*Penerima BOS Kinerja
Narasumber dan peserta foto bersama.
SEMARANG, EDUKATOR — Enam SMP penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja di Kota Semarang mengembangkan penguatan literasi dan numerasi melalui digitalisasi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan kontekstual. Murid tidak hanya membaca dan mengerjakan soal, tetapi juga berpeluang menghasilkan karya digital, berdiskusi melalui platform pembelajaran, serta menerapkan numerasi dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Muhammad Ahsan, S.Ag., M.Kom., menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan kecakapan memahami kehidupan, perkembangan teknologi, dan kekayaan budaya. “Literasi bukan hanya membaca, tetapi memahami dunia,” tegasnya.
Implementasi Penguatan Literasi dan Numerasi (Litnum) tersebut berlangsung di SMP Islam Terpadu PAPB Semarang, Sabtu (17/10/2026). Enam sekolah yang terlibat terdiri SMP Bale Keselamatan, SMP Negeri 15 Semarang, SMP IT PAPB, SMP Kanisius, SMP Ksatrian 1, dan SMP PGRI 1.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari bimbingan teknis (bimtek) sebelumnya, dengan SMP Bale Keselamatan sebagai penanggung jawab.
Suasana kegiatan
Digitalisasi Berpadu dengan Literasi Budaya
Dalam arahannya, Ahsan mengajak para guru mengkaji kembali naskah-naskah manuskrip Jawa kuno yang selama ini jarang mendapat perhatian. Menurutnya, kekayaan literasi lokal perlu dikenalkan kepada murid agar mereka mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budaya.
Digitalisasi pendidikan, karena itu, tidak cukup hanya memindahkan bahan bacaan ke layar perangkat. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperluas akses belajar sekaligus memperkenalkan pengetahuan dan budaya kepada generasi muda.
Enam Sekolah Pamerkan Inovasi Pembelajaran
Pada sesi simulasi dan pemaparan praktik baik, para guru menunjukkan beragam inovasi untuk memperkuat literasi dan numerasi. Pengembangan kegiatan tidak lagi terbatas pada pojok baca atau aktivitas membaca konvensional.
Pemanfaatan Learning Management System (LMS) juga menjadi pilihan. Melalui platform tersebut, guru mengunggah bahan bacaan bermakna, soal numerasi kontekstual, dan forum diskusi literasi.
Selain itu, website sekolah dimanfaatkan untuk menampilkan karya murid, seperti cerita pendek, resensi buku, dan artikel numerasi. Inovasi lainnya mencakup podcast literasi, video numerasi berbasis lingkungan, serta kelas digital yang mengangkat manuskrip Jawa.
Berbagai praktik tersebut membuka peluang bagi murid untuk tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga menghasilkan karya dan menyampaikan gagasan melalui media digital. Dengan pendekatan ini, penguatan literasi dan numerasi diharapkan semakin dekat dengan minat serta kehidupan sehari-hari murid.
Program Berbasis Data Asesmen
Fasilitator Daerah (Fasda) Litnum Kota Semarang, Tukijo, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya penguatan literasi secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup penyediaan lingkungan yang kaya literasi, penguatan sosial-afektif, serta peningkatan kemampuan akademik.
Tukijo, S.Pd, M.Pd sedang memaparkan materi
“Penguatan literasi harus holistik, mencakup aspek fisik, sosial-afektif, dan akademik,” jelas Tukijo.
Ia mengaitkan pendekatan tersebut dengan konsep Bersekolah Aman Nyaman (BSAN), yang menempatkan lingkungan belajar aman dan nyaman sebagai bagian penting dalam mendukung perkembangan murid.
Setiap sekolah terlebih dahulu menentukan topik praktik baik berdasarkan analisis data Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Dengan pendekatan ini, program yang dijalankan diharapkan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing sekolah, bukan sekadar mengikuti tren digitalisasi.
Literasi Numerasi Menjadi Budaya Sekolah
Kegiatan berlangsung dalam suasana antusias dan kolaboratif. Para guru aktif berdiskusi, mencatat materi, serta bertukar pengalaman mengenai penerapan program di sekolah masing-masing.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengembangkan ekosistem literasi dan numerasi. Penguatan Litnum diharapkan tidak berhenti sebagai pemenuhan program BOS Kinerja, tetapi tumbuh menjadi budaya sekolah.
Melalui integrasi teknologi, pembelajaran berbasis data, dan pengenalan budaya lokal, sekolah diharapkan mampu mendorong murid gemar membaca, terampil bernalar, mampu memecahkan masalah, serta bijak memanfaatkan teknologi. (Prasetiyo)