FPIK Unsoed Kembangkan Budidaya Lobster Air Tawar Berbasis RAS

Bagikan :

*Manfaatkan Air Pegunungan di Pokdakan Barokah Desa Kutasari

BANYUMAS, EDUKATOR–Potensi air pegunungan di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, dimanfaatkan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) untuk mengembangkan budidaya lobster air tawar. Teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS) diperkenalkan agar kualitas air terjaga dan penggunaannya lebih efisien.

Upaya tersebut dilakukan tim dosen FPIK Unsoed melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Barokah di Desa Kutasari, Rabu (2/9/2026). Kegiatan itu mengusung tema “Penerapan Sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) Berbasis Sumber Air Pegunungan untuk Budidaya Lobster Air Tawar Berkelanjutan di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas”.

Tim dosen yang terlibat terdiri atas Abdul Malik Firdaus, S.Kel., M.I.L., Dr. Dyahruri Sanjayasari, S.Pt., M.Si., dan apt. Eva Dania Kosasih, M.Si.

Potensi Air Pegunungan Jadi Modal Budidaya
Air yang mengalir dari kawasan kaki Gunung Slamet selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutasari. Potensi tersebut kemudian dilihat sebagai peluang untuk mendukung pengembangan usaha budidaya lobster air tawar.

Lobster air tawar dinilai memiliki prospek ekonomi karena dapat dibudidayakan pada skala rumah tangga maupun kelompok. Namun, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh kolam dan pakan.

Kualitas air menjadi salah satu faktor penting. Suhu, pH, oksigen terlarut, hingga kandungan amonia harus diperhatikan agar lobster dapat tumbuh dengan baik.

Kondisi tersebut menjadi alasan tim FPIK Unsoed memperkenalkan sistem RAS. Dalam sistem ini, air dari kolam budidaya disirkulasikan kembali setelah melalui proses penyaringan.

Dengan demikian, penggunaan air dapat menjadi lebih efisien. Sistem tersebut juga diharapkan membantu pembudidaya menjaga kualitas air tanpa harus terus-menerus mengganti air kolam.

Abdul Malik Firdaus menegaskan, teknologi bukan menjadi tujuan utama kegiatan tersebut.

“Teknologi itu hanya alat. Masyarakat harus mampu mengelolanya,” katanya.

Tim FPIK Unsoed tidak hanya membawa teknologi dari kampus. Mereka juga melihat secara langsung pola budidaya yang dilakukan masyarakat dan mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi pembudidaya.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi desa. Dengan begitu, potensi sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang lebih menjanjikan.

Praktisi Lobster Berbagi Pengalaman
Untuk memperkaya pembelajaran, kegiatan tersebut juga menghadirkan Agus Wahyono, praktisi sekaligus pengusaha lobster air tawar di Banyumas.

Agus membagikan pengalaman selama menjalankan usaha budidaya lobster air tawar. Berbagai persoalan di lapangan, teknik pemeliharaan, hingga peluang pasar menjadi bahan diskusi bersama pembudidaya.

Diskusi berlangsung dua arah. Para pembudidaya dapat menyampaikan pengalaman sekaligus bertanya langsung mengenai persoalan yang mereka hadapi.

Berbagai hal praktis menjadi pembahasan, mulai dari pengelolaan air, pemeliharaan lobster, hingga upaya menjaga keberlanjutan usaha agar tetap menghasilkan.

Pertemuan antara dosen, praktisi, dan pembudidaya menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Pengetahuan akademik dari perguruan tinggi dipadukan dengan pengalaman praktis di lapangan.

Pendampingan Diharapkan Berlanjut
Tim FPIK Unsoed berharap kegiatan pengabdian tersebut tidak berhenti setelah pelaksanaan program selesai. Pendampingan diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat agar terus belajar dan mengembangkan usaha secara mandiri.

Pokdakan Barokah diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas dan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan keterampilan budidaya. Selain itu, kelompok diharapkan mampu menjaga kualitas lingkungan pemeliharaan dan mengembangkan lobster air tawar sebagai salah satu sumber pendapatan.

Bagi Unsoed, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat. Kontribusi kampus tidak selalu harus diwujudkan melalui teori yang panjang atau teknologi yang rumit.

Kehadiran perguruan tinggi dapat dimulai dari langkah sederhana. Yakni datang langsung ke desa, memahami persoalan masyarakat, berdiskusi, dan mencari solusi bersama.

Melalui kegiatan di Kutasari, potensi air pegunungan dipadukan dengan inovasi budidaya lobster air tawar berbasis RAS. Harapannya, kualitas budidaya semakin baik, pembudidaya semakin mandiri, dan potensi desa mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Prasetiyo)

 

 

 

 

 

 

 

 

BERITA TERKINI

WhatsApp Image 2026-09-03 at 10.08
Marching Band MTs Negeri Banyumas Siap Ramaikan ETK Kwarda Jateng
tacb
Banjarnegara Segera Ajukan Dua Cagar Budaya Nasional
FULAD6
Pintu Belakang Istana
WhatsApp Image 2026-09-02 at 15.38
Mahasiswa Teknik Sipil Unsoed Juara 4 Asian Bridge Competition 2026 di Jepang
Gemini_Generated_Image_xduroxduroxdurox
Guru PPPK Bisa Ikut Seleksi CPNS Mulai 2027