
Foto bersama narasumber dan anggota KWT Subur Alami usai pelatihan.
BANJARNEGARA, EDUKATOR – Sebanyak 20 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Alami, Desa Binorong, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, mengikuti pelatihan pengembangan usaha berbasis sayuran yang digelar empat dosen Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), di Balai Desa Binorong, Sabtu (24/10/2026). Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) berbasis riset ini, anggota KWT didorong mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah, memperkuat pengelolaan keuangan, dan memperluas pemasaran guna meningkatkan pendapatan keluarga.
Kegiatan yang dilaksanakan melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed tersebut mengusung tema Peningkatan Pendapatan Anggota KWT Subur Alami Banjarnegara melalui Perbaikan Teknis Budidaya Sayuran, Diversifikasi Pengolahan Makanan Berbasis Sayuran, dan Strategi Pemasaran.
Tim pengabdian dipimpin Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P., dengan tiga anggota, yakni Dr. Altri Mulyani, S.P., M.Sc., Dr. Dindy Darmawati Putri, S.P., M.P., dan Sarno, S.P., M.Sc.

Suasana pelatihan di KWT Subur Alami Desa Binorong
Ketua tim, Irene Kartika Eka Wijayanti, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan membantu anggota KWT mengatasi persoalan rendahnya harga sayuran saat panen melimpah sekaligus mengurangi kerugian akibat bahan pangan yang mudah rusak.
“Pengolahan hasil panen dapat membuka peluang pendapatan baru,” ujar Irene.
Olah Sayuran Menjadi Produk Bernilai Tambah
Dalam pelatihan tersebut, Irene Kartika Wijayanti menyampaikan materi pengolahan aneka makanan berbasis sayuran. Anggota KWT diperkenalkan pada tiga produk, yakni nugget sayuran, abon kangkung (kangkung crispy) dan keripik kangkung dan terong.

Nugget sayuran

Abon kangkung

Keripik sayuran
Ketiga produk dipilih karena menggunakan bahan baku yang relatif mudah diperoleh, peralatan sederhana, serta teknik pengolahan yang dapat dipelajari anggota kelompok. Diversifikasi ini diharapkan memperpanjang masa simpan bahan pangan, memperluas pilihan produk, dan meningkatkan nilai jual hasil pertanian.
Selain praktik pengolahan, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai kebersihan dan keamanan pangan, pengemasan, penetapan harga jual, serta penghitungan nilai tambah. Dengan bekal tersebut, anggota diharapkan mampu menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, menarik bagi konsumen, dan layak dipasarkan.
Anggota KWT Subur Alami antusiasi mengikuti pelatihan
Perkuat Keuangan dan Pemasaran Digital
Selain keterampilan pengolahan pangan, pelatihan juga membahas pengelolaan keuangan dan strategi pemasaran sebagai penunjang keberlanjutan usaha.
Altri Mulyani menyampaikan materi peningkatan kapasitas keuangan melalui budaya menabung dan investasi hasil panen. Materi ini membekali anggota dengan pemahaman tentang pentingnya mengelola pendapatan secara terencana, mencatat biaya produksi, serta menghitung penerimaan dan keuntungan usaha.
Selanjutnya Dindy Darmawati Putri membawakan materi optimalisasi media sosial untuk memasarkan produk olahan pangan berbasis sayuran. Pemanfaatan media digital diharapkan dapat memperluas jangkauan konsumen dan memperkenalkan produk KWT Subur Alami kepada pasar yang lebih luas.
“Media sosial dapat membantu produk menjangkau konsumen lebih luas,” ujar Dindy Darmawati Putri.
Adapun Sarno menyampaikan materi pengembangan usaha lokal melalui pengolahan pangan berbasis sayuran. Materi tersebut menekankan pentingnya mengembangkan potensi pertanian setempat menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pasar.
Siapkan Usaha Bersama yang Berkelanjutan
Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian juga menekankan penerapan cara produksi pangan yang baik untuk menjaga mutu dan keamanan produk. Anggota KWT perlu menggunakan bahan baku segar, menjaga kebersihan tempat dan peralatan, menerapkan higiene selama pengolahan, serta memilih kemasan yang sesuai.
Pelabelan produk juga perlu diperhatikan. Informasi pada label antara lain mencakup nama produk, komposisi, berat bersih, identitas produsen, dan tanggal kedaluwarsa. Pencatatan produksi serta penjualan diperlukan untuk mengevaluasi perkembangan usaha dan menghitung keuntungan secara berkala.
Ke depan, KWT Subur Alami didorong membentuk unit usaha bersama dengan pembagian tugas yang jelas, mulai dari produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Produk dapat dipasarkan melalui media sosial, toko, dan warung di sekitar wilayah setempat.
Tim pengabdian juga merekomendasikan pendampingan lanjutan untuk membantu kelompok memenuhi persyaratan keamanan pangan dan perizinan usaha, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) serta Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) sesuai ketentuan.
Melalui kegiatan pengabdian berbasis riset ini, pengolahan sayuran diharapkan berkembang menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan memperluas jangkauan pemasaran. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi anggota KWT Subur Alami. (Prasetiyo)