
Oleh: Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos, M.Si
Mantan Penasihat Militer RI untuk PBB (2017–2019)
SAUDARA-saudara sebangsa dan setanah air, izinkan saya berbicara terus terang. Bukan sebagai seorang jenderal yang ingin menggurui, melainkan sebagai orang yang pernah berada di ruang pengambilan keputusan dan menyaksikan bagaimana perang dan diplomasi sering kali lebih berorientasi pada pencitraan daripada penyelamatan nyawa.
Kita mendengar kabar gembira: gencatan senjata diperpanjang. Presiden Trump menyebutnya sebagai “langkah menuju perdamaian”. Media besar menyiarkan seolah konflik segera berakhir. Namun, saya mengingatkan: jangan terburu-buru percaya.
Gencatan senjata sepihak ini bukan solusi, melainkan jalan keluar yang lahir dari tekanan. Di saat dunia merespons positif, Iran justru memainkan strategi berbeda, dengan Pakistan sebagai perantara dan Rusia sebagai tujuan utama.
Saya akan menjelaskan secara berurutan berdasarkan data terbuka yang dapat diakses sebagai pengamat kawasan.
Kebingungan Strategi
Gencatan senjata yang diperpanjang tanpa kejelasan waktu menunjukkan ketidakkonsistenan kebijakan. Pernyataan yang berubah-ubah mencerminkan kebingungan strategi. Hal ini bukan sekadar asumsi, tetapi dapat dilihat dari kondisi logistik.
Laporan Bloomberg pada 23 April 2026 menyebutkan persediaan amunisi darat Amerika Serikat hanya cukup untuk 14 hingga 21 hari dalam perang intensitas tinggi. Kondisi ini dikenal sebagai “darurat amunisi diam-diam”.
Artinya, secara logistik, Amerika Serikat belum siap untuk konflik jangka panjang. Perang di Ukraina telah menguras cadangan NATO, sementara Iran masih memiliki kapasitas produksi dan persenjataan yang signifikan.
Dalam konteks ini, gencatan senjata menjadi jalan keluar untuk menjaga citra, bukan hasil dari posisi yang kuat. Dalam istilah militer, ini disebut off-ramp. Tidak salah mengambil jalan keluar, tetapi keliru jika dibungkus sebagai kemenangan.
Dinamika Diplomasi
Di sisi lain, dinamika diplomasi menunjukkan pola berbeda. Pertemuan yang direncanakan di Islamabad antara utusan Amerika Serikat dan Iran tidak terjadi. Iran menolak bertemu langsung dan memilih menyampaikan pesan melalui Pakistan.
Langkah ini bukan sekadar strategi, melainkan sinyal politik. Iran menyampaikan tuntutan, antara lain pencabutan blokade, kompensasi, dan jaminan keamanan. Menariknya, isu nuklir tidak dimasukkan dalam pembahasan tersebut.
Situasi ini menunjukkan tidak adanya titik temu. Gencatan senjata tetap berjalan, tetapi tanpa kemajuan berarti dalam negosiasi.
Perkembangan berikutnya justru mengarah ke Moskow. Menteri Luar Negeri Iran bertemu Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas konflik yang masih berlangsung.
Pilihan ini menunjukkan arah diplomasi Iran. Rusia menjadi mitra strategis yang menyediakan dukungan intelijen, teknologi, dan kepentingan geopolitik yang sejalan.
Di tengah kondisi tersebut, situasi global berada dalam kebuntuan. Gencatan senjata masih bertahan, tetapi tanpa solusi. Jalur diplomasi tidak menunjukkan perkembangan, sementara blokade dan ketegangan tetap berlangsung.
Jika kondisi ini berlanjut, ada beberapa kemungkinan. Pertama, kebuntuan berkepanjangan dengan gencatan senjata yang terus diperpanjang tanpa hasil nyata. Kedua, eskalasi konflik jika salah satu pihak mengambil langkah militer. Ketiga, peluang kecil terjadinya terobosan diplomasi melalui pihak ketiga.
Ketidakstablian Global
Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan konflik. Kenaikan harga energi, tekanan ekonomi, dan ketidakstabilan global juga dirasakan negara lain, termasuk Indonesia.
Saat ini, posisi Indonesia masih sebagai pengamat. Namun, dampak ekonomi mulai terasa dan berpotensi semakin besar jika situasi tidak berubah.
Kita perlu memahami bahwa kebuntuan bukanlah perdamaian. Jeda konflik bukan berarti kemenangan. Tanpa kesiapan dan antisipasi, dampak konflik dapat dirasakan meski tidak terlibat langsung.
Kesimpulannya, gencatan senjata saat ini belum mencerminkan solusi nyata. Diplomasi masih berjalan tanpa arah jelas, sementara kekuatan global memainkan peran masing-masing.
Perang modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh intelijen, logistik, dan aliansi. Dalam kondisi ini, keseimbangan kekuatan menjadi faktor utama yang menentukan arah konflik ke depan.
Jakarta, 27 April 2026