Jempol Makin Lincah, Bahasa Makin Kehilangan Arah

Bagikan :

Oleh: Akhmad Fauzi, S.S.,S.Pd., C.PIM
Pemerhati Pendidikan
Guru SMP Negeri 2 Kutasari, Purbalingga

PAGI-pagi, sebelum sempat menyapa orang-orang di rumah, tangan kita sudah lebih dahulu meraih HP. Notifikasi diperiksa, pesan dibuka, dan media sosial ditelusuri. Saat makan, makanan belum tentu langsung dinikmati sebelum difoto. Ketika berkumpul bersama keluarga, tubuh memang duduk berdekatan, tetapi perhatian justru sibuk menjelajahi dunia yang jauh di balik layar.

Pemandangan seperti ini bukan lagi sesuatu yang asing. HP telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Perangkat kecil itu menemani belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan membangun pertemanan.

Namun, di balik segala kemudahannya, ada perubahan yang patut kita renungkan. Ketika jempol semakin lincah memainkan layar, apakah kemampuan kita berbahasa dan berinteraksi dengan sesama juga berkembang ke arah yang lebih baik?

Ketika Bahasa Digital Terbawa ke Dunia Nyata
Kita semakin terbiasa menggunakan singkatan, bahasa gaul, dan ungkapan yang sedang viral. Kebiasaan itu bukan masalah selama digunakan sesuai konteks. Persoalan muncul ketika bahasa di dunia digital terbawa begitu saja ke kehidupan nyata, termasuk dalam situasi yang menuntut kesantunan, keseriusan, dan penghormatan kepada orang lain.

Bahasa bukan sekadar kumpulan kata untuk menyampaikan pesan. Di dalamnya terdapat cara berpikir, sikap, dan penghargaan kita terhadap orang lain. Kata-kata yang kita pilih dapat membuat seseorang merasa dihargai, tetapi juga dapat melukai perasaan tanpa kita sadari.

Di media sosial, kita mudah menemukan komentar kasar, ejekan, sindiran, dan ungkapan yang merendahkan orang lain. Sebagian dianggap lucu, sebagian lagi dipandang wajar karena banyak digunakan. Ketika kata-kata semacam itu terus diulang dan mendapat banyak perhatian, kita berisiko menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Lambat laun, batas antara bercanda dan menghina menjadi kabur. Kata-kata yang semula hanya ditulis di kolom komentar mulai digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kita mungkin tertawa ketika melihat seseorang menjadi sasaran olok-olok di layar, tetapi lupa bahwa di balik akun tersebut ada manusia yang memiliki perasaan.

Inilah salah satu tantangan dalam kehidupan digital. Kita dapat melihat wajah seseorang melalui layar, tetapi belum tentu memahami perasaannya. Kita dapat menyampaikan pendapat dalam hitungan detik, tetapi sering kali tidak menyediakan waktu untuk memikirkan akibatnya.

Jempol Pun Bisa Menjadi Harimau
Pepatah mulutmu harimaumu tetap relevan, bahkan semakin penting di era digital. Kini, jempol pun memiliki tanggung jawab yang sama dengan mulut. Satu komentar dapat meninggalkan luka, satu unggahan dapat menyebarkan penghinaan, dan satu pesan dapat merusak hubungan yang telah lama terjalin.

Karena itu, kemampuan berbahasa tidak cukup diukur dari banyaknya kosakata atau kelancaran berbicara. Kesantunan, kemampuan memahami perasaan orang lain, serta kecakapan menempatkan kata sesuai situasi juga merupakan bagian penting dari kematangan berbahasa.

Kita perlu menyadari bahwa kebebasan berpendapat bukan berarti bebas mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kritik boleh disampaikan dengan tegas, tetapi tidak harus disertai penghinaan. Humor boleh mengundang tawa, tetapi tidak semestinya menjadikan orang lain sebagai sasaran untuk direndahkan.

Bukan HP yang Salah, Melainkan Cara Menggunakannya
Menyalahkan HP bukanlah jawaban yang tepat. Teknologi tidak serta-merta membuat seseorang menjadi kasar, malas berpikir, atau kehilangan empati. HP justru membuka kesempatan luas untuk belajar bahasa asing, membaca buku digital, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, berkarya, dan berkomunikasi dengan orang-orang yang tinggal jauh dari kita.

Masalahnya terletak pada bagaimana teknologi digunakan dan kebiasaan apa yang tumbuh dari penggunaannya.

Ketika HP hanya digunakan untuk mengikuti tren tanpa mempertimbangkan manfaatnya, waktu dan perhatian kita mudah tersita. Sebaliknya, ketika digunakan untuk mencari pengetahuan, melatih keterampilan, dan menghasilkan karya, HP dapat menjadi sarana pengembangan diri yang luar biasa.

Hal serupa berlaku dalam penggunaan bahasa. Mengikuti tren bahasa gaul tidak berarti kehilangan kesantunan. Kita tetap dapat berbicara dengan gaya santai, humoris, dan akrab tanpa merendahkan orang lain. Kita juga dapat menyampaikan kritik dengan tegas tanpa harus menghina.

Yang diperlukan adalah kemampuan mengendalikan diri. Tidak semua konten harus ditonton, tidak semua komentar harus dibalas, dan tidak semua tren harus diikuti. Kebebasan menggunakan teknologi perlu disertai kesadaran untuk memilih.

Menjadi pengguna digital yang cerdas bukan berarti harus selalu serius atau menjauhi hiburan. Artinya, kita mampu membedakan kapan waktunya bersantai, kapan waktunya belajar, dan kapan harus meletakkan HP untuk memberikan perhatian kepada orang-orang di sekitar.

Lima Langkah Menjadi Pengguna Digital yang Bijak
Membangun kebiasaan digital yang sehat tidak selalu membutuhkan langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertama, mengatur waktu penggunaan HP. Tentukan waktu untuk belajar, beristirahat, berkomunikasi, dan menikmati hiburan. Jangan biarkan setiap notifikasi menentukan apa yang harus kita lakukan. Kitalah yang seharusnya mengatur penggunaan HP, bukan sebaliknya.

Kedua, menciptakan ruang bebas HP. Saat belajar, makan bersama keluarga, atau berbincang dengan teman, cobalah menyimpan HP sejenak. Percakapan langsung memberi kesempatan kepada kita untuk belajar mendengarkan, membaca ekspresi, memahami perasaan, dan menghargai kehadiran orang lain.

Ketiga, memilih konten dengan bijak. Jangan hanya mengikuti sesuatu karena sedang viral. Pilih konten yang memperkaya pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan mendorong kebiasaan positif. Jika sebuah konten menjadikan penghinaan sebagai hiburan atau menyebarkan kebencian, kita tidak harus ikut menyebarkannya.

Keempat, berpikir sebelum mengunggah atau berkomentar. Luangkan waktu untuk memeriksa apakah kata-kata yang kita tulis benar, perlu, dan pantas disampaikan. Jika sebuah kalimat akan terasa menyakitkan ketika diucapkan langsung kepada seseorang, kita patut mempertimbangkan kembali penggunaannya di ruang digital.

Kelima, terus melatih kemampuan berbahasa melalui interaksi nyata. Membaca buku, menulis, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan mendengarkan orang lain merupakan latihan yang tidak boleh ditinggalkan. Bahasa yang baik tidak tumbuh hanya dari kebiasaan mengetik, tetapi juga dari proses berpikir dan pengalaman berkomunikasi.

Keluarga dan Sekolah Harus Menjadi Teladan
Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan tersebut. Orang dewasa tidak cukup hanya melarang atau membatasi penggunaan HP. Mereka juga perlu memberi teladan dalam berkomunikasi, mendampingi anak memilih konten, serta menciptakan ruang diskusi tentang etika digital.

Nasihat akan lebih bermakna ketika disertai contoh nyata. Anak-anak perlu melihat bagaimana orang dewasa menyampaikan pendapat dengan santun, menghargai perbedaan, mengendalikan emosi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Di sekolah, pembelajaran bahasa juga perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk berlatih berkomunikasi secara santun, berdiskusi, menyampaikan kritik, dan menghargai pendapat orang lain. Dengan demikian, keterampilan berbahasa tidak berhenti pada kemampuan memahami tata bahasa, tetapi juga membentuk karakter.

Jangan Biarkan Kecanggihan Mengalahkan Kemanusiaan
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan kematangan manusia. Kita boleh semakin cepat mengakses informasi, semakin mudah berkomunikasi, dan semakin kreatif menghasilkan karya. Namun, semua itu akan kehilangan makna apabila kita justru semakin sulit menghargai orang lain melalui kata-kata.

HP yang berada di tangan kita menyimpan dua kemungkinan. Perangkat itu dapat menjadi jendela untuk melihat dunia, memperluas pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan diri. Namun, tanpa kendali, HP juga dapat menyita perhatian, membentuk kebiasaan yang kurang sehat, dan membuat kita mengabaikan nilai-nilai kesantunan.

Jangan sampai kita begitu sibuk membangun citra di media sosial hingga lupa membangun karakter dalam kehidupan nyata. Jangan sampai kita hafal ungkapan yang sedang viral, tetapi kesulitan menyampaikan pendapat dengan santun. Jangan pula sampai kita memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi kehilangan kemampuan untuk hadir sepenuhnya bagi orang-orang di sekitar.

Teknologi boleh terus berkembang, tetapi kemanusiaan tidak boleh tertinggal. Sebab, kecerdasan bukan hanya tentang seberapa cepat kita menemukan informasi, melainkan juga tentang bagaimana kita menggunakannya. Keterampilan berbahasa bukan hanya tentang seberapa lincah jempol mengetik, melainkan juga tentang seberapa bijaksana kita memilih kata.

Pada akhirnya, kualitas diri tidak ditentukan oleh HP apa yang kita genggam atau seberapa lama kita menatap layarnya, tetapi oleh apa yang kita pelajari, bagaimana kita bersikap, dan kata-kata apa yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang lain.(*)

 

 

 

BERITA TERKINI

Screenshot 2026-10-13 032458
Sekolah Aman Dimulai dari Anak Yang Merasa Diterima
FAUZI PAKAIAN JAWA
Jempol Makin Lincah, Bahasa Makin Kehilangan Arah
Screenshot 2026-10-13 033702
SDIT Permata Hati Borong Dua Kemenangan Liga Basket Perbasi Banjarnegara
Screenshot 2026-10-13 030238
Aribah dari SMPN 1 Bobotsari Raih Juara 2 "Maca Geguritan" FTBI Jateng
WhatsApp Image 2026-10-11 at 19.27
Saka Milenial Banjarnegara Siap Gencarkan Literasi Digital