumi, Juni 2026

 

 

 

BERITA TERKINI

FULAD6
Bukan Hama yang Meruntuhkan Kita, Tapi Karung Beras Kosong
WhatsApp Image 2026-06-26 at 13.53
Dua Mahasiswa Politeknik Yakpermas Terapkan Perawatan Luka Diabetes Secara Modern
WhatsApp Image 2026-06-26 at 13.04
Dosen Politeknik Yakpermas Eko Julianto M.Kes Ciptakan Salep "HiScare" dari Minyak Buah Merah Papua
WhatsApp Image 2026-06-26 at 22.12
127 Pensiunan Geruduk Bank Mandiri Taspen Purwokerto, Desak Kredit Dibatalkan
fauzijuni1
Sebelum Menyebut Anak Nakal, Sudahkah Kita Mendengar Mereka?