*Murid Tidak Membutuhkan Guru yang Sempurna

BOYOLALI, EDUKATOR–Murid tidak membutuhkan guru yang sempurna, tetapi membutuhkan guru pembahagia yang mampu menumbuhkan kecintaan belajar, kreativitas, serta semangat untuk terus tumbuh dan berkembang sesuai potensinya.
Filosofi itulah yang diyakini mampu melahirkan generasi berprestasi hingga tingkat dunia, seperti yang ditunjukkan Ibrahim Al Abrar, murid kelas VI SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali. Ibrahim menerima Letter of Recognition atau surat penghargaan resmi tertanggal 9 Juli 2026 dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa milik Pemerintah Amerika Serikat.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua PGRI Jawa Tengah, Dr. Hj. Sri Suciati, M.Hum., saat membuka Konferensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) II PGRI Kabupaten Boyolali di Gedung PGRI Boyolali, Rabu (22/7/2026).
Perwakilan Ranting PGRI Boyolali secara simbolis menerima Surat Keputusan (SK) Kepengurusan PGRI Ranting.
Konkerkab II PGRI Kabupaten Boyolali diikuti sekitar 200 peserta, terdiri Ketua PGRI Kabupaten Boyolali, Wahyudi, S.Pd beserta jajaran pengurus, utusan PGRI Provinsi Jawa Tengah, perwakilan pengurus cabang, cabang khusus (cabsus), ranting, perangkat organisasi, YPLP, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jawa Tengah, Kementerian Agama, serta tamu undangan.
Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali Dwi Hari Kuncoro, S.STP., M.Si.
Sri Suciati mengatakan, keberhasilan murid lahir dari kolaborasi guru, orang tua, dan lingkungan belajar yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu, kreativitas, serta keberanian untuk terus belajar.
Sri Suciati mengapresiasi prestasi Ibrahim Al Abrar yang memperoleh penghargaan daru NASA atas kontribusinya membantu meningkatkan keamanan sistem digital lembaga tersebut.
Penghargaan itu diberikan setelah Ibrahim berhasil menemukan dan melaporkan kerentanan keamanan (security vulnerability) pada salah satu sistem publik NASA melalui mekanisme resmi Vulnerability Disclosure Policy (VDP). Laporan yang dinyatakan valid tersebut membantu NASA menutup celah keamanan pada sistemnya.
“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya capaian Ibrahim. Kisah Ibrahim menunjukkan bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan pembimbing yang mampu membangun karakter, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kepercayaan diri murid untuk terus berkembangsesuai potensinya,” ujar Sri Suciati.
Prestasi Dunia Berawal dari Rasa Ingin Tahu
Sri Suciati menilai keberhasilan Ibrahim menjadi bukti bahwa murid Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional apabila memperoleh pendampingan yang tepat dari guru dan keluarga.
Ibrahim mulai mempelajari pemrograman (coding) dan keamanan siber (cybersecurity) secara otodidak. Ia belajar melalui internet, YouTube, buku, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai sumber belajar.
Setelah beberapa kali gagal mengirim laporan, temuannya mengenai kerentanan broken link hijacking (celah keamanan siber) akhirnya dinyatakan valid oleh NASA. Atas kontribusinya tersebut, NASA memberikan penghargaan atas kepeduliannya dalam meningkatkan keamanan sistem digital.
Guru Bermutu Tak Tergantikan AI
Dalam kesempatan itu, Sri Suciati mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI merupakan keniscayaan yang harus dihadapi dunia pendidikan. Karena itu, guru tidak perlu takut menghadapi perubahan tersebut.
Menurut mantan Rektor Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) itu, teknologi hanya menjadi sumber belajar, sedangkan peran guru dalam mendidik manusia tidak akan pernah tergantikan.
“Perkembangan teknologi dan AI adalah keniscayaan. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi guru bermutu memiliki high tech dan high touch, kreativitas, hati nurani, serta empati yang tidak bisa digantikan,” katanya.
Ia mengibaratkan guru sebagai seorang pecinta tanaman yang memahami kebutuhan setiap tanaman agar tumbuh dengan baik. Demikian pula seorang guru harus memahami karakter dan potensi setiap murid agar berkembang secara optimal sesuai bakatnya.
Sementara pada kesempatan tersebut diserahkan secara simbolis Surat Keputusan (SK) Kepengurusan PGRI Ranting. Saat ini terdapat 273 ranting PGRI di Kabupaten Boyolali yang seluruhnya telah menerima SK kepengurusan sebagai bagian dari penguatan organisasi hingga tingkat akar rumput. (Purwanto/Prs)