
Ilustrasi AI
PURWOKERTO, EDUKATOR – Kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit menjadi salah satu pemicu inflasi di Purwokerto dan Cilacap selama Oktober 2026. Meski demikian, inflasi di kedua wilayah tersebut masih terkendali. Untuk menjaga harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya memperkuat pasokan pangan, memperlancar distribusi, serta menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM).
Keterangan yang berhasil dihimpun EDUKATOR, Rabu (4/11/2026) menyebutkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas, Purwokerto pada Oktober 2026 mengalami inflasi sebesar 0,16 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat 3,00 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) mencapai 2,26 persen.
Sementara itu, Cilacap mencatat inflasi bulanan sebesar 0,19 persen, inflasi tahunan 2,88 persen, dan inflasi tahun kalender 2,20 persen.
Cabai Merah Paling Besar Dorong Inflasi
Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi di kedua wilayah. Di Purwokerto, cabai merah memberikan andil inflasi sebesar 0,05 persen, disusul cabai rawit 0,04 persen, sigaret kretek mesin (SKM) 0,03 persen, kacang panjang 0,03 persen, dan buncis 0,02 persen.
Di Cilacap, cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,14 persen. Komoditas lainnya adalah cabai rawit sebesar 0,03 persen, kacang panjang 0,03 persen, labu siam 0,03 persen, dan beras 0,03 persen.
Kenaikan harga hortikultura tersebut dipengaruhi penurunan produksi di sejumlah daerah sentra yang berdampak pada berkurangnya pasokan. Selain itu, penyesuaian harga jual rokok secara bertahap di tingkat konsumen turut mendorong inflasi di Purwokerto.
Namun, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Sejumlah bahan pangan justru mengalami penurunan sehingga memberikan andil deflasi.
Di Purwokerto, komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, semangka, dan nangka muda. Sementara itu, di Cilacap, penurunan harga terjadi pada daging ayam ras, telur ayam ras, udang basah, semangka, dan ikan kembung.
Enam Kali Gerakan Pangan Murah di Banyumas
Untuk menjaga keterjangkauan harga, TPID Banyumas Raya memperkuat empat strategi pengendalian inflasi, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta komunikasi yang efektif.
Salah satu langkahnya melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 13 Oktober di Desa Sawangan, Kecamatan Ajibarang, bersamaan dengan pembukaan TMMD Sengkuyung Tahap IV.
Selain itu, program SARAH SIMAS digelar pada 20, 21, 22, 27, 28, dan 29 Oktober di Kabupaten Banyumas. GPM serentak juga dilaksanakan di Wangon pada 21 Oktober dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia.
Berbagai kegiatan tersebut bertujuan mendekatkan akses masyarakat terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau sekaligus membantu menjaga daya beli.
Dari sisi ketersediaan pasokan, TPID mendorong peningkatan kapasitas produksi melalui pelatihan hilirisasi komoditas cabai pada 14–15 Oktober. Kegiatan ini menyasar klaster cabai, pondok pesantren, dan kelompok tani binaan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.
Pendampingan kepada petani juga dilakukan guna meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan produksi komoditas pangan.
Distribusi dan Koordinasi Terus Diperkuat
Untuk memperlancar distribusi, TPID Banyumas Raya menyelenggarakan Toko Tani setiap minggu. Program ini diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi dengan menghubungkan petani secara langsung kepada konsumen sehingga pemasaran lebih efisien.
Sementara itu, penguatan komunikasi dilakukan melalui rapat koordinasi mingguan yang melibatkan TPID, pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani. Komunikasi melalui media massa juga terus dilakukan untuk menyampaikan informasi mengenai perkembangan harga dan langkah pengendalian inflasi kepada masyarakat.
Sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, petani, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga serta ketersediaan kebutuhan pokok.
Melalui penguatan koordinasi dan konsistensi pelaksanaan program tersebut, TPID Banyumas Raya berharap inflasi tetap terkendali, ketahanan pangan semakin kuat, dan daya beli masyarakat tetap terjaga. (Budi Yuswinanto/Prs)