
Ilustrasi AI.
PURWOKERTO, EDUKATOR – Kenaikan harga daging ayam ras menjadi pendorong utama inflasi di Purwokerto dan Cilacap selama Agustus 2026. Kenaikan tersebut terjadi seiring meningkatnya permintaan pada momentum Hari Kemerdekaan dan peringatan Maulid Nabi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Aswin Gantina, mengatakan kenaikan harga ayam juga dipengaruhi meningkatnya biaya produksi peternak. “Biaya produksi meningkat seiring naiknya harga pakan,” ujarnya kepada wartawan di Purwokerto, Rabu (2/9/2026).
Inflasi merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan dalam periode tertentu. Kondisi tersebut membuat daya beli uang masyarakat menurun. Misalnya, uang Rp100.000 yang sebelumnya dapat membeli lebih banyak kebutuhan, menjadi hanya mampu membeli lebih sedikit ketika harga-harga meningkat.
Hortikultura Dan Emas Ikut Tekan Inflasi
Selain daging ayam ras, tekanan inflasi juga berasal dari komoditas hortikultura, terutama cabai rawit, buncis, dan kacang panjang. Kenaikan harga komoditas tersebut dipengaruhi penurunan produksi di sejumlah daerah sentra.
Harga emas perhiasan turut memberikan tekanan seiring meningkatnya permintaan domestik dan kenaikan harga emas global. Namun, tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga bawang merah, bawang putih, bensin, dan telur ayam ras.
Inflasi Masih Dalam Sasaran Nasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Purwokerto pada Agustus 2026 mengalami inflasi bulanan sebesar 0,39 persen dibandingkan Juli 2026. Sementara secara tahunan, inflasi Purwokerto mencapai 3,15 persen dibandingkan Agustus 2025.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang mengalami penurunan harga secara umum atau deflasi sebesar 0,05 persen. Pada Juli 2026, inflasi Purwokerto secara tahunan tercatat 2,66 persen dibandingkan Juli 2025.
Sementara itu, Cilacap mengalami inflasi bulanan sebesar 0,50 persen dibandingkan Juli 2026. Secara tahunan, inflasi Cilacap mencapai 3,08 persen dibandingkan Agustus 2025.
Pada Juli 2026, Cilacap mengalami deflasi 0,06 persen. Sementara secara tahunan, inflasi Cilacap tercatat 2,44 persen dibandingkan Juli 2025.
Meski meningkat, inflasi Purwokerto dan Cilacap masih berada dalam sasaran nasional 2,5 persen dengan toleransi 1 persen. Dengan demikian, kisaran sasaran inflasi berada antara 1,5 hingga 3,5 persen.
Gerakan Pangan Murah Terus Diperkuat
Pengendalian inflasi terus dilakukan melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah wilayah Banyumas.
GPM dilaksanakan antara lain di Desa Mandirancan, Kecamatan Kebasen; Desa Banjarsari, Kecamatan Ajibarang; Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok; Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang; dan Desa Kutaliman, Kecamatan Kedungbanteng.
Selain GPM, dilakukan pendampingan kepada petani cabai untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Pengendalian inflasi, lanjutnya, terus diperkuat melalui sinergi dengan Toko Tani mingguan. Hal ini untuk memperpendek jalur distribusi pangan. Juga rapat koordinasi mingguan digelar bersama pedagang besar, asosiasi, dan kelompok tani.
Komunikasi melalui media massa juga turut diperkuat untuk menjaga ekspektasi masyarakat, sekaligus memperluas publikasi berbagai upaya pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
TPID Perkuat Strategi Pengendalian 4K
Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat pengendalian inflasi melalui GPIPS dengan strategi 4K.Yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga, mempertahankan daya beli masyarakat, serta memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran nasional. (Budi Yuswinanto/Prs)